MANAGED BY:
MINGGU
31 MEI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Selasa, 18 Februari 2020 15:50
Dianggap Sesepuh Dayak, Disebut yang Pertama Kunjungi Pelosok

Mengikuti Reses Ketua DPRD Kaltim di Berau dan Kutim (6-Habis)

DI PEDALAMAN: Makmur HAPK ketika berdialog dalam reses yang digelar di Kampung Tepian Buah kemarin (17/2).

PROKAL.CO, Bertemu dan menyapa masyarakat di Kecamatan Segah, jadi agenda terakhir kegiatan penyerapan aspirasi (reses) Ketua DPRD Kaltim Makmur HAPK di Berau dan Kutai Timur. Lalu, apa saja aspirasi masyarakat yang disampaikan pada pertemuan di Ruang Pertemuan Kantor Kampung Tepian Buah tersebut?

YUDHI PERDANA, Tanjung Redeb

Kecamatan Segah, merupakan salah satu kecamatan pedalaman yang ada di Bumi Batiwakkal. Memiliki 13 kampung, dengan Tepian Buah sebagai ibu kota kecamatannya. Namun dalam sejarah, baru pada Senin (17/2) kemarin, wilayah pedalaman tersebut dikunjungi seorang Ketua DPRD Provinsi Kaltim. Setidaknya, itulah yang diutarakan Kepala Kampung Tepian Buah Surya Emi, Kepala Adat Tepian Buah, Askila Lujuk, dan Camat Segah Eben Ezer Hutabarat, saat kegiatan reses Ketua DPRD Kaltim Makmur HAPK.

“Menurut saya, selama ini belum ada Ketua DPRD (Kaltim) yang melaksanakan reses ke pelosok-pelosok, terutama di Segah ini. Baru orang tua kita Pak Makmur yang melakukannya,” ujar Emi saat menyampaikan sambutan dalam pembukaan reses kemarin.

Dalam reses yang dihadiri beberapa kepala kampung, camat, sekretaris camat, Ketua Adat Tepian Buah, guru-guru, tokoh pemuda, dan tokoh masyarakat Segah tersebut, Emi menyebut kedatangan Makmur HAPK untuk menyerap aspirasi di wilayahnya, merupakan wujud kepedulian mantan Bupati Berau tersebut kepada masyarakat Segah dan Kaltim pada umumnya. “Ini satu kebanggaan bagi kami. Bapak baru saja menjabat, sudah mengunjungi kami. Kalau yang lain, ya pahamlah,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu juga, Emi mengutarakan aspirasi masyarakat Tepian Buah, termasuk Segah. Terutama mengenai keinginan membangun balai adat yang sudah lama diusulkan ke pemerintah. Bahkan ujar dia, sejak April 2019 lalu, pihaknya sudah dijanjikan pemerintah mengenai pembangunannya. Bahkan sudah disampaikan besaran anggarannya. Bupati Berau pun, lanjut dia, juga sudah membubuhkan disposisinya dalam proposal pembangunan balai adat tersebut. Namun ketika ditindaklanjuti progresnya, anggarannya justru tidak ada. Tidak masuk dalam program bantuan di Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Kabupaten Berau. “Padahal kami sudah senang, orang-orang tua kami sudah bangga. Tapi akhirnya mereka semua kecewa,” ungkapnya. 

Makanya, dirinya mengharapkan aspirasi pembangunan balai adat bisa mendapat bantuan dari Pemprov Kaltim. Sebab, Tepian Buah sudah dinobatkan sebagai kampung budaya yang akan menjadi tuan rumah pesta budaya tahun 2023 nanti.

“Selama dua tahun berturut-turut, anggaran desa kami pakai untuk penimbunan, karena lokasi balai adat ini tanahnya rawa. Makanya kami harapkan pembangunan fisiknya dari pemerintah,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Adat Tepian Buah, Askila Lujuk, juga menganggap Makmur sebagai orang tua. Bahkan sudah dianggap sebagai sesepuh masyarakat suku Dayak. Sebab, ujar dia, Makmur memang sering menghadiri musyawarah besar adat Dayak yang digelar di Kecamatan Segah. “Makanya kami anggap beliau ini sesepuh, khususnya Dayak Kenyah,” katanya. 

Sama seperti Emi, Askila juga menyebut pembangunan balai adat sangat mendesak. Bahkan, selain belum mendapat kucuran dana, upaya pembangunan secara swadaya yang ingin dilakukan masyarakat juga menemui kendala masalah pengangkutan ulin dari hutan. “Sebenarnya sudah ada (angkutan) perusahaan yang siap (membantu). Tapi mereka tidak berani karena yang diangkut ulin,” katanya.  

Penggunaan ulin, lanjut dia, memang sangat vital bagi bangunan balai adat. Karena sebagai tiang utama balai. “Makanya, apakah kami bisa dibantu supaya bisa mendapatkan izin pengangkutan dari hutan ke desa,” ujarnya. 

Askila mengaku, masyarakat adat di Segah memang memiliki kebiasaan membuka ladang dengan berpindah-pindah dengan cara membakar. Namun perpindahannya, disebut memiliki sirkulasi yang jelas. Paling lambat, katanya, dalam tujuh tahun sudah akan kembali menggarap ladang yang pertama dibuka.

“Makanya, karena sekarang membakar lahan dilarang, kami harap pembangunan areal persawahan dipercepat. Supaya kami tidak membuka-buka lahan lagi,” ungkapnya.

Di kesempatan yang sama, Camat Segah Eben Ezer Hutabarat mengungkapkan, masyarakat Tepian Buah, Gunung Sari, dan Harapan Jaya memang sudah diarahkan untuk bertani di layan yang telah dicetak pemerintah. Tidak lagi berpindah-pindah. Sayang, lahan pertanian yang dicetak pemerintah, belum tuntas seluruhnya, seluas 2.100 hektare. “Kami mengharapkan itu bisa dituntaskan,” katanya.

Mengenai Tepian Buah yang sudah dinobatkan sebagai Desa Budaya, camat berkomitmen akan mengupayakan perekonomian masyarakat dengan memaksimalkan potensi wisata dan budaya di Segah. “Mudahan dari APBD Berau dan Kaltim, bisa masuk untuk mengembangkan air terjun Tembalang,” katanya.

Camat juga memiliki aspirasi yang sangat diharap bisa mendapat bantuan dukungan dari provinsi. Yakni mengenai lahan seluas 2.500 hektare di Tepian Buah yang berstatus Kawasan Budidaya Kehutanan (KBK). Tapi di lahan KBK tersebut sudah ditumbuhi tanaman kelapa sawit masyarakat yang sudah tertanam sejak puluhan tahun silam.

“Kami sedang mengusulkan, 500 hektare dari lahan itu, diupayakan perubahan statusnya. Sementara yang 2.000 hektare, bisa dijadikan perhutanan sosial,” ujarnya.

Seorang guru SMP yang ada di Kecamatan Segah juga menyampaikan aspirasinya. Mengenai pendidikan tingkat SMA yang disebutnya masih sangat minim fasilitas di kecamatan pedalaman tersebut. Hal itu, ujar dia, juga berkaitan dengan penerapan sistem zonasi yang dilakukan pemerintah. Sehingga sebuah SMK yang ada di Segah, selalu tak mampu menampung jumlah lulusan SMP di kecamatan tersebut. “Karena yang bisa sekolah ke Tanjung (Redeb) hanya sedikit saja, yang bisa masuk lewat jalur prestasi saja. Karena dibatasi sistem zonasi itu tadi,” katanya. “Kalau bisa sistem zonasi ini diusulkan untuk dihapuskan saja pak,” sambungnya.

Solusi terbaiknya, menurutnya, adalah membangun sebuah SMA di Segah. Apalagi, pemerintah Kampung Harapan Jaya sudah menyediakan lahan untuk pembangunan SMA di Segah. Usulan perbaikan jalan juga disampaikannya, terutama yang mengalami kerusakan parah di Kampung Harapan Jaya.

Mendapat banyak aspirasi, Makmur langsung menanggapinya. “Masalah SMA, kalau bisa lahan yang disediakan kampung sudah bersertifikat. Supaya bisa lebih cepat kita usulkan pembangunannya. Karena ada pengalaman, SD kita bangun, lahannya diberikan, tapi ketika sudah dibangun, mau digergaji pagar sekolahnya,” katanya.

Dijelaskan Makmur, masalah legalitas lahan memang menjadi perhatian pemerintah sebelum menyusun program pembangunan. “Bisa saja masyarakat menghibahkan lahannya dengan sukarela. Tapi karena administrasi penyerahannya tidak tertib, bisa saja anak-cucunya nanti yang menuntut. Menganggap lahan itu masih milik kakek mereka,” ujar Makmur.

Terkait persoalan zonasi SMA, juga coba diperjuangkannya agar di wilayah pedalaman, bisa mendapat pengecualian. “Pemerintah sekarang memang sedang menyederhanakan kebijakan-kebijakan yang sudah dibuat,” terangnya.

Terkait kerusakan jalan di Kampung Harapan Jaya, Makmur menyebut jalan tersebut menjadi tanggung jawab kabupaten. Namun, jika pemerintah kabupaten tidak mengalokasikan anggaran untuk peningkatannya, bisa diusulkan melalui bantuan keuangan provinsi.

“Cuma harapan kami, pemerintah daerah juga memperharikan jalan-jalan di kampungnya. Yang sudah baik, dilanjutkan, dipelihara. Karena kalau dibiarkan, akan rusak parah, dan perbaikannya butuh dana besar. Coba kalau rutin dipelihara tiap tahun, tidak akan besar dananya,” ungkap Makmur.

Mengenai aspirasi untuk pembangunan balai adat, Makmur memastikan akan memberi perhatian. “Pertama, soal pengangkutan ulin. Nanti saya akan koordinasi dengan kapolres, bagaimana solusinya,” katanya.

Dikatakan Makmur, persoalan adat budaya memang harus dipertahankan setiap daerah. Karena adat-budaya merupakan salah satu alat pemersatu bangsa. “Masalah (pembangunan) balai adat, ajukan saja permohonannya. Apalagi Tepian Buah nanti menjadi tuan rumah,” ujarnya.

Makmur juga menyinggung masalah rencana pembentukan Ibu Kota Negara (IKN) di Kaltim. Disebutnya, pembangunan IKN juga harus diimbangi dengan pembangunan kualitas manusia, khususnya di pedalaman dan pesisir. Selain itu, dalam menyambut IKN, Kabupaten Berau sebagai salah satu daerah penyangga, juga harus memperkuat ketahanan pangannya. “Makanya saya minta Pak Mukalla (Ketua Tani Nelayan Andalan Berau) untuk membuat rencana kerja sebelum musrenbang (tingkat Kaltim). Itu akan kami perjuangkan,” ungkapnya.

Terkait ketahanan pangan, juga dibutuhkan bendungan yang menjadi bentengnya. Namun dari evaluasinya, banyak bendungan di Berau, termasuk di Segah, yang belum berfungsi optimal. “Saya sudah minta diinventarisasi dulu betul-betul, apa kendalannya (bendungan belum optimal), supaya keberadaan bendungan bisa dirasakan fungsinya,” jelasnya.

Soal kehutanan, seperti yang diusulkan Camat Segah, Makmur menyarankan agar pihak kecamatan mengajukan permohonan dialog dengan Dinas Kehutanan Kaltim, bahkan hingga kementerian.

“Saya mendukung Pak Camat yang memperjuangkan kawasan tertentu menjadi persawahan. Makanya saya akan kawal, berikan tembusannya kepada kami, supaya kami bisa ikut mengawal di provinsi,” ungkap Makmur.

“Untuk pengembangan wisata air terjun, saya juga sepakat. Tapi tolong, jika nanti sudah berkembang, tolong dipelihara dengan baik,” pungkas Makmur. (*/har)

 


BACA JUGA

Sabtu, 30 Mei 2020 19:32

RDT Massal Masih Dibahas

TANJUNG REDEB - Kepala Dinas Kesehatan Berau, Iswahyudi mengatakan rencana…

Sabtu, 30 Mei 2020 19:31

Siapkan Aturan Wajib Gunakan Masker

PEMKAB Berau mewajibkan seluruh masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di…

Sabtu, 30 Mei 2020 19:30

Berau Menuju Tatanan Baru

TANJUNG REDEB – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau tengah mempersiapkan penerapan…

Sabtu, 30 Mei 2020 19:29

RDT Pemilik dan Karyawan Negatif

TANJUNG REDEB – Pesan berantai yang berisi imbau agar masyarakat…

Jumat, 29 Mei 2020 19:14

Insentif Tenaga Medis Covid-19 Masih Berproses

TANJUNG REDEB - Tenaga kesehatan (Nakes) menjadi garda terdepan dalam…

Jumat, 29 Mei 2020 19:11

Nabire Divonis 12 Tahun Penjara

TANJUNG REDEB – Terdakwa kasus penikaman istri siri hingga tewas,…

Jumat, 29 Mei 2020 19:10

Alat TCM Siap Dioperasikan

TANJUNG REDEB – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Abdul…

Jumat, 29 Mei 2020 19:09

PCR Klinik Tirta Tunggu Izin

Alat Polymerase Chain Reaction (PCR) di Klinik Tirta Medical Center…

Kamis, 28 Mei 2020 15:23

cIngin Bentuk Taruna Tani agar Tak Memutus Regenerasi

Minat anak muda untuk menekuni dunia pertanian semakin kecil. Rata-rata…

Kamis, 28 Mei 2020 15:20

Hari Ini Sidang Tuntutan Perkara Prostitusi Online yang Melibatkan IRT

TANJUNG REDEB – Terdakwa Yeni Titian (YT), warga Sambaliung, akan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers