MANAGED BY:
SENIN
30 MARET
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Sabtu, 15 Februari 2020 16:40
Segah 119 Tahun Silam
KENANGAN: Foto hasil jepretan Prof.dr.C.H. de Goeje, pada tahun 1901 yang menggambarkan suasana 17 Agustus 1901.

PROKAL.CO,

SEPERTI apa suasana Sungai Segah dan Gunung Tabur 119 tahun silam. Saksi hidup yang bisa bercerita sudah sangat sedikit. Itupun saksi yang usianya di bawah 80 tahun. Banyak cerita yang didapatkan dari penjelasan lisan sumber lainnya.

Pak Rahmatsyah yang tinggal di Teluk Bayur, sudah tiada. Beliau banyak tahu perjalanan sejarah di daerah. Terutama di Teluk Bayur. Banyak catatan sejarah yang dimiliki Almarhum. Dan catatan beliaulah yang sampai sekarang dijadikan narasumber.

Saya yakin, banyak tokoh yang hidup di zamannya, menyimpan banyak informasi perjalanan sejarah di Kabupaten Berau. Di Teluk Bayur, perjalanan kegiatan penambangan batu bara oleh perusahaan Belanda.

Teluk Bayur, tak bisa dipisahkan dengan dua kerajaan yang ada. Gunung Tabur dan Sambaliung. Juga wilayah lainnya, di pedalaman maupun pesisir pantai. Wilayah kekuasaan administratif dua kerajaan juga terbagi dua.

Museum Batiwakkal yang ada di Gunung Tabur dan Keraton di Sambaliung, menyimpan banyak cerita masa lalu. Perjalanan dua kerajaan. Itu digambarkan dari silsilah dan peninggalan berupa benda sejarah.

Saya yakin. Orang perorang dari kerabat dua kesultanan juga masih memiliki peninggalan itu.  Tidak seluruhnya berada di museum. Mungkinkah, dengan suka rela menyerahkan kepada museum ataupun keraton sebagai mata pelajaran sejarah bagi warga.

Kemarin (14/2), saya menerima foto dari Pak Wawan, staf Humas Pemkab. Sebuah foto yang didapatkan dari salah seorang temannya di Samarinda. Foto itu sangat langka dan bernilai sejarah.

Ada tiga foto yang dikirimkan melalui WhatsApp.  Tiga foto hitam putih dengan suasana berbeda. Dua foto tanpa keterangan. Dan satu foto lainnya secara detail memberikan penjelasan sebagai credit title foto itu.

Saya percaya, kalau foto itu hasil jepretan satu orang.  Ada keterangan foto yang menuliskan dalam bahasa Belandas ‘Straatgeicht in Goenoeng Taboer op Oos-Borneo Met Groep Kinderean’. Saya mengartikan itu sebagai keterangan foto, yang menjelaskan salah satu sudut jalan di Gunung Tabur, dengan tampilan beberapa orang anak-anak.

Foto itu hasil jepretan Prof.dr.C.H. de Goeje. Vervaardigingsplaats (foto dibuat) pada 17 Agustus 1901. Foto ini merupakan koleksi dari negara eksotis antara tahun 1860-1920. Foto ini tersimpan di museum etnologi sekaligus pemilik hak cipta.

Yang menarik, bahwa foto itu dibuat pada 17 Agustus 1901. Mungkin satu kebetulan. Atau adakah tanggal itu menjadi tanggal yang bersejarah bagi Gunung Tabur maupun bagi fotografernya. Foto itu suasana sudut kampung dan jalan dengan banyak warga maupun anak-anak telanjang dada. Padahal, hari kemerdekaan kan pada 17 Agustus 1945? Barangkali satu kebetulan saja.

Foto lainnya, menggambarkan bagaimana suasana di Sungai Segah pada tahun 1901 atau sekitar 119 tahun silam. Foto itu diambil dari sisi Gunung Tabur dan terlihat dari kejauhan Tanjung Redeb. Melihat titik pengambilan foto, tak jauh dari Keraton Gunung Tabur.

Delapan anak-anak sedang berendam setengah badanya di dalam sungai dan ada lima lainnya berdiri di atas batang. Yang menarik, ada perahu dengan lima penumpang sedang mengayuh arah ulu sungai.

Ada juga foto pemandangan di sungai. Mungkin foto ini terkait dengan sebuah perayaan. Ataupun hajatan besar. Sebab, banyak warga yang berada di atas perahu. Ada lima perahu yang dihubungkan satu dengan lainnya. Beberapa perahu dengan muatan penuh, juga ada di belakangnya.

Saya sangat percaya, foto yang menjadi koleksi seseorang di Samarinda bukan hanya itu saja. Ada lagi yang lain, yang dibuat oleh sang fotografer yang hebat itu. Mungkinkah kita bisa mendapatkannya? Dalam foto itu, jelas dituliskan adalah koleksi salah satu museum etnologi di Belanda.

Ingat teman saya di Gowa, Sulawesi Selatan. Ia mendapat tugas dari bupatinya untuk mengumpulkan banyak dokumen sejarah yang tersimpan di salah satu museum di Belanda. Kata teman saya, tak sulit untuk mendapatkannya. Kita bisa diberikan yang asli, atau duplikatnya.

Caranya, ada kesepahaman antara pemkab atau pihak museum di Berau dengan museum di Belanda. Lalu, data apa saja yang diinginkan. Baik berupa foto, film visual maupun benda bersejarah yang tersimpan di museum itu.

Foto yang direkam 119 tahun silam, menjadi foto yang sangat berharga. Foto yang bisa bercerita kepada kita semua, generasi penerus. Kita bisa menyaksikan, bagaimana Gunung Tabur saat itu. Tentu juga bagaimana Sambaliung kala itu. Serta bagaimana Tanjung Redeb ketika itu. (*/har)


BACA JUGA

Kamis, 12 Maret 2020 21:37

Soundscape Bandara Kalimarau

(do mi sol do) “Perhatian-perhatian, panggilan kepada penumpang pesawat udara…

Rabu, 19 Februari 2020 12:39

Musik Tradisi atau Musik Etnis

Menjelang perhelatan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) yang…

Selasa, 18 Februari 2020 15:45

Corona Konro

HEBOH awal berjangkitnya Coronavirus di Wuhan,  Provinsi Hubei, juga membuat…

Senin, 17 Februari 2020 11:30

Rawan Listrik

KABAR gembira. Pak Makmur yang pernah memimpin Berau dua periode…

Sabtu, 15 Februari 2020 16:40

Segah 119 Tahun Silam

SEPERTI apa suasana Sungai Segah dan Gunung Tabur 119 tahun…

Jumat, 14 Februari 2020 15:48

Paris Van Berau

SEJAK  kapan operasional tambang batu bara di Teluk Bayur dimulai?…

Kamis, 13 Februari 2020 15:11

Sungai Ketujuh

PERNAH berkunjung ke pasar terapung Sungai Martapura Lok Baintan? Konvoi…

Rabu, 12 Februari 2020 08:29

ODT Merasa

ODT itu apa Pak Daeng? Pak Yafet Tingai, Kepala Kampung…

Selasa, 11 Februari 2020 13:33

Kampus Hercules

LUASNYA 1,5 hektare. Lokasinya di tengah sungai. Di tengah arus…

Senin, 10 Februari 2020 15:00

Napas Level 3

JADI, kita harus mendaki gunung itu? Tak ada sejarah dalam…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers