MANAGED BY:
JUMAT
28 FEBRUARI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Selasa, 14 Januari 2020 15:33
Bahaya Nyata Pariwisata Magnet Penarik Devisa
Rahmi Surainah, M.Pd

PROKAL.CO, SEKTOR pariwisata di Indonesia dianggap sangat potensial untuk menjadi kunci dan solusi dalam menghadapi dampak ekonomi akibat perang dagang yang memanas antara Amerika Serikat dan China.

Hal ini dikemukakan oleh Staf Ahli Menteri PPN Bidang Sinergi Ekonomi dan Pembiayaan Amalia Adininggar Widya. Dia mengatakan di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu, sektor pariwisata dapat menjadi kunci pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Amelia menjelaskan kalau salah satu jalan pintas yang bisa digunakan untuk menyelamatkan devisa negara adalah lewat sektor pariwisata. Namun yang mesti mendapat perhatian pemerintah dan para stakeholder adalah bukan tentang seberapa banyak jumlah wisatawan yang berkunjung ke Indonesia, tapi seberapa besar uang yang masuk dari sektor ini. (http://www.monitorday.com/melalui-sektor-pariwisata-indonesia-mampu-hadapi-dampak-perang-dagang-as-china)

Di sisi lain adanya pariwisata yang diharapkan menghibur justru menimbulkan bahaya. Seperti yang terjadi di Kabupaten Sumedang, puluhan penari dari 5.555 peserta pada event Tari Umbul Kolosal di Waduk Jatigede jatuh pingsan dan beberapa di antaranya mengalami kesurupan pada akhir tahun lalu. (31/12/2019). (https://kabar-priangan.com/puluhan-penari-pingsan-dan-kesurupan-saat-even-tari-umbul-kolosal-di-waduk-jatigede/)

Di daerah lain, Tanjung Redeb tradisi sekaligus ajang pariwisata yakni Buang Nahas membuat warga berpolemik dengan camat. Camat berkeyakinan Tradisi Buang Nahas dianggap tak sesuai dengan akidah dalam Islam. Camat tidak memberikan restu dan tidak bersedia menghadiri acara adat masyarakat pesisir Berau tersebut. Namun, walau tanpa dukungan dari camat dan Dinas Kebudayaan Pariwisata Berau, masyarakat tetap melaksanakan acara adat tersebut. (https://berau.prokal.co/read/news/62298-camat-tinggalkan-warga-talisayan.html)

Demikian sedikit fakta yang terjadi tentang pariwisata. Pariwisata memang sering diwarnai dengan berbagai kejadian aneh dan unik. Seperti tarian Umbul Kolosal yang berjumlah 5.555 peserta, banyaknya peserta membuat tarian tersebut unik. Belum lagi ada kesurupan tentu ini membuat aneh dan mistis.

Selain itu, pariwisata tidak sedikit menimbulkan bahaya berupa kemaksiatan, syirik, dan kematian. Adat, budaya dan kearifan lokal perannya pun sudah bertambah menjadi objek wisata penghasil devisa.

Sulit dipisahkan adat dari masyarakat itu sendiri jika terjadi pertentangan, kecuali ada sikap tegas dari tokoh dan pemuka agama bahwa adat harus tunduk dengan syariat bukan menarik manfaat. Karena masyarakat menilai adat sebagai turun temurun dari satu generasi ke generasi, ditambah ada nilai Islamnya sehingga dianggap tidak bertentangan dengan agama.

Selain adat dijadikan objek pariwisata, ada lagi yang berpendapat pariwisata menjadi kunci dan solusi dalam menghadapi dampak ekonomi akibat perang dagang AS dan China.

Ungkapan tersebut berlebihan karena bisa menyesatkan publik karena akan menjadikan Indonesia fokus dengan pembangunan non strategis lupa dengan Indonesia punya kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang strategis.

Jika SDA dikelola termasuk bidang lain yang strategis seperti pertanian, perkebunan, perikanan, kehutanan, dan lain-lain tentu lebih berdaya dari pada sektor pariwisata.

Indonesia dan berbagai daerah disibukkan menggenjot pariwisata dengan terus berupaya melibatkan semua sektor untuk menunjang aspek pariwisata. Padahal, sibuknya pemerintah menggenjot pemasukan devisa lewat pariwisata melupakan eksploitasi SDA oleh pihak lain. Andai diambil alih atau dikelola sendiri tentu lebih strategis dalam menambah devisa.

Dengan demikian, di balik pariwisata yang kini dijadikan sebagai magnet penarik devisa sebenarnya menimbulkan bahaya nyata dilihat dari beberapa hal. Pertama, merusak aqidah melalui pelestarian adat mistik dan syirik. Kedua, kebijakan menyesatkan yang mengelabui rakyat bahwa mereka harus mengambil receh-receh pemasukan dari pariwisata untuk ekonomi mereka, padahal untuk usaha-usaha besar tetap dikuasai para kapitalis. Ketiga, jalan mulus liberalisasi budaya dan agama. Keempat, penjajah asing dibiarkan bebas menguasai SDA strategis yang melimpah di negeri ini. 

Dari analisis tersebut, sungguh sesuatu yang absurd rakyat akan sejahtera dengan berharap pariwisata sebagai jawaban lemahnya perekonomian di Indonesia. Hal ini karena lebih banyaknya bahaya nyata akibat pariwisata dibanding manfaat yang di dapat dari devisa. Terutama bahaya liberalisme yang akan semakin bablas seiring digalakkannya sektor pariwisata.

Liberalisme akan semakin merasuk parah karena Indonesia tidak mempunyai benteng negara yang melindungi umatnya. Sudut pandang materialis sekulerisme telah menjadikan materi, yakni devisa sebagai tujuan utama digalakkannya pariwisata. Terlepas sudut pandang Islam menilai dan menempatkan adat dan pariwisata tersebut.

Pariwisata dan Sumber Devisa dalam Islam

Pariwisata seharusnya diatur dan terikat dengan hukum Islam. Pariwisata yang mengandung mudarat atau bahaya, unsur mistis, dan syirik akan dilarang. Tujuan pariwisata dalam Islam bukan untuk meraih materi berupa manfaat, pendapatan dan kesenangan semata. Tetapi, pariwisata dalam Islam dijadikan ajang silaturahmi, tadabbur, dan menumbuhkan serta menambah keimanan. 

Pariwisata meski bisa menjadi salah satu sumber devisa, namun dalam Islam tidak akan dijadikan sebagai sumber perekonomian negara. Tujuan utama dipertahankan pariwisata hanya sebagai sarana dakwah. Negara tidak akan mengeksploitasi pariwisata untuk kepentingan ekonomi dan bisnis. 

Sektor pariwisata tentu tidak lepas dari sektor yang lainnya, semuanya berakar pada asas yang sama, yakni akidah dan ideologi yang diemban oleh negara. 

Hanya, negara yang menerapkan Islam yang mampu melawan setiap upaya penjajahan dan liberalisasi. Pariwisata jika taat aturan Islam akan berbuah pahala dan indah seperti surga dunia sekaligus membawa ke surga akhirat. 

Ada empat sumber tetap bagi perekonomian dalam negara Islam, yaitu pertanian, perdagangan, industri dan jasa. Keempat sumber inilah yang menjadi tulang punggung bagi negara dalam membiayai perekonomiannya. Negara juga mempunyai sumber lain, baik melalui pintu zakat, jizyah, kharaj, fai’, ghanimah hingga dharibah. Semuanya ini mempunyai kontribusi yang tidak kecil dalam membiayai  perekonomian negara.

Dengan demikian hanya Islam sebagai negara (Khilafah) yang mampu menyejahterakan rakyat. Negara Islam tidak akan berharap pada pariwisata sebagai penambah devisa. Negara Islam akan membuat potensi SDA yang sudah ada dikelola dengan benar sesuai hukum Islam sehingga membuat masyarakat sejahtera tanpa berharap pada sektor pariwisata magnet penarik devisa.

Wallahu'alam...

 

*) Warga Kutai Barat Kaltim


BACA JUGA

Rabu, 19 Februari 2020 12:39

Musik Tradisi atau Musik Etnis

Menjelang perhelatan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) yang…

Selasa, 18 Februari 2020 15:45

Corona Konro

HEBOH awal berjangkitnya Coronavirus di Wuhan,  Provinsi Hubei, juga membuat…

Senin, 17 Februari 2020 11:30

Rawan Listrik

KABAR gembira. Pak Makmur yang pernah memimpin Berau dua periode…

Sabtu, 15 Februari 2020 16:40

Segah 119 Tahun Silam

SEPERTI apa suasana Sungai Segah dan Gunung Tabur 119 tahun…

Jumat, 14 Februari 2020 15:48

Paris Van Berau

SEJAK  kapan operasional tambang batu bara di Teluk Bayur dimulai?…

Kamis, 13 Februari 2020 15:11

Sungai Ketujuh

PERNAH berkunjung ke pasar terapung Sungai Martapura Lok Baintan? Konvoi…

Rabu, 12 Februari 2020 08:29

ODT Merasa

ODT itu apa Pak Daeng? Pak Yafet Tingai, Kepala Kampung…

Selasa, 11 Februari 2020 13:33

Kampus Hercules

LUASNYA 1,5 hektare. Lokasinya di tengah sungai. Di tengah arus…

Senin, 10 Februari 2020 15:00

Napas Level 3

JADI, kita harus mendaki gunung itu? Tak ada sejarah dalam…

Minggu, 09 Februari 2020 15:24

Menguak Akar LGBT dari Sudut Pandang Hipnoterapis

MUNCULNYA kasus Reynhard Sinaga benar-benar menjadi tamparan keras bagi bangsa…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers