MANAGED BY:
SABTU
29 FEBRUARI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Kamis, 23 Januari 2020 16:18
Ingat Masdar John

PROKAL.CO, SUASANA beda jelang perayaan Imlek. Di Tanjung Redeb tak ada wilayah dengan sebutan Kampung Cina atau Pecinan. Di beberapa ruas jalan, seperti Jalan Ahmad Yani dan Jalan Kapten Tendean, merupakan kawasan yang banyak dihuni warga Tionghoa. Kawasan ini yang bisa saya sebut Kampung Pecinan.

Saya menyusuri Jalan Kapten Tendean. Dari ujung Timur, sudah  terpasang lampion yang melintas jalan raya. Hampir sepanjang jalan. Kebetulan di jalur ini, posisi keberadaan Tien Pe kong (Klenteng). Memberikan nuansa semakin meriah. Pernak-pernik Imlek yang serba merah.

Dari Jalan Tendean, hiasan lampion masih terlihat hingga ke Jalan Ahmad Yani dan Jalan Pangeran Antasari. Tiga jalur jalan tersebut, setahu saya dihuni oleh warga Tionghoa. Tak salah, kalau saya sebut Kampung Pecinan.

Sepuluh tahun lalu, tak seramai sekarang. Yang terlibat dalam persiapan Imlek, sekarang sudah ‘pensiun’. Banyak generasi baru yang menggantikan. Anak muda yang lebih cepat gerakannya. Lebih lincah dan lebih kaya ide. Sudah dua generasi.

“Dulu kami yang sibuk, sekarang biar yang muda-muda saja,” kata Pak Oetomo Lianto (Pak Aliang).  Saya ngobrol di Warung Kopi Hoky.  Warung yang jadi langganan untuk jumpa.

Bukan hanya saya dan Pak Aliang, dua hari lalu Pak Kapolres bersama anggotanya juga memanfaatkan waktunya menikmati kopi susu, sambil berbincang dengan anak buahnya. Wakil Bupati Berau Agus Tantomo juga begitu. Ada masakan kesukaan Pak Agus, yakni Kwetiau goreng dan minumnya Liang Teh hangat.

Biasanya berbincang dengan Pak Aliang, tak ada tema serius. Kali ini, ia seperti terkejut setelah mendengar banyak lokasi yang terkena luapan air. Penyebabnya, kata Pak Aliang, macam-macam. Salah satunya, karena pesatnya pembangunan termasuk pembangunan properti sehingga banyak pengupasan lahan.

Di Tanjung Redeb, kata dia, memang buat sementara ‘terbebas’ dari genangan. Bukan jaminan bahwa telah dilakukan pengerjaan drainase, sama sekali tidak akan terjadi genangan.

Sepanjang debit air hujan tidak terlalu besar, akan aman. Sebaliknya, bila debit air hujan cukup besar, ditambah posisi sungai sedang pasang, juga akan terjadi genangan. Pekerjaan belum sampai pada pintu pembuangan air ke sungai.

Pintu pembuangan air menuju sungai sudah jelas.  Baik yang ada di ujung Jalan H Isa I. Juga yang ada di Jalan AKB Sanipah, jatuhnya ke sungai Kelay. Begitu pula yang jatuhnya ke sungai Segah. “Pintu terakhir ini yang harusnya diperhatikan,” kata dia.

Pak Aliang yang mengikuti sepak terjang sepuluh bupati yang memimpin Berau. Mulai tahun 1960 di kala dipimpin Aji Raden Ayub hingga sekarang, menyayangkan. Mengapa dulu itu, anggaran yang dikelola sangat sedikit. “Andai saja seperti sekarang, pembangunan akan jauh lebih pesat,” kata Pak Aliang.

Semuanya menurut dia sangat bergantung pada anggaran. Jadi, tak perlu bangga berhasil melaksanakan kegiatan pembangunan, karena memang dananya sangat besar. Dananya banyak, hasilnya juga harus bagus.

Tapi, Berau kan bukan hanya Tanjung Redeb. Yang harus dipikirkan, bagaimana pembangunan di kecamatan. “Masa hanya Tanjung Redeb saja yang cantik, Teluk Bayur tetap kebanjiran, padahal jaraknya sangat dekat,” kata dia.

Tanjung Redeb juga hanyalah di jalan protokol. Coba telusuri jalan yang lebih jauh ke dalam. Misalnya pada lapisan ke dua yang ada di Jalan Milono atau Jalan Pangeran Diguna. Kan bisa terlihat bedanya.

Ia teringat pada Pak Masdar John (Almarhum). Bupati ke empat, memimpin di tahun 1973 hingga 1980. Aliang sangat dekat dengan Pak Masdar John. Anggaran yang dikelola tidaklah banyak. Tapi, apa yang berhasil dikerjakan, sungguh luar biasa. “Jalan dari tepian hingga ke kantor bupati, itu salah satu dari terobosannya,” ungkapnya.

Belum lagi penataan jalan. Pak Masdar John memang betul-betul mencurahkan pikirannya untuk kemajuan Berau. Pada saat kondisi ‘miskin’ pun, ia tetap semangat. Ia tidak pernah mengeluhkan soal kecilnya anggaran pembangunan. Juga tidak pernah membanggakan apa yang telah dicapainya. Itu memang kewajiban seorang bupati, untuk membangun.

Bangganya pada Pak Masdar John, sekali waktu ia mengusulkan nama bandara ‘Masdar John’. Dialah yang berjasa, memikirkan sehingga Bandara Kalimarau ada. Dari kegiatan di Bandara Kalimarau ini juga yang membangkitkan usaha Pak Aliang, yang saat itu menjadi agen pesawat ‘Bali Air’. Jadi, sebetulnya ada dua orang yang hebat. Masdar John dan Pak Aliang. (*/har)


BACA JUGA

Rabu, 19 Februari 2020 12:39

Musik Tradisi atau Musik Etnis

Menjelang perhelatan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) yang…

Selasa, 18 Februari 2020 15:45

Corona Konro

HEBOH awal berjangkitnya Coronavirus di Wuhan,  Provinsi Hubei, juga membuat…

Senin, 17 Februari 2020 11:30

Rawan Listrik

KABAR gembira. Pak Makmur yang pernah memimpin Berau dua periode…

Sabtu, 15 Februari 2020 16:40

Segah 119 Tahun Silam

SEPERTI apa suasana Sungai Segah dan Gunung Tabur 119 tahun…

Jumat, 14 Februari 2020 15:48

Paris Van Berau

SEJAK  kapan operasional tambang batu bara di Teluk Bayur dimulai?…

Kamis, 13 Februari 2020 15:11

Sungai Ketujuh

PERNAH berkunjung ke pasar terapung Sungai Martapura Lok Baintan? Konvoi…

Rabu, 12 Februari 2020 08:29

ODT Merasa

ODT itu apa Pak Daeng? Pak Yafet Tingai, Kepala Kampung…

Selasa, 11 Februari 2020 13:33

Kampus Hercules

LUASNYA 1,5 hektare. Lokasinya di tengah sungai. Di tengah arus…

Senin, 10 Februari 2020 15:00

Napas Level 3

JADI, kita harus mendaki gunung itu? Tak ada sejarah dalam…

Minggu, 09 Februari 2020 15:24

Menguak Akar LGBT dari Sudut Pandang Hipnoterapis

MUNCULNYA kasus Reynhard Sinaga benar-benar menjadi tamparan keras bagi bangsa…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers