MANAGED BY:
SABTU
29 FEBRUARI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Senin, 10 Februari 2020 15:00
Napas Level 3
KUBURAN: Penulis (tiga dari kiri), berada di salah satu lokasi kuburan leluhur warga Dayak yang diperkirakan berusia 300 tahun.

PROKAL.CO, JADI, kita harus mendaki gunung itu? Tak ada sejarah dalam hidup saya, melakukan pendakian. Gunung cadas terjal seperti itu. Mengapa tidak ada catatan dalam perjalanan ke kampung Merasa, Kelay, bahwa kita akan mendaki gunung.

Bila ada informasi awal, kan saya bisa buat pertimbangan. Pertimbangan kemampuan menapaki jalan yang terjal. Bayangkan, yang didatangi itu namanya Gunung Tembakau. Namanya diambil di satu tempat, yang sering ditumbuhi tanaman tembakau. Aneh kan?

Gunungnya seperti dinding tinggi. Hanya ada jalan setapak. Badan harus lebih mengarah ke kiri. Oleng ke kanan, bisa terjun bebas. Yang pernah melewati jalur Sungai Kelay, pasti pernah melihat dinding tinggi berwarna putih. Nah, disitu sudah.

Buka karena Gunung Tembakaunya. Ada kisah 300 tahun silam yang bersemayam di gua-gua dinding gunung itu. Gua-gua itulah yang ingin ditengok. Harus didaki. Harus berjalan perlahan. Terpeleset? Tak bisa membayangkan apa yang terjadi.

Saya mencermati jumlah personel yang melakukan pendakian, mungkin saya tamu yang paling senior usianya. Setelah itu Pak Wabup Agus Tantomo. Selebihnya petualang milenial. Masih muda.

Dalam hati mereka ‘Daeng Sikra’ ini yang harus diberi perhatian. Khawatir di tengah jalan sudah kehabisan napas. Linus, yang dulu bertugas di Centre for Orangutan Protection (COP) Kampung Merasa, bertugas sebagai guide, juga tak memberi bisikan kalau akan mengunjungi Gua Tembakau.

Tidak ikut, tetap ada tugas. Menjaga di perahu dan mempersiapkan bakaran ikan di kersik (gusung yang penuh dengan batu kerikil). Tidak ikut, akan kehilangan cerita. Catatan Daeng Sikrapun akan jadi kering.

Di perjalanan pendakian, barulah Mas Linus cerita, kalau lokasi gua yang dijadikan pemakaman leluhur suku Dayak, berada di ketinggian dengan lima tingkatan. Linus menyebut level. Pada tingkatan teratas, akan terlihat keindahan matahari terbit dan tenggelam. Seberapa tingginya?

Level pertama, masih seperti biasa. Belum ada jejak sejarah yang bisa disaksikan, kecuali Stalagmit yang masih dalam proses mengeras. Kalau dipegang, lembut seperti lumut. Mungkin proses panjang nanti akan menjadi keras, seperti batu sekitarnya.

Bergerak ke level dua. Faktor kesulitannya cukup tinggi. Saya mulai merasakan tidak seimbang, langkah dan napas. Di level dua ini, ada gua yang dulu dijadikan penyimpanan mayat dalam peti.

Tersisa hanya peti. Tak ada lagi barang-barang peninggalan yang biasanya diseratakan dalam peti mati itu. “Ada yang jarah pak,” kata Linus. Memang tak ada yang mengawasi. Dengan mudah dijarah.

Ada banyak gua. Setiap gua ada kisahnya. Sedikit peninggalan yang tersisa. Mirip dengan ‘Londa’ yang ada di Tanah Toraja, Sulawesi Selatan. Kompleks pemakaman berada pada dinding batu. Saya membayangkan, prosesi pemakaman di Londa, tak jauh beda dengan yang dilakukan Suku Dayak sejak ratusan tahun.

Saya berpikir, setelah level dua selanjutnya akan turun menuju ke tempat makan siang. Di level dua, juga sudah bertambah. Antara napas, capek, dan lapar plus haus. Ternyata, Linus masih menujukan arah ke atas. “Kita ke level 3,” kata Linus.

Saya bukan Rocky Gerung, yang hobi mendaki. “Linus, kali ini kau siksa orang tua,” kata saya dalam hati. Lokasi pendakian juga di sela batu. Ada banyak akar yang berjuntai. Termasuk rotan yang sempat melukai tangan saya. Lupa, kalau rotan itu berduri.

Saya ikut saja. Tidak tahu, seberapa ketinggiannya. Terus berjalan, dengan suara napas yang terdengar hingga dua meter di depan dan di belakang saya. Jalan yang ditapaki, hanya selebar satu meter. Bila salah melangkah, semua menjadi selesai. Minimal patah-patah.

Sampai di level 3, seperti tiba di puncak Everest. Seperti berhasil menaklukkan puncak Himalaya. Kalau memang Mas Linus hanya menghibur supaya saya dan rombongan lebih bersemangat, informasi yang disampaikan sedikit membanggakan.

Bahwa, tiba di level 3, barulah tim yang dipimpin Pak Wabup Agus Tantomo. Belum ada rombongan yang berhasil tiba di level itu. Pernah ada rombongan dari Eropa, hanya sampai di level 2, terus kembali.

Harusnya saya menancapkan bendera, sebagai bukti seorang ‘pendaki’ tua berhasil mencapai level 3 yang baru pertama kali diinjak, selain warga Kampung Merasa. “Kalau kami warga Merasa, hingga ke level 5, hanya untuk jalan-jalan,” kata Linus. Mas Linus ini menyurutkan semangat saya.

Linus menunjukkan jalan menuju level 4 dan level 5. Ia menyebut, di top level, kita bisa menyaksikan matahari terbit dan terbenam. Jangankan di level 5, di level 3 saja, burung yang terbang, terlihat pundaknya. Bukan perutnya.

Batal ke level 4 dan top level. Segera menuruni gunung dari level 3. Andai diputuskan ke level 4, saya angkat bendera. Napas saya, tarikannya sudah tidak normal. Hahaha, jadi ingat lagu Napas Cinta.

Napas saya hanya sanggup di level 3. Lapar saya, juga hanya mampu bertahan di level 3. Kaki saya, juga begitu. Aroma ikan bakar terbawa angin hingga di level 3. Tercium ikan putih dan Baronang. Juga ayam bakarnya. Apalagi yang membakarnya. Yang berbaju hitam itu. (*/udi)


BACA JUGA

Selasa, 18 Februari 2020 15:45

Corona Konro

HEBOH awal berjangkitnya Coronavirus di Wuhan,  Provinsi Hubei, juga membuat…

Senin, 17 Februari 2020 11:30

Rawan Listrik

KABAR gembira. Pak Makmur yang pernah memimpin Berau dua periode…

Sabtu, 15 Februari 2020 16:40

Segah 119 Tahun Silam

SEPERTI apa suasana Sungai Segah dan Gunung Tabur 119 tahun…

Jumat, 14 Februari 2020 15:48

Paris Van Berau

SEJAK  kapan operasional tambang batu bara di Teluk Bayur dimulai?…

Kamis, 13 Februari 2020 15:11

Sungai Ketujuh

PERNAH berkunjung ke pasar terapung Sungai Martapura Lok Baintan? Konvoi…

Rabu, 12 Februari 2020 08:29

ODT Merasa

ODT itu apa Pak Daeng? Pak Yafet Tingai, Kepala Kampung…

Selasa, 11 Februari 2020 13:33

Kampus Hercules

LUASNYA 1,5 hektare. Lokasinya di tengah sungai. Di tengah arus…

Senin, 10 Februari 2020 15:00

Napas Level 3

JADI, kita harus mendaki gunung itu? Tak ada sejarah dalam…

Minggu, 09 Februari 2020 15:24

Menguak Akar LGBT dari Sudut Pandang Hipnoterapis

MUNCULNYA kasus Reynhard Sinaga benar-benar menjadi tamparan keras bagi bangsa…

Sabtu, 08 Februari 2020 13:20

Karena Kopi

SOAL tempat tak jadi masalah. Di manapun boleh. Tempat tertutup…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers