MANAGED BY:
MINGGU
15 DESEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Jumat, 25 Oktober 2019 18:17
Tangisan Bu Susi
DIRINDUKAN: Penulis (paling kiri) menemani Bu Susi Pudjiastuti, mengunjungi penampungan lobster milik Pak Doni (baju garis-garis) di Tanjung Batu, beberapa tahun lalu.

PROKAL.CO, WANITA kuat dan pemberani itu menangis. Pada acara pisah sambut di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Susi Pudjiastuti tak lagi menjabat sebagai Menteri Perikanan dan Kelautan. Ia digantikan oleh Edhy Prabowo, politisi asal Partai Gerindra.

Luluh juga. Padahal Bu Susi dikenal salah seorang menteri yang hebat. Selama ia menjabat, ratusan kapal illegal fishing hasil tangkapan petugas, langsung ia tenggelamkan. Kata ‘Tenggelamkan’ sangat populer dan identik dengan Bu Susi.

Di pintu masuk kantor Kementerian, kita bisa melihat baliho besar dengan tulisan besar ‘Tenggelamkan’.

Banyak yang memberikan pujian atas keberaniannya. Keberanian menenggelamkan kapal yang ia anggap sebagai ‘perusak’ hasil laut. Kapal yang punya backing kuat. Bukan hanya keberanian menenggelamkan, kinerja Bu Susi juga dinilai paling tinggi di antara menteri lainnya. Bu Susi meraih nilai 91,95 penilaian kepuasan tertinggi kinerja menteri.

Pada setiap kesempatan, Bu Susi dengan rendah hati mengakui bahwa dirinya tidaklah berpendidikan tinggi. Ia hanya seorang pengusaha berpendidikan setingkat SMP. Ia juga merokok. Di kakinya ada tato. Tapi kerjanya, melebihi dari beberapa menteri yang berpendidikan lebih tinggi.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) “My Passion dalam 5 tahun” kata Bu Susi.

Banyak perubahan kontroversi karena Presiden ingin membuat terobosan. “Makanya saya terobos semua. Satu dari enam ikan Tuna dunia adalah milik Indonesia,” kata Bu Susi pada saat pisah sambut, yang dimuat media online.

Saya juga punya catatan tersendiri, ketika mendampingi Bu Susi dalam kunjungan kerja ke Kabupaten Berau. Ia naik helikopter, mendarat di lapangan bola Tanjung Batu.

Bu Susi dijadwalkan mengunjungi semua pulau-pulau terluar hingga ke Pulau Maratua. Rasanya tak lengkap bila Bu Susi tidak meninjau satu tempat yang saya yakini beliau pasti suka.

Saya tahu, beliau menggeluti bisnis udang lobster. Tak salah bila saya “belokkan” iring-iringan kendaraan melewati dan mampir di rumah Pak Doni. Pedagang dan pengumpul lobster di Tanjung Batu.

Protokoler KKP setuju. Jadilah ia mengunjungi penampungan lobster di rumah Pak Doni. Bupati yang kala itu masih Pak Makmur separuh tidak setuju. Khawatir kesorean tiba di pulau. Bu Susi terlanjur asyik. Ia bahkan memberikan petunjuk bagaimana memegang hingga menangani bisnis lobster.

Bukan main gembiranya Pak Doni. Tempatnya yang sederhana tiba-tiba dikunjungi seorang menteri. Menteri yang juga punya bisnis lobster di Pangandaran, Jawa Barat. Sama seperti Pak Doni di Tanjung Batu, Derawan.

Pak Doni juga gembira dengan saya yang berhasil membelokkan iring-iringan menteri untuk mampir di rumah Pak Doni. Sampai sekarang saya masih berteman baik dengan Pak Doni. Sekali waktu saya mampir ke tempatnya. Saat pulang saya dapat ‘sangu’ 3 ekor Lobster Mutiara yang mahal itu.

Karena Bu Susi jugalah saya jadi repot berbulan-bulan. Berada di Pulau Derawan, ia mendapat laporan dari warga soal ‘manusia perahu’. Saat itu juga ia minta agar semua dikumpulkan. Hasilnya, sebanyak 700 orang lebih manusia perahu, asal Filipina dikumpulkan di lapangan sepakbola di Tanjung Batu.

Saya dapat tugas untuk menanganinya. Perintah Pak Makmur, semua harus ditangani dengan baik. Ini persoalan kemanusiaan. Jangan sampai ada yang sakit. Jangan sampai ada yang tidak dapat makanan.

Kunjungan ke Berau, Bu Susi merasa puas. Ia sempat melepas ratusan anak penyu. Juga sempat ‘ngebut’ di landasan pacu Bandara Maratua menggunakan motor warga. Bu Susi memang luar biasa.

Bagaimanapun, ia juga seorang ibu. Ibu dari anak-anaknya. Ibu dari seluruh karyawannya di KKP. Juga jajaran Dinas Perikanan di Berau. Ia tak kuasa menahan air matanya. Ia menangis, ketika harus meninggalkan kantor yang ia tempati selama satu periode jadi menteri.

Salah satu yang ia sedihkan, ketika ia memandang orang-orang yang melayaninya. Mulai dari ajudan hingga yang setia membuatkan kopi di kantornya. Itu yang membuat Bu Susi meneteskan air matanya.

Bu Susi tak juga dipertahankan, menteri yang meraih nilai tertinggi 91,95 atas kinerjanya. (*/har)


BACA JUGA

Sabtu, 14 Desember 2019 14:36

Media Sosial bagi Anak Sekolah Menengah Pertama

ZAMAN yang semakin maju membuat teknologi semakin canggih. Banyak orang…

Jumat, 13 Desember 2019 11:11

Buah Terlarang

PULAU Praslin dan Curieuse, di Seychelles ada pohon palem eksklusif…

Kamis, 12 Desember 2019 13:59

Mole’ Ni Lahat

NENNI Marlini. Itu nama lengkapnya. Bulan Maret tahun depan, ia…

Rabu, 11 Desember 2019 14:27

Berbagi Cahaya

APAPUN yang menjadi topik pembahasan media online, juga jadi pembicaraan…

Selasa, 10 Desember 2019 10:30

Muntik Muncul Lagi

SAYA suka hari Senin. Itu sering ditulis teman saya dalam…

Senin, 09 Desember 2019 15:34

Kalimarau Sedikit Lagi

JADI ingat kalimat Pak Dahlan Iskan, pada catatan saya yang…

Senin, 09 Desember 2019 15:34

‘di Sini’ atau ‘di Sana’

SENIN (9/12) lusa, Komisi III DPRD akan mengundang instansi teknis…

Senin, 09 Desember 2019 15:30

Orang Kaya Baru

ANTREAN belasan kendaraan pikap merek Toyota Hilux menunggu di depan…

Senin, 09 Desember 2019 15:29

Parkir Yacht di Maratua

FOTO dari balik jendela yang dikirimkan Pak Agus Tantomo saat…

Senin, 09 Desember 2019 15:25

Keakraban Danny Faure

SUDAH tiga hari Wakil Bupati Berau Agus Tantomo bersama rombongan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.