MANAGED BY:
SENIN
24 FEBRUARI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Rabu, 15 Januari 2020 11:43
Pakar IPB Kembali Uji Air Sungai Segah, Ini Hasilnya...

Sebut Ikan Mati karena Asam Meningkat

UJI AIR SUNGAI: Pakar Ekologi Perairan dan Pakar Ekologi Lingkungan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) turun mengecek kandungan Sungai Pura dan Sungai Segah.

PROKAL.CO,

TANJUNG REDEB – Polres Berau bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK), Dinas Perikanan, Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM), kembali turun lapangan mengecek kondisi air Sungai Segah, Selasa (14/1). Hal ini menyusul kembali ditemukan ikan-ikan mati oleh nelayan pada Sabtu (11/1) lalu di Sungai Pura, Kecamatan Segah.

Pengecekan kali ini juga menurunkan dua pakar dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Yakni Pakar Ekologi Perairan Agus Priyono, dan Pakar Ekologi Lingkungan Yanto Santosa. Mereka turun mengecek kandungan Sungai Pura dan Sungai Segah.

Pakar Ekologi Perairan IPB, Agus Priyono menuturkan, hasil uji di lapangan, ditemukan kadar pH air normal yakni antara 6,8 hingga 7. Begitupun dari kondisi kadar oksigen, juga normal di atas 5. Parameter yang lain secara umum disebut Agus juga bagus. Sementara sampel lainnya menunggu hasil dari laboratorium di Bogor yang dikeluarkan dalam waktu kurang lebih dua minggu.

“Dari pengamatan hari ini (kemarin, Red), karena kebetulan sedang pasang dan arusnya cukup deras, maka kondisi kualitas air sungai normal,” ujarnya.

Selain melakukan pengecekan di hulu PT Hutan Hijau Mas (HHM), tim dan pakar dari IPB juga masuk ke lokasi perusahaan. Pihaknya juga memeriksa paritan PT Satu Sembilan Delapan (SSD). Untuk kadar Ph di dalam paritan menuju watergate dua perusahaan tersebut, ditemukan kadar Ph air 3. Tetapi watergate perusahaan perkebunan itu telah dilakukan penutupan.

“Dengan sampel yang kami ambil bisa menjelaskan secara keseluruhan. Kami juga tetap berkoordinasi dengan instansi terkait di Berau,” lanjut Agus.

Agus menuturkan, untuk perubahan air sungai memang banyak dipengaruhi lahan sekitarnya. Jika lahannya jenis gambut, pH ainya memang rendah di bawah 4. Jika airnya mengalir ke sungai, tentu mempengaruhi kondisi air sungai. Tetapi di Berau katanya, bukan merupakan lahan gambut, melainkan tanah sulfat masam. Sulfat masam itu adalah lapisan di bawah tanah yang sifatnya asam. Kalau tidak digali untuk tanaman dan parit, tentu tidak masalah. Tetapi ketika digali, sulfatnya akan larut, kemudian terbawa ke sungai. Maka airnya akan asam dan kadar pH akan mengalami penurunan yang sangat signifikan.

“Jadi kalau hubungannya dengan pupuk tidak ada,” tegasnya. “Pupuk memiliki fungsi untuk menyuburkan tanaman. Kandungan dalam pupuk yakni nitrat dan pospat, untuk kandungannya di Sungai Segah juga sangat rendah yakni 0,06. Standarnya 10. Jadi jauh di bawah standar. Artinya tidak ada penambahan nitrat dan pospat yang menyebabkan perubahan warna air,” tambah Agus.

Lebih lanjut, Agus menjelaskan fakta di lapangan, peningkatan pupuk tidak ada ke air, tetapi lebih kepada asam. Apalagi sebelumnya terjadi kemarau panjang, sehingga air menjadi kering, menyebabkan rongga pada tanah yang diisi oksigen kemudian teroksidasi. Begitu hujan terbawa dan menjadi sulfat.

Sementara terkait temuan ikan mati oleh nelayan, menurutnya karena terjadinya perubahan keasaman air. Ketika hujan, tanah liat yang namanya aluminosilikat akan terurai. Kemudian melepaskan aluminium. Aluminium tersebut akan larut dan menyebabkan terikatnya partikel-partikel koloid dalam air sehingga menggumpal yang menyebabkan flokulasi. Yang menyebabkan terjadinya flok atau serpihan. “Itu yang menyebabkan ikan mati. Karena di insang ikan terdapat partikel lumpur yang membuat ikan sulit bernapas,” ujarnya.

“Jika itu racun, tentu ikan akan langsung mati, tetapi insangnya masih merah. Sedangkan ini temuan di lapangan ikan masih mabuk dan insang sudah memutih,” ujarnya.

 

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Berau AKP Rengga menuturkan, pihak Polres juga masih menunggu hasil resmi dari IPB terkait fakta sebenarnya di balik fenomena Sungai Segah tersebut. “Kami masih menunggu hasilnya. Jika perubahan air Sungai Segah ada pelanggaran pidana, tentu akan ditindak,” pungkasnya. (*/hmd/har)

 


BACA JUGA

Senin, 24 Februari 2020 14:23

Maling Satroni Perumahan Guru

SEGAH – Penghuni perumahan guru SD 001 Tepian Buah, Kecamatan…

Senin, 24 Februari 2020 14:21

Musda Dibatalkan, Tiga Kubu KNPI Bersatu

TANJUNG REDEB – Pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Komite Nasional Pemuda…

Senin, 24 Februari 2020 14:20

Tarik Investasi melalui Pengelolaan Mangrove

TANJUNG REDEB – Potensi investasi, tak melulu dilakukan dengan mengeruk…

Senin, 24 Februari 2020 14:19

Akbar Tandjung Beri Isyarat

TANJUNG REDEB – Isu diskresi mewarnai rencana pelaksanaan musyawarah daerah…

Sabtu, 22 Februari 2020 19:21

Pemanfaatan Dermaga Batu-Batu Belum Maksimal

GUNUNG TABUR - Pembangunan Dermaga di Kampung Batu-Batu, Kecamatan Gunung…

Sabtu, 22 Februari 2020 19:19

Amankan Burung Enggang dari Warga

TELUK BAYUR - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan…

Sabtu, 22 Februari 2020 19:18

Kepala Mes Berau Didemo Mahasiswa

TANJUNG REDEB - Puluhan penghuni Asrama Putra 1 Berau di…

Jumat, 21 Februari 2020 15:30

Prioritaskan Jalan Usaha Tani dan Air Bersih

SAMBALIUNG – Peningkatan jalan usaha tani hingga keberadaan air bersih…

Jumat, 21 Februari 2020 15:26

10 Tahun Tunggu Air Bersih

GUNUNG TABUR – Sebagian Warga Kampung Merancang Ulu, Kecamatan Gunung…

Kamis, 20 Februari 2020 06:10

Promosikan Ekowisata Mangrove Teluk Semanting

TANJUNG REDEB – Kedatangan Wakil Duta Besar (Dubes) Jerman, Hendrik…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers