MANAGED BY:
RABU
22 JANUARI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Sabtu, 04 Januari 2020 12:12
Salto Ubur-Ubur
ilustrasi

PROKAL.CO, SESEORANG dengan gaya salto di Danau Pulau Kakaban tiba-tiba menjadi viral di media sosial. Banyak teman saya yang ngomel. Bahkan, penggiat lingkungan maupun biro perjalanan wisata mengungkapkan rasa kesalnya.

Saya juga sangat kesal. Dua kali lipat marah saya dengan para penyelam yang juga marahnya luar biasa. Marah setelah melihat adegan salto yang dipertunjukkan oleh salah seorang pengunjung di Pulau Kakaban.

Berenang dengan membuang badan seperti itu, bukan di Danau Kakaban tempatnya. Kalau mau dengan gaya salto ataupun gaya dobel salto atau gaya apapun, cobalah di sekitar dermaga pendaratan di luar pulau.

Lakukanlah gaya seperti itu di Pulau Maratua ataupun di salah satu dermaga yang ada di Pulau Derawan. Gaya apapun bisa dipertontonkan. Jangan di Pulau Kakaban.

Mengunjungi Pulau Kakaban bisa menyaksikan ubur-ubur yang ada di danau tengah pulau itu. Juga bisa melakukan snorkling di karang yang terjal sekitar pulau.

Di danaunya, banyak aturan yang harus dipatuhi. Tak boleh ada gerakan berenang, yang bisa melukai ubur-ubur. Kalau gaya salto seperti video yang viral itu, bisa membuat ubur-ubur terluka dan bahkan bisa mati.

Ada petunjuk di pintu masuk, sebelum menuju jalan ke danau. Petunjuknya sudah jelas. Bila itu saja dipatuhi, semua akan berlangsung baik-baik saja.

Pulau Kakaban yang luasnya 700 hektare lebih dengan danau yang ada di dalamnya, sering saya sebut Jurrasic Park. Banyak biota di dalamnya, yang sudah terkurung hingga ribuan tahun lamanya, bersamaan dengan terbentuknya pulau.

Sebagai warga Berau, bangga akan Pulau Kakaban yang hanya ada dua di dunia. Satunya lagi Pulau Palau di Kepulauan Micronesia, sekitar 1.000 kilometer dari Filipina.

Saya tidak bisa membedakan, katanya ada empat jenis ubur-ubur dan beberapa jenis ikan yang sudah berevolusi sejak ribuan tahun. Karena biota yang hidup di danau yang tidak terhubung dengan lautan itu, saya sering menyebutnya ‘Jurrasic Park’.

Bukan Jurrasic Park, seperti yang digambarkan novel karya Michael Crihton. Dan dibuat film dengan judul yang sama oleh sutradara terkenal Steven Spielberg, tahun 1990 lalu.

Thomas Tomaschik, ahli kelautan Kanada menyebut "Pulau Kakaban merupakan surga kekayaan biologi yang ada di Indonesia. Misteri bagaimana hewan dan tumbuhan yang terisolasi dalam danau ini merupakan salah satu obyek yang sangat diminati oleh ilmuwan untuk diungkap. Karena itu, laut ini memang pantas menjadi obyek konservasi alam yang seharusnya dilindungi dan dilestarikan"

Selain biota yang hidup di danau. Tumbuhan endemik ada di daratan Pulau Kakaban. Semakin memperkuat keberadaan pulau yang penuh dengan misteri itu.

Sebagai pulau yang berstatus Kawasan Konservasi Laut (KKL), menjadi magnet wisatawan untuk berkunjung. Juga menjadi ikon biro perjalanan, menjadikan Kakaban sebagai salah satu destinasi impian.

Rasanya tak lengkap kunjungan wisata ke Berau bila tidak mampir ke Pulau Kakaban. Bisa menyelam bersama ubur-ubur. Bisa mengabadikan momen yang luar biasa uniknya.

Ada empat jenis ubur-ubur, yang semuanya disebut tidak menyengat. Karena tidak menyengat, lalu dibahasakanlah sebagai ubur-ubur yang penuh ‘persahabatan’.

Karena ubur-uburnya bersahabat dan tidak melukai, pengunjung tidak akan ragu untuk menyelam bersama. Mendekatkan tangannya, tanpa harus menyentuh. Andai saja ubur-ubur itu tidak ‘bersahabat’ dan bisa melukai, pengunjung tidak akan pernah tertarik untuk berenang. Mungkin hanya menyaksikan dari dermaga.

Sebagai sahabat, perlakukanlah ia sebagai sahabat sejati. Sayangilah ubur-ubur dan semua kehidupan yang ada di pulau sejak lama itu. Ia juga makhluk hidup yang apabila terganggu akan menjauh. Apabila terluka, ia akan mati. Lalu apa akhirnya?

Berenang dan bermainlah bersama sahabat. Perlalukanlah dengan penuh kasih sayang. Jangan meloncat dengan gaya salto, dan penuh tawa. Gaya berenang bisa membuat ubur-ubur terluka dan mati. Bila ubur-ubur di danau mati, kita semua akan kehilangan sahabat yang baik. (*/har)


BACA JUGA

Selasa, 21 Januari 2020 10:18

Imlek Meihua

HUJAN lebat berlangsung lama, Sabtu (18/1) lalu. Debitnya juga lumayan…

Rabu, 15 Januari 2020 11:47

Pulang Kosong

MASIH ingat KM Tanjung Perkasa? Kapal ini punya sejarah panjang…

Selasa, 14 Januari 2020 15:33

Bahaya Nyata Pariwisata Magnet Penarik Devisa

SEKTOR pariwisata di Indonesia dianggap sangat potensial untuk menjadi kunci…

Selasa, 14 Januari 2020 15:28

Mori dan Maratua

PUTRA Mahkota Abu Dhabi, Sheikh Mohamed Bin Zayed, mengungkapkan keinginannya…

Senin, 13 Januari 2020 15:13

Landmark Pak Edi

BAGI saya dan para kerabat, waktu 2 tahun dan 3…

Sabtu, 11 Januari 2020 11:43

Kapurung Harmoni

BANYAK teman saya asal Palopo, Sulawesi Selatan, yang sudah lama…

Senin, 06 Januari 2020 15:31

Permintaan Pak Camat

SAYA hampir lupa. Harian pagi Kaltim Post ternyata sedang merayakan…

Sabtu, 04 Januari 2020 12:12

Salto Ubur-Ubur

SESEORANG dengan gaya salto di Danau Pulau Kakaban tiba-tiba menjadi viral…

Kamis, 02 Januari 2020 11:06

Samarinda – Berau, dari 24 Jam Kini 12 Jam

PEKAN tadi, saya sengaja melakukan perjalanan darat dari Berau ke…

Kamis, 02 Januari 2020 10:49

Tikus Logam

ALHAMDULILLAH, hari pertama tahun 2020 diawali hujan, setelah hingar-bingar di…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers