PROKAL.CO,
PEKAN tadi, saya sengaja melakukan perjalanan darat dari Berau ke Samarinda seorang diri, menggunakan mobil. Ada beberapa kebutuhan suku cadang untuk mesin yang harus saya beli di Samarinda. Selain harus menghadiri beberapa kegiatan terkait kapasitas saya sebagai ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kaltim.
Bertolak dari Tanjung Redeb, Berau pukul 06.00 Wita, saya berhasil menembus perjalanan ke Samarinda selama 12 jam. Kecepatan rata-rata 60 sampai 80 kilometer per jam. Sesekali menyentuh angka 100 bahkan lebih, ketika berada di jalanan mulus dan sepi kendaraan.
Bagi saya pribadi, menyusuri jalur darat Berau ke Samarinda atau sebaliknya, adalah sebuah perjalanan mengenang sejarah. Sejak lulus dari SMA 2 Berau pada 1999 dan berkuliah di Samarinda, praktis saya sering ke Samarinda.
Awalnya naik kapal laut. Namun begitu jalur darat mulai tembus, barulah rute ke Samarinda lebih banyak melalui jalur darat. Dari mulai bus, sampai mobil travel yang menggunakan kendaraan multi purpose vehicle (MPV).
Apalagi setelah menjadi wartawan Kaltim Post, dulu bernama Manuntung, dan mendapat tugas ngepos di Kantor Gubernur Kaltim. Maka, sejak itu pula sering mengikuti kunjungan kerja gubernur ke wilayah utara Kaltim.
Ketika itu, belum ada provinsi Kalimantan Utara. Maka jangan heran jika gubernur kala itu harus melakukan peninjuan proyek sampai ke perbatasan Malaysia di Nunukan, Malinau, termasuk di Pulau Sebatik nun di ujung utara Indonesia.