MANAGED BY:
RABU
27 MEI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Selasa, 31 Maret 2020 20:26
GELAP WALAU DEKAT PEMBANGKIT

10 Tahun, 30 KK di RT 20 Sambaliung Hanya Nikmati Bising PLTD

BELUM TERALIRI LISTRIK: Kawasan Kampung Bugis, Jalan Kemakmuran, RT 20, Kelurahan Sambaliung, Kecamatan Sambaliung, sampai sekarang belum menikmati aliran listrik dari PLN.

PROKAL.CO, Listrik jadi salah kebutuhan dasar masyarakat. Pemerintah dan Perusahaan Listrik Negara (PLN) sudah berusaha memenuhinya. Walau belum merata ke seluruh penjuru Nusantara.

SUMARNI, Sambaliung

Kabupaten Berau menjadi daerah paling utara Kalimantan Timur. Kabupaten dengan sebutan Bumi Batiwakkal ini, memiliki 13 wilayah kecamatan, dengan 100 kampung dan 10 kelurahan.

Pusat kota dan pemerintahannya berada di Kecamatan Tanjung Redeb. Kecamatan yang berbatasan dengan Kecamatan Sambaliung, Gunung Tabur, dan Teluk Bayur, serta diapit dua sungai besar, yakni Sungai Kelay dan Sungai Segah. Empat kecamatan itulah yang disebut wilayah perkotaan Bumi Batiwakkal.

Di wilayah perkotaan itu juga, aktivitas pembangunan selalu diutamakan. Terutama pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, seperti air bersih, listrik, hingga infrastruktur lainnya.  

Khusus pemenuhan kebutuhan listrik, sebelum kewenangan soal kelistrikan dialihkan ke provinsi sesuai amanat Undang-Undang 23/2014 Tentang Pemerintah Daerah, Pemkab Berau banyak berkolaborasi dengan PLN untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat hingga perkampungan. Pemkab Berau yang membangun jaringan listriknya, PLN tinggal mengalirkan setrumnya.

Bukan sekadar pembangunan jaringan, Pemkab Berau sebagai pemegang saham mayoritas di PT Indo Pusaka Berau, juga membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Lati dengan kapasitas 3x7 megawatt (MW), untuk membantu PLN memenuhi kebutuhan listrik masyarakat.

Kini, seluruh kecamatan sudah bisa menikmati listrik dari PLN. Bahkan di pulau terluar Maratua, PLN sudah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) berkapasitas 1 MW yang ditarget beroperasi sebelum Ramadan nanti.

Namun di balik gencarnya upaya pemerintah dan PLN memenuhi kebutuhan listrik masyarakat hingga di perkampungan, justru seperti ‘melupakan’ keberadaan 30 kepala keluarga (KK) yang bermukim Sungai Buntu, Jalan Kemakmuran, RT 20 Kelurahan Sambaliung, Kecamatan Sambaliung. 

Permukiman masyarakat yang diberi nama Kampung Bugis tersebut, terbentuk sekitar tahun 2010 silam atau sudah 10 tahun. Ironisnya, keberadaan permukiman itu hanya berjarak sekitar 10 kilometer dari pusat pemerintahan atau kantor Bupati Berau. Bahkan hanya berjarak sekitar 8 kilometer dari PLTD Sambaliung. Tapi, walau berada ‘di depan mata’, permukiman 30 KK tersebut seperti tak terlihat karena tak memiliki penerangan.

Mayoritas penduduknya memang pendatang asal Sulawesi Selatan. Selama bertahun-tahun, 95 jiwa di kawasan itu hanya mengandalkan penerangan dari lampu pelita. Baru dalam empat tahun terakhir, sebanyak 12 KK sudah bisa membeli panel surya untuk menyerap energi matahari, untuk dijadikan sumber listrik. Teknisnya, energi listrik dari terik matahari yang terserap panel surya, mengalir ke akumulator atau aki yang biasa digunakan untuk kendaraan bermotor roda empat, yang akhirnya bisa menghidupkan lampu dan peralatan elektronik warga, walau hanya bisa digunakan antara pukul 18.00 hingga 23.00 Wita saja. “Tapi kalau siang mendung, nggak bisa juga diandalkan untuk penerangan malam, terpaksa kami pakai pelita lagi,” kata Supriadi, salah satu warga Kampung Bugis yang rumahnya sudah dilengkapi panel surya.

Supriadi yang ditemui di kediamannya, Minggu (29/3) lalu, memang sudah lama menunggu sambungan listrik dari PLN. Karena itu juga yang selalu menjadi usulan warga kawasan tersebut setiap tahun. Saat pelaksanaan musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) tingkat kelurahan dan selalu diteruskan hingga ke tingkat kabupaten. “Karena kalau pakai panel surya, kapasitasnya hanya 50 Amper, harganya sekitar Rp 700 ribu. Dua tahun dipakai, sudah rusak, minta ganti. Bola lampu kalau pakai panel surya juga tahan paling lama 4 bulan,” ungkapnya.

Supriadi yang saat ditemui tengah bersantai di teras rumah panggung bersama warga lainnya menyebut, sebenarnya wilayah RT 20 Kelurahan Sambaliung sudah mendapat sambungan listrik PLN. Namun hanya di sekitar poros Jalan Limunjan saja, atau jalan yang sudah beraspal. Tiang dan jaringan listrik disebutnya, juga sudah terpasang di sebagian poros Jalan Kemakmuran. Hanya tersisa sekitar 3 kilometer saja, jarak antara permukimannya dengan tiang listrik terakhir yang telah berdiri di sisi jalan sirtu (pasir batu) tersebut.

Tak hanya permasalahan listrik. Kondisi jalan sirtu yang sudah banyak dihiasi lubang dan becek usai diguyur hujan.

Pemenuhan air bersih pun demikian. Saat musim hujan, masyarakat bisa sedikit berhemat karena bisa memaksimalkan air tadah hujan untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK). “Tapi kalau kemarau, terpaksa beli air dari Tanjung Redeb. Harganya Rp 100 ribu satu tangki (ukuran 1.200 liter),” terangnya.

Kondisi itulah yang membuatnya selalu serba salah. Saat musim hujan, kebutuhan air bersih bisa teratasi, tapi listrik tak bisa dipenuhi. Begitupun sebaliknya, saat kemarau energi listrik bisa maksimal tersimpan di aki yang menjadi baterainya, namun harus menyiapkan uang tambahan untuk membeli air bersih.

Tapi dari masalah-masalah yang diutarakannya itu, pemenuhan kebutuhan listriklah yang dianggap paling mendesak. Sebab, keberadaan PLTD dan jaringan listrik memang sudah sangat dekat dengan permukimannya. “Malah kalau malam, suara mesin dari PLTD itu kedengaran sampai sini. Masa kami ini hanya dapat suara bisingnya saja, tidak dapat listriknya,” ungkap dia.

Saat malam, disebutnya, tak banyak yang bisa dilakukan warga. Biasanya hanya berkumpul dengan tetangga. Pagi harinya, sejak pukul 06.00 hingga 11.00 Wita, mereka sudah berada di kebun masing-masing yang tak jauh dari permukimannya. Supriadi sendiri mengaku memiliki kebun yang ditanami pisang, lengkuas, sayuran, dan kelapa sawit di lahan seluas 8 hektare.

“Setelah makan di rumah, siangnya kembali lagi, sekitar pukul 14.00 sampai 18.00 Wita,” terangnya.

“Alhamdulillah, hasil berkebun cukup untuk makan dan biaya sekolah anak,” sambungnya.

Sementara ibu-ibu di kawasan tersebut, selain menyiapkan kebutuhan rumah tangga, juga bertugas untuk mengantar dan jemput anak-anak mereka bersekolah di kawasan Limunjan, Kelurahan Sambaliung. “Bahkan ada yang harus tiga kali bolak-balik karena jam sekolah anaknya berbeda,” katanya.

“Yang pasti, anak-anak di kampung ini sekolah semua. Tapi karena tak ada penerangan yang memadai, membuat anak-anak kami cukup kesulitan belajar di rumah saat malam hari,” lanjutnya.

Jaringan telekomunikasi di lingkungannya juga belum memuaskan. Hanya lancar untuk menelepon dan kirim pesan via SMS. Sementara untuk internet, masih kurang lancar.

Selama enam tahun menghuni Kampung Bugis itu, Supriadi mengaku baru dua kali mendapat bantuan dari pemerintah. “Memang selama enam tahun di sini, baru dua kali kami dapat bantuan sembako dari pemerintah. Tapi kalau pemerintah yang mengunjungi kami di sini, belum pernah. Karena saat dapat bantuan, kami yang ambil di kelurahan,” katanya.

Ketua RT 20 Kelurahan Sambaliung, Burhan, mengakui sebagian warganya memang belum bisa menikmati listrik dari PLN. Diakuinya, dari 175 KK dan 682 jiwa yang dipimpinnya, memang tersisa 30 KK di Kampung Bugis tersebut yang belum menikmati aliran listrik PLN.

Burhan yang baru menjabat sekitar dua bulan, mengakui memang belum pernah mengunjungi warga yang disebutnya memang berada ujung Kelurahan Sambaliung. “Kalau ketua RT yang lama sudah pernah, tapi jarang-jarang juga. Paling kalau ada acara saja,” katanya.

Yang pasti, ujar Burhan, walau masih seumur jagung menjabat, dirinya sudah mengusulkan agar warga di Kampung Bugis tersebut bisa secepatnya mendapatkan sambungan listrik. “Saat musrenbang yang baru-baru ini, sudah saya usulkan di kelurahan dan kecamatan,” ungkapnya.

Sementara itu, Camat Sambaliung Nazaruddin juga mengaku sudah berupaya agar usulan masyarakat tersebut secepatnya bisa terealisasi. Karena diakuinya, usulan sambungan listrik tersebut sudah mendapat respons positif dari Pemkab Berau. Sebab, usulan itu sejalan dengan program Bupati Berau Muharram, yang ingin menuntaskan pelayanan listrik dan air bersih di tahun 2021. “Usulan sudah kami ajukan. Kami pihak kecamatan hanya berupaya, penentuannya dari pemda (pemerintah daerah) sendiri,” ujar Nazaruddin. (har/udi)


BACA JUGA

Sabtu, 23 Mei 2020 09:38

Salat Id di Rumah Saja

TANJUNG REDEB - Pemerintah Kabupaten Berau telah mengambil keputusan untuk…

Sabtu, 23 Mei 2020 09:30

Pintu Masuk Berau Tetap Dijaga

BUPATI Berau Muharram menegaskan, jelang Hari Raya Idulfitri penjagaan di…

Sabtu, 23 Mei 2020 09:29

Meski Waswas, Pasar Tetap Dikunjungi

TANJUNG REDEB – Meski pandemi Covid-19 belum berakhir, namun masyarakat…

Jumat, 22 Mei 2020 11:29

Mau Lebaran Bandara Kalimarau Sepi Penumpang, Sepekan hanya Tiga Penerbangan

TANJUNG REDEB – Sejak diberlakukan pembatasan penumpang, aktivitas penerbangan di…

Jumat, 22 Mei 2020 11:24

BLT Tahap II Akhirnya Disalurkan

TANJUNG REDEB – Bantuan langsung tunai (BLT) tahap dua senilai…

Kamis, 21 Mei 2020 23:34

Mantan Kakam Divonis 2,6 Tahun

TANJUNG REDEB – Terdakwa kasus penerbitan izin kawasan hutan, Bajuri,…

Kamis, 21 Mei 2020 16:25

Ringankan Beban Petani, Bantu Bibit dan Pemasaran

Kabupaten Berau memiliki potensi pertanian yang sangat besar. Dengan luasan…

Kamis, 21 Mei 2020 16:21

Kucurkan Rp 34 Miliar untuk BLT Tahap Dua

TANJUNG REDEB – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau akan segera menyalurkan…

Kamis, 21 Mei 2020 16:15

Syukuran HUT Ke-8 Berau Post

TAK ada penyambutan tamu. Tak ada perayaan. Hanya ungkapan rasa…

Rabu, 20 Mei 2020 00:22

Objek Wisata di Berau Masih Ditutup, Lebaran Tetap di Rumah Saja

TANJUNG REDEB – Seperti tahun-tahun sebelumnya, saat libur Lebaran, sejumlah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers