MANAGED BY:
SABTU
29 FEBRUARI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Jumat, 14 Februari 2020 15:48
Paris Van Berau
KENANGAN: Penulis bersama Wakil Bupati Berau Agus Tantomo, melihat salah satu lokasi yang pernah ditempati keluarga dan orang tuanya di Teluk Bayur.

PROKAL.CO, SEJAK  kapan operasional tambang batu bara di Teluk Bayur dimulai? Dan sejak kapan pula warga Tionghoa berada di wilayah itu? Ini sering jadi bahan diskusi. Juga menjadi ukuran seberapa kuat ‘ke-Berau-an’ seseorang.

Pak Rachmatsyah (alm) pemilik museum Siraja di Teluk Bayur pernah menyebutkan kalau kegiatan pertambangan dimulai pada 29 Maret 1875 silam. Di mana saat itu ada pesanan batu bara sebanyak 200 ton atau sekitar 3.200 pikul, dari asisten residen di Samarinda. Pesanan tersebut ditujukan kepada Sultan Gunung Tabur. Sejak saat itu, Berau tercatat sebagai salah satu daerah penghasil batu bara.

Rujukan itu menjadi catatan bahwa sejak 173 tahun silam, aktivitas ekonomi sektor tambang sudah ada di Berau (Teluk Bayur).

Pata tahun 1904, Datu Maharaja Dinda juga membuka tambang bekerja sama dengan Firma Prottel, Surabaya. Lalu disusul pengusaha asal Surabaya lainnya CLS Birnie yang ikut berinvestasi. Hasilnya diangkut oleh kapal milik Koninklijke Paketwaart Maatschappij (KMP), perusahaan asal Belanda.

Tahun 1911, Datu Raja Mantri dari Keraton Sambaliung juga ikut membuka tambang batu bara di daerah Prapatan, Sungai Kelay, bersama VA Cool perusahaan pemilik konsesi lahan hutan seluas 6.300 hektare.

Lahan ini yang kemudian diambil alih oleh Naamloze Vennotschap Steenkolen Maatschappij Parapattan (NV.SMP) pada tahuh 1923. Hadirnya NV SMP ini, membuat Teluk Bayur menjadi ramai. Semua fasilitas dibangun, juga ada kereta api lori mengangkut batu bara.

Teluk Bayur sudah menikmati listrik sejak awal abad ke-20, termasuk fasilitas umum  lainnya. Teluk Bayur sempat mendapat sebutan ‘Paris Van Berau’. Karena malam hari, Teluk Bayur terang benderang.

Apa karena daya tarik ekonomi menjadi alasan sehingga warga Tionghoa datang ke Berau. Bisa saja argumentasi seperti itu. Dari berbagai diskusi, saya pernah mendapatkan informasi bahwa warga Tionghoa yang datang tidak langsung menuju Teluk Bayur. Mereka menggunakan perahu layar, dan tempat tujuan pertama yakni di Pulau Balikukup, Kecamatan Batu Putih. Bisa jadi untuk sekadar transit. Mungkin juga terdampar. Dari Balikukup kemudian bergerak masuk melewati delta sungai Berau. Dan tiba di Teluk Bayur.

Makam dan kehadiran Tian Fe Kong (Klenteng) juga menjadi petunjuk, bahwa kehadiran warga Tionghoa sudah lebih dari seabad lalu. Ada makam Tionghoa di Gunung Tabur yang tahunnya tertulis tahun 1901. Petunjuk usianya yang sudah tua.

Tian Fe Kong (Klenteng) juga begitu. Beberapa tahun lalu, saya menyaksikan perayaan ulang tahun Klenteng yang ke-100 tahun. Juga jadi petunjuk, bahwa sejak lama sebetulnya warga Tionghoa sudah menjadi bagian dari penduduk Kabupaten Berau.

Lagi-lagi bahwa pusaran ekonomi di Teluk Bayur, mungkin jadi alasan mengapa warga Tionghoa yang ada di Berau, memilih lokasi penambangan batu bara sebagai tempat tinggalnya. Dan sekaligus menjadikan kampung halamannya yang baru.

Wakil Bupati Berau Agus Tantomo, berada di Teluk Bayur melihat pesatnya perkembangan kecamatan yang dulunya adalah ‘kota’. Dulunya adalah ‘Paris Van Berau’. Ia menyebutkan, kedua orang tuanya lahir di Berau. Juga beberapa orang saudaranya.

Ketika sang ayah meninggal dunia di usianya 104 tahun, jadi petunjuk bahwa warga Tionghoa sudah sejak lama bermukim di Berau (Teluk Bayur). “Ibu saya dulu lahir di Kampung Cina, Teluk Bayur,” kata Pak Agus Tantomo.

Memang saat itu, semua warga Tionghoa berstatus Warga Negara Asing (WNA). Belakangan baru diterima menjadi WNI.

Napak tilas di Teluk Bayur, Pak Agus juga mampir di salah satu warung gado-gado yang legendaris. “Saya tahu penjual gado-gado ini mungkin sudah dua atau tiga generasi,” kata Pak Agus.

Rumah yang pernah ditempati saudara tertua Pak Agus yakni Oetomo Lianto (Aliang), juga masih ada dan belum banyak mengalami perubahan. Rumah yang terpaksa ditinggalkan, karena ada aturan yang tidak memperbolehkan WNA tinggal di wilayah kecamatan.

Ada cerita Pak Aliang terkait dengan aturan WNA Tionghoa. Dijadwalkan akan dilakukan pemulangan.  Semua warga Tionghoa akan dijemput kapal dan dibawa ke Samarinda. Selanjutnya diboyong pulang ke negeri asal.

Pak Aliang bersama keluarga sudah siap dipulangkan.  Rumah yang ditempati di Teluk Bayur itu ditukar hanya dengan sebuah sepeda. Ada juga dengan sebuah mesin jahit. Beruntung, kapal yang dinanti, batal tiba. Pak Aliang bersama keluarga pun batal meninggalkan tanah kelahirannya di Berau.

        Ia tidak kembali lagi ke Teluk Bayur. Rumah sudah menjadi milik orang lain. Dengan kondisi ekonomi apa adanya, Pak Aliang bersama keluarga, pindah dari rumah ke rumah warga, yang ada di Jalan Niaga.

Dari warung gado-gado, Pak Agus mencermati beberapa bangunan peninggalan Belanda ketika melakukan penambangan batu bara. Ada rumah bola dan bangunan yang dulu dipakai sebagai tempat pembayaran gaji. Bangunan itu yang sekarang dijadikan kantor Camat Teluk Bayur.

Wajah lapangan bola yang pernah digunakan klub Ajax Amsterdam, sekarang sudah lebih cantik, setelah dibenahi. Ada taman tematik. Ada duplikat kereta pengangkut batu bara. Lapangan bola itu jadi saksi bisu. Di akhir pekan pekerja tambang dan keluarga melakukan pesta dibawa sinar terang. Sinar yang dulu menjadikan Teluk Bayur sebagai ‘Paris Van Berau’. (*/har)


BACA JUGA

Selasa, 18 Februari 2020 15:45

Corona Konro

HEBOH awal berjangkitnya Coronavirus di Wuhan,  Provinsi Hubei, juga membuat…

Senin, 17 Februari 2020 11:30

Rawan Listrik

KABAR gembira. Pak Makmur yang pernah memimpin Berau dua periode…

Sabtu, 15 Februari 2020 16:40

Segah 119 Tahun Silam

SEPERTI apa suasana Sungai Segah dan Gunung Tabur 119 tahun…

Jumat, 14 Februari 2020 15:48

Paris Van Berau

SEJAK  kapan operasional tambang batu bara di Teluk Bayur dimulai?…

Kamis, 13 Februari 2020 15:11

Sungai Ketujuh

PERNAH berkunjung ke pasar terapung Sungai Martapura Lok Baintan? Konvoi…

Rabu, 12 Februari 2020 08:29

ODT Merasa

ODT itu apa Pak Daeng? Pak Yafet Tingai, Kepala Kampung…

Selasa, 11 Februari 2020 13:33

Kampus Hercules

LUASNYA 1,5 hektare. Lokasinya di tengah sungai. Di tengah arus…

Senin, 10 Februari 2020 15:00

Napas Level 3

JADI, kita harus mendaki gunung itu? Tak ada sejarah dalam…

Minggu, 09 Februari 2020 15:24

Menguak Akar LGBT dari Sudut Pandang Hipnoterapis

MUNCULNYA kasus Reynhard Sinaga benar-benar menjadi tamparan keras bagi bangsa…

Sabtu, 08 Februari 2020 13:20

Karena Kopi

SOAL tempat tak jadi masalah. Di manapun boleh. Tempat tertutup…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers