MANAGED BY:
MINGGU
19 JANUARI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Senin, 09 Desember 2019 15:34
‘di Sini’ atau ‘di Sana’
Ilustrasi

PROKAL.CO, SENIN (9/12) lusa, Komisi III DPRD akan mengundang instansi teknis untuk bertemu. Saling dengar pendapat. Yang ingin dibahas bersama soal penentuan lokasi pembangunan rumah sakit (RS).

Saya juga bertanya dalam hati, begitu sulitnya untuk memilih. Awalnya, ada tiga lokasi. Kemudian diperdebatkan. Mengerucut menjadi dua. Kalau tidak ‘di sini’ ya ‘di sana’.

Yang ‘di situ’ (di Sambaliung) walaupun sesuai dengan luasan yang diperlukan, yakni 10 hektare sudah tidak masuk hitungan. Padahal kalau memilih ‘di situ’ banyak untungnya. Ada pemilik lahan yang mau menyumbangkan lahannya. Artinya, yang ‘di situ’ gratis.

Bila dirupiahkan, lahan yang ‘di situ’ lumayan besar nilainya. Pemkab bisa memanfaatkan dana pembelian lahan untuk tahapan lainnya.

Tinggal yang ‘di sini’ atau ‘di sana’.

Yang ‘di sini’ (lahan PT Inhutani I), juga lahan ‘gratis’ yang diberikan oleh PT Inhutani. Luasnya juga sama, sekitar 10 hektare. Tidak gratis 100 persen. Karena ada warga yang sudah meng-kapling dan ada tanaman tumbuh. Harus diganti tanamannya. Walaupun bayar tidaklah terlalu banyak.

Lahan ‘di sini’ itu yang dilirik oleh Pak Makmur saat menjadi bupati. Sudah dibuatkan perencanaan. Juga sudah selesai dilakukan Detail Engineering Design (DED). Secara proses pekerjaan sipil, sudah memenuhi syarat.

Yang ‘di sini’ juga sudah dikeluarkan biaya yang lumayan banyak, untuk proses perencanaan itu. Contoh yang akan ditiru, juga sudah pernah di kunjungi. Salah satu rumah sakit yang ada di Jakarta.

Pemberitaan di media Jumat (6/12) sudah bisa dibaca, tanda-tandanya Pemda lebih memilih lokasi yang ‘di sana” ketimbang yang ‘di sini’.

Yang ‘di sana’(di Ring Road, Segmen II) lahannya milik masyarakat. Luasannya juga terhampar 10 hektare.  Pemiliknya lebih dari satu orang. Berada di lokasi Segmen II pengerjaan jalan arah Bandara Kalimarau. Katanya, sudah berencana untuk dilakukan pembebasan lahan.

Saya tidak dapat gambaran angka, berapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk membeli lahan masyarakat. Sudah pernah ada pertemuan dengan pemilik lahan, namun angkanya belum deal. Juga luasannya, masih separuh. Baru 5 hektare.

Saya hanya membedakan, bahwa lahan ‘di sini’ pastilah lebih murah ketimbang lahan yang ada ‘di sana’.

Kalau yang ‘di situ’ lebih murah lagi, pemiliknya jelas-jelas mau menyumbangkan.

Kini DPRD lebih tertarik yang ‘di sini’. Pemda maunya ‘di sana’. Jarak antara ‘di sini’ dan ‘di sana’ hanya beda satu tikungan saja.

Waktu terus berjalan. Sekarang sudah akhir tahun 2019. Sudah empat tahun waktu terbuang, hanya untuk membahas soal lokasi.

Padahal bukan itu saja persoalannya. Mungkinkah, perencanaan yang awalnya ‘di sini’ lalu digunakan untuk ‘di sana’.  Begitu pun dengan DED yang dibuat untuk lokasi ‘di sini’, dipindahkan ke lokasi ‘di sana’.

Kalau nanti akan membuat perencanaan yang baru dan DED yang juga baru, berapa waktu dan biaya yang diperlukan. Berarti, uang yang digunakan merencanakan RS yang lahannya ‘di sini’ akan hilang percuma. Tidakkah ini akan berpotensi jadi masalah, kelak.

Dan, bila ditetapkan nanti bahwa lahan yang deal untuk RS adalah lahan yang ‘di sana’. Yakinkah tidak akan menimbulkan masalah besar. Mengapa memilih lahan berbiaya besar, sementara ada yang berbiaya sedikit. Bahkan ada yang gratis sama sekali.

Waktu terus berjalan. Apakah memilih lahan yang ‘di sana’ setelah itu bisa dilakukan Ground Breaking alias peletakan batu pertama.

Saya dengan penuh kesabaran menunggu hasil akhirnya. Bagaimana diskusi yang pasti alot itu akan terjadi. Dan bagaimana putusan terindahnya. Kan kebetulan ada Pak Rifai, Wakil Ketua DPRD sekarang, yang dulu Wakil Bupati. Pak Rifai paham betul bagaimana proses pembangunan RS tersebut.

Pagi kemarin, saya jumpa pemilik lahan yang ‘di situ’. Ia membaca berita di koran. Saya sempat bertanya, bagaimana komentar bapak? Soal rencana pembangunan RS. Lahan ‘di situ’ yang mau disumbangkan, ternyata tidak menarik Pemkab.

Saya melihat dia hanya tersenyum. Saya tahu arti senyumnya sang pemilik lahan ‘di situ’. Khawatirnya, ketika lahan ‘di sini’ dan lahan ‘di sana’ ternyata berakhir dead lock dan ingin kembali saja ke lahan ‘di situ’, namun pemiliknya sudah ‘patah hati’.

Ujung-ujungnya pembangunan RS hanya jadi pembahasan sepanjang masa. (*/har)


BACA JUGA

Rabu, 15 Januari 2020 11:47

Pulang Kosong

MASIH ingat KM Tanjung Perkasa? Kapal ini punya sejarah panjang…

Selasa, 14 Januari 2020 15:33

Bahaya Nyata Pariwisata Magnet Penarik Devisa

SEKTOR pariwisata di Indonesia dianggap sangat potensial untuk menjadi kunci…

Selasa, 14 Januari 2020 15:28

Mori dan Maratua

PUTRA Mahkota Abu Dhabi, Sheikh Mohamed Bin Zayed, mengungkapkan keinginannya…

Senin, 13 Januari 2020 15:13

Landmark Pak Edi

BAGI saya dan para kerabat, waktu 2 tahun dan 3…

Sabtu, 11 Januari 2020 11:43

Kapurung Harmoni

BANYAK teman saya asal Palopo, Sulawesi Selatan, yang sudah lama…

Senin, 06 Januari 2020 15:31

Permintaan Pak Camat

SAYA hampir lupa. Harian pagi Kaltim Post ternyata sedang merayakan…

Sabtu, 04 Januari 2020 12:12

Salto Ubur-Ubur

SESEORANG dengan gaya salto di Danau Pulau Kakaban tiba-tiba menjadi viral…

Kamis, 02 Januari 2020 11:06

Samarinda – Berau, dari 24 Jam Kini 12 Jam

PEKAN tadi, saya sengaja melakukan perjalanan darat dari Berau ke…

Kamis, 02 Januari 2020 10:49

Tikus Logam

ALHAMDULILLAH, hari pertama tahun 2020 diawali hujan, setelah hingar-bingar di…

Selasa, 31 Desember 2019 11:52

Sverige Till Maratua

DUA pekan lalu, Mas Eeng, komandan di Pratasaba Resot Maratua,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers