MANAGED BY:
RABU
29 JANUARI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Selasa, 05 November 2019 18:23
Geisha
GEISHA: Di salah satu rumah teh (Ochaya) penulis ditemani seorang Geisha. Ia juga tampil sebagai penari dan pemain musik.

PROKAL.CO, SAYA tahunya Geisha itu salah satu kelompok musik asal Pekanbaru. Yang lagunya hits itu ‘Lumpuhkan Ingatanku’. Ternyata di Jepang juga ada Geisha. Pemilik asli ‘Geisha’ ini pastilah yang di Jepang. Bukan yang asal Pekanbaru yang terbentuk tahun 2003.

Di Jepang Geiha adalah seorang seniman yang terlatih di bidang musik, tari, dan menghibur tamu. Seorang Geisha tengah bekerja, mereka adalah ilusi kesempurnaan seorang wanita yang banyak dibayangkan pria. Menemani tamu dengan keahliannya, serta berkomunikasi.

Saya hanya tersenyum ketika seorang Geisha menemani saat acara minum teh di salah satu restoran hotel di Kyoto. Tak ada yang membawa istri. Kecuali Pak Masdjuni (almarhum), mantan Bupati Berau. Para Geisha inilah yang berperan memberikan perhatian saat pertemuan bisnis. Status mereka cukup terhormat.

Katanya, di awal-awal Geisha diperankan laki-laki, karena wanita tidak boleh menghadiri pesta. Barulah sekitar tahun 1700an muncul wanita yang menyebut dirinya Geisha. Tak sendiri, harus disewa beberapa orang sekaligus.

Butuh waktu yang lama untuk bisa menjadi Geisha. Tak kurang dari lima tahun. Saya memperhatikan ketika memegang ujung lengan baju Kimono, dan menuangkan teh. Agar kimononya tidak masuk ke cangkir.

Sesekali, Geisha memegang pundak saya usai menungkan teh. Lagi-lagi saya hanya bisa tersenyum. Saya diberitahu teman, selama menjadi seorang Geisha, ia tidak boleh menjalin hubungan dengan siapapun. Hubungan khusus.

Jika wanita tersebut ingin menikah, maka ia harus berhenti menjadi seorang Geisha.

Saya juga baru tahu, sebelum ibu kota Jepang bernama Tokyo, awalnya adalah bernama Kyoto. Hehe, tinggal dibolak-balik. Kyoto sebagai representasi Jepang masa lalu. Juga dikenal dengan nama kota Seribu Kuil.

Mengunjungi salah satu destinasi wisata, berada dalam kawasan  Jalan Hanami-Koji-Wilayah Gion, Kyoto. Di kawasan yang dipenuhi dengan rumah kayu tradisional (Madhiya) mau berbelanja souvenir.

Yang saya cari kain Kimono serta kain Lurik. Kain Lurik Jepang lebih tebal dengan banyak corak warna. Beda sedikit dengan kain lurik yang ditawarkan di Jogjakarta.

Setelah mengelilingi Kuil Fushimi Inari. Kuil ini menjadi salah satu land mark yang paling terkenal di Kyoto. Kuil yang terkenal dari 32 ribu kuil yang ada di Jepang.

Menikmati jalan kaki di trotoar dengan udara sejuk. Banyak wisatawan yang berjalan kaki menuju Kuil Fushimi Inari.

Dalam berjalan kaki itu, sesekali bertemu dengan Geisha (modern). Tak ada yang berjalan seorang diri.

Saya juga jadi heran, kenapa tak ada yang melakukan foto bareng. Atau sekedar moto diam-diam. Ternyata ada aturan yang tidak membolehkan mengambil gambar. Kalau juga ingin foto dan Geisha yang jalan kaki masuk dalam frame, harus dilakukan saat masih dalam jarak yang berjauhan.

Menggunakan kimono dengan hiasan tebal berwarna putih. Juga dengan sepatu tradisional dari kayu yang namanya Okobo. Kalau sekarang mungkin inilah High Hill.

Saya perhatikan saat melangkah yang di tangannya membawa kipas khas Jepang. Kok tidak terpeleset ya? padahal jalan yang dilewati tidak rata dan mendaki.

Akhirnya, menemukan kain lurik di salah satu toko. Pilih kain yang sudah jadi saja. Bukan beli kainnya dan jahit setelah pulang. Mirip lurik asal Jogya. Teman saya tidak percaya, ketika Lurik Jepang saya pakai.

“Masa ini Lurik Jepang,? tanya teman saya yang menyamakan dengan kain lurik asal Jogja. (*/har)


BACA JUGA

Senin, 27 Januari 2020 16:36

Flu

VANGUARD, film yang dibintangi Jackie Chan, sedianya ditayangkan di seluruh…

Kamis, 23 Januari 2020 16:18

Ingat Masdar John

SUASANA beda jelang perayaan Imlek. Di Tanjung Redeb tak ada…

Selasa, 21 Januari 2020 14:39

Lele Fang Sheng

SAYA harus mendapatkan banyak rujukan. Masih sangat terbatas. Apalagi bila…

Selasa, 21 Januari 2020 10:18

Imlek Meihua

HUJAN lebat berlangsung lama, Sabtu (18/1) lalu. Debitnya juga lumayan…

Rabu, 15 Januari 2020 11:47

Pulang Kosong

MASIH ingat KM Tanjung Perkasa? Kapal ini punya sejarah panjang…

Selasa, 14 Januari 2020 15:33

Bahaya Nyata Pariwisata Magnet Penarik Devisa

SEKTOR pariwisata di Indonesia dianggap sangat potensial untuk menjadi kunci…

Selasa, 14 Januari 2020 15:28

Mori dan Maratua

PUTRA Mahkota Abu Dhabi, Sheikh Mohamed Bin Zayed, mengungkapkan keinginannya…

Senin, 13 Januari 2020 15:13

Landmark Pak Edi

BAGI saya dan para kerabat, waktu 2 tahun dan 3…

Sabtu, 11 Januari 2020 11:43

Kapurung Harmoni

BANYAK teman saya asal Palopo, Sulawesi Selatan, yang sudah lama…

Senin, 06 Januari 2020 15:31

Permintaan Pak Camat

SAYA hampir lupa. Harian pagi Kaltim Post ternyata sedang merayakan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers