MANAGED BY:
SABTU
29 FEBRUARI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Rabu, 15 Januari 2020 11:47
Pulang Kosong

PROKAL.CO, MASIH ingat KM Tanjung Perkasa? Kapal ini punya sejarah panjang dalam memenuhi berbagai kebutuhan pokok warga. Ia menjadi satu-satunya harapan. Tak berlayar dalam sebulan saja, kebutuhan bahan pokok akan goyah.

Kapal ini juga yang menyibukkan Pak Atai. Pedagang besar yang semua barang dagangannya diboyong oleh Tanjung Perkasa dari Surabaya. Ketika kapal sandar di pelabuhan, menjadi hari-hari yang menyibukkan bagi Pak Atai.

Ia pekerja keras.  Saya sudah mengenalnya saat ia masih bujangan. Ketika masih lincah dengan motor merahnya berkeliling mengunjungi pelanggannya. Ia lebih suka naik motor.  Padahal, ada mobil terparkir di rumahnya di Jalan SA Maulana.  Samping kantor Bank BRI.

Bila menghitung jasa, terlepas ia sebagai pengusaha, Pak Atai punya kontribusi  besar dalam penyediaan bahan kebutuhan masyarakat. Ia jadi tolok ukur posisi stok barang. Kalau Pak Atai bilang ‘aman’, maka tak usah diragukan lagi.

Menjelang Natal dan Lebaran, toko dan gudang miliknya juga jadi sasaran kunjungan. Untuk memastikan benar kah menjelang Lebaran dan Natal posisi persediaan barang cukup.

Masa-masa menyibukkan bagi Atai perlahan berbagi. Kini sebagian besar barang kebutuhan datang tak lagi tercurai. Tapi dalam peti kemas. Ada perusahaan yang masuk di sektor jasa ini. Mendampingi usaha yang sudah ditekuni Pak Atai puluhan tahun itu.

Masuknya kapal yang membawa peti kemas atau kontainer lebih membuat warga nyaman. Tak khawatir lagi kekurangan persediaan kebutuhan. Ini yang sering disampaikan Pak Presiden, program Tol laut.

Lihatlah, kendaraan berat yang mengangkut peti kemas lalu-lalang di jalan raya. Karena lokasi penumpukannya tidak dalam kawasan pelabuhan. Harus diangkut keluar kawasan. Dan jaraknya lumayan jauh.

Ada perbedaan. Barang yang diangkut terurai, dibanding dalam peti kemas. Kualitas barang terjamin. Proses penurunan dari kapal juga berlangsung cepat. Barang kiriman bisa diterima lebih awal.  Juga persediaan barang tak ada ruang yang kosong.

Bukan hanya kebutuhan sembako.  Peti kemas bisa membawa barang apa saja yang cocok untuk ukuran peti kemas. Mobil juga bisa dikirim lewat jasa peti kemas. Diperkirakan setiap bulan masuk sekitar 1.500 peti kemas. Bisa lebih.

Ada sedikit kendala dalam proses pelayanan. Kita tidak tahu, bagaimana kondisi jembatan ke arah Sambaliung dan Gunung Tabur. Ada rencana pelabuhan peti kemas ditempatkan di sekitar Kampung Gurimbang. Yang punya PT Pelindo.

Lahannya cukup luas. Juga di luar kawasan pelabuhan. Dilengkapi kawasan penumpukan peti kemas yang memadai. Untuk ukuran peti kemas  sebesar apapun, bisa tertampung. Memang repot, karena lebar jalan yang dilalui tidak terlalu luas. Khususnya di arah Kampung Bangun.

Volume kendaraan juga cukup padat. Ini salah satu dari sekian banyak persoalan dalam pelayanan jasa peti kemas.

Saya berpikir yang penting kebutuhan masyarakat bisa dengan mudah didapatkan. Suatu saat nanti, juga akan berdampak pada harga jual. Dibanding daerah lain, Berau masih terbilang harga jual beberapa komoditas cukup tinggi. Padahal sudah dilayani peti kemas.

Satu hal yang sebetulnya bisa mendorong sektor lain untuk maju. Bahwa dari sekian banyak peti kemas yang datang setiap bulannya, belum banyak dimanfaatkan oleh daerah. Khususnya dalam perdagangan antar pulau.

Peti kemas itu kebanyakan pulang tanpa muatan alias kosong. Kalau juga ada, dimanfaatkan untuk membawa besi tua yang pasarannya ke Surabaya. Komoditas lainnya sama sekali belum terlihat.

Harusnya sebagai kawasan yang memiliki persediaan bahan baku kayu, dapat memanfaatkan peti kemas untuk mengirim kayu olahan. Juga berbagai hasil industri lainnya.

Bisa jadi daerah lain memerlukan tempurung kelapa dalam jumlah besar. Pengirimannya bisa dilakukan melalui peti kemas itu. Komoditas hasil laut juga demikian.

Dengan demikian, tidak hanya memikirkan bagaimana peti kemas  datang dengan membawa barang kebutuhan masyarakat. Tapi, bisa memanfaatkan peti kemas yang pulang kosong itu untuk komoditas lainnya. Tergantung bagaimana jelinya kita melihat peluang pasar.

Lalu, itu menjadi tugas siapa? Hal kecil seperti ini jangan lagi dibebankan pada bupati dan wakilnya yang harus berpikir. Tapi para pembantunya lah yang harus ada terobosan. (*/har)


BACA JUGA

Selasa, 18 Februari 2020 15:45

Corona Konro

HEBOH awal berjangkitnya Coronavirus di Wuhan,  Provinsi Hubei, juga membuat…

Senin, 17 Februari 2020 11:30

Rawan Listrik

KABAR gembira. Pak Makmur yang pernah memimpin Berau dua periode…

Sabtu, 15 Februari 2020 16:40

Segah 119 Tahun Silam

SEPERTI apa suasana Sungai Segah dan Gunung Tabur 119 tahun…

Jumat, 14 Februari 2020 15:48

Paris Van Berau

SEJAK  kapan operasional tambang batu bara di Teluk Bayur dimulai?…

Kamis, 13 Februari 2020 15:11

Sungai Ketujuh

PERNAH berkunjung ke pasar terapung Sungai Martapura Lok Baintan? Konvoi…

Rabu, 12 Februari 2020 08:29

ODT Merasa

ODT itu apa Pak Daeng? Pak Yafet Tingai, Kepala Kampung…

Selasa, 11 Februari 2020 13:33

Kampus Hercules

LUASNYA 1,5 hektare. Lokasinya di tengah sungai. Di tengah arus…

Senin, 10 Februari 2020 15:00

Napas Level 3

JADI, kita harus mendaki gunung itu? Tak ada sejarah dalam…

Minggu, 09 Februari 2020 15:24

Menguak Akar LGBT dari Sudut Pandang Hipnoterapis

MUNCULNYA kasus Reynhard Sinaga benar-benar menjadi tamparan keras bagi bangsa…

Sabtu, 08 Februari 2020 13:20

Karena Kopi

SOAL tempat tak jadi masalah. Di manapun boleh. Tempat tertutup…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers