MANAGED BY:
SENIN
24 FEBRUARI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Sabtu, 04 Januari 2020 11:29
Pembudidaya Ikan Keramba Mulai Waswas
TERANCAM MATI: Pembudidaya ikan keramba di bantaran Sungai Segah merasa waswas ikan mereka terancam mati akibat perubahan air Sungai Segah.

PROKAL.CO,

BERUBAHNYA kondisi air Sungai Segah juga berdampak pada pembudidaya ikan keramba di bantaran sungai. Mereka pun kembali waswas, karena ikan-ikan mereka terancam mati.

Hal itu disampaikan Iwan, salah seorang pemilik keramba di kawasan Bujangga. Apalagi, dirinya sudah pernah mengalami kerugian ratusan juta, dari perubahan kondisi air sebelumnya.

“Jika dipindah semua ke kolam nggak akan cukup. Dan tidak cocok. Jadi kami minta pihak pemerintah agar dicarikan solusinya serta bisa menuntaskan persoalan ini secepatnya. Apa penyebab pastinya yang sudah membuat ikan-ikan kami mati,” ucap Iwan, Jumat (3/1).

Kepala Dinas Perikanan Berau, Tentram Rahayu membenarkan kondisi itu. Dia mengaku menerima laporan dari pembudidaya ikan keramba, bahwa ikan di keramba banyak yang mati karena kondisi perubahan warna air.

“Mereka saya minta mencatat untuk pendataan. Dari kami juga sudah ada petugas yang mengecek air dan terus berkoordinasi dengan pembudiaya ikan keramba,” ujarnya, kepada Berau, kemarin.

Terpisah, Direktur Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Tirta Segah, Saipul Rahman menambahkan, perubahan warna air sungai ini kembali terjadi sejak Kamis (2/1) lalu. Hal tersebut berdasarkan laporan petugas yang setiap hari melakukan pengecekan air baku di lapangan.

Dari hasil pengecekan potensi hidrogen (pH) air baku di wilayah Teluk Bayur pada Jumat (3/1) mencapai 4,6. “Tapi kalau belajar dari kejadian sebelumnya, itu masih bisa kami normalkan dengan menambah penggunaan bahan kimia,” jelasnya.

 

Ditambahkannya, kondisi ini juga telah dikoordinasikan dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK). Apalagi kata dia berubahnya kondisi air baku yang diolah sangat berpengaruh terhadap mesin pompa. “Karena  jika dipaksakan, dikhawatirkan nanti mesin pompa tiba-tiba rusak sehingga dapat mengganggu pendistribusian air ke masyarakat,” pungkasnya. (*/oke/mar/har) 


BACA JUGA

Senin, 24 Februari 2020 14:23

Maling Satroni Perumahan Guru

SEGAH – Penghuni perumahan guru SD 001 Tepian Buah, Kecamatan…

Senin, 24 Februari 2020 14:21

Musda Dibatalkan, Tiga Kubu KNPI Bersatu

TANJUNG REDEB – Pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Komite Nasional Pemuda…

Senin, 24 Februari 2020 14:20

Tarik Investasi melalui Pengelolaan Mangrove

TANJUNG REDEB – Potensi investasi, tak melulu dilakukan dengan mengeruk…

Senin, 24 Februari 2020 14:19

Akbar Tandjung Beri Isyarat

TANJUNG REDEB – Isu diskresi mewarnai rencana pelaksanaan musyawarah daerah…

Sabtu, 22 Februari 2020 19:21

Pemanfaatan Dermaga Batu-Batu Belum Maksimal

GUNUNG TABUR - Pembangunan Dermaga di Kampung Batu-Batu, Kecamatan Gunung…

Sabtu, 22 Februari 2020 19:19

Amankan Burung Enggang dari Warga

TELUK BAYUR - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan…

Sabtu, 22 Februari 2020 19:18

Kepala Mes Berau Didemo Mahasiswa

TANJUNG REDEB - Puluhan penghuni Asrama Putra 1 Berau di…

Jumat, 21 Februari 2020 15:30

Prioritaskan Jalan Usaha Tani dan Air Bersih

SAMBALIUNG – Peningkatan jalan usaha tani hingga keberadaan air bersih…

Jumat, 21 Februari 2020 15:26

10 Tahun Tunggu Air Bersih

GUNUNG TABUR – Sebagian Warga Kampung Merancang Ulu, Kecamatan Gunung…

Kamis, 20 Februari 2020 06:10

Promosikan Ekowisata Mangrove Teluk Semanting

TANJUNG REDEB – Kedatangan Wakil Duta Besar (Dubes) Jerman, Hendrik…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers