MANAGED BY:
SABTU
19 SEPTEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Selasa, 30 Juni 2020 21:50
Penyebar Islam Berdarah Dua Kesultanan
MAKAM NISAN KUDA: Makam dengan nisan berbentuk kuda ini diketahui memiliki sejarah. Dari cerita Amiril Umrah, sejarawan di Pulau Derawan, yang dimakamkan adalah Ligadung Malawi, putra seorang sultan bergelar Pangeran Aji Kuning II. Ligadung Malawi juga memiliki keturunan Kesultanan Sulu dari ibunya Musa Balimbing.

Terpisah, Retno, Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau menjelaskan, untuk bisa masuk ke dalam wisata sejarah, pihaknya akan melakukan penelitian lebih lanjut, terkait sejarah pasti makam tersebut.

“Seperti makam Raja Alam di Kecamatan Batu Putih. Itu butuh penelitian yang panjang. Harus mendatangkan peneliti dari luar Berau. Yang menguasai sejarah-sejarah seluruh Nusantara,” ujarnya.

Menurutnya, izin cagar budaya harus diurus di pemerintah provinsi. Dalam catatan yang ada, memang tidak tertera tahun berapa Lidagung Malawi datang ke Indonesia, tepatnya ke Pulau Derawan. Terlebih berapa lama, Ligadung Malawi berada di pulau tersebut. “Banyak yang mengaku keturunan beliau. Tapi untuk membuktikannya perlu penelitian juga,” ujarnya.

Terkait dengan pemugaran makam, pihaknya telah melakukan beberapa perbaikan. Termasuk pemasangan plang tanda makam tersebut. “Tahun-tahun sebelumnya selalu dilakukan perbaikan. Namun tahun ini terkendala anggaran, karena ada pengalihan anggaran untuk penanganan pandemi Covid-19,” ungkapnya.

Sementara itu, Budayawan Berau, Safruddin Ithur mengaku hanya mengetahui selentingan berita soal adanya makam yang kabarnya keturunan sultan itu. “Mereka itu kan orang laut. Orang-orang Suluk (suku dari Kesultanan Sulu, red). Mereka bergerak dari wilayah Selatan Indonesia. Mereka bukan perantau, mereka memang hidup di laut. Di mana ada air tawar, mereka singgah dan menetap,” katanya.

Ia mengakui, sekitar 150 tahun silam, Pulau Derawan memang lebih dulu dihuni penduduk daripada Pulau Maratua. Saat Raja Alam berperang melawan Belanda tahun 1810, orang Bajau Suluk, termasuk Raja-Raja dari Bugis, membantu Raja Alam untuk berperang. Karena kalah berperang, banyak petinggi-petinggi dari Suluk yang mengabdi di Kesultanan Gunung Tabur maupun Kesultanan Sambaliung.

Halaman:

BACA JUGA

Kamis, 10 September 2020 19:52

Hasil Tes Kesehatan Tidak Menggugurkan Pencalonan

TANJUNG REDEB - Pemeriksaan kesehatan yang dijalani para bakal calon…

Kamis, 10 September 2020 19:51

Lion Air Buka Rute ke Kalimarau

TANJUNG REDEB – Pesawat Lion Air akhirnya resmi beroperasi di…

Kamis, 10 September 2020 19:48

Minta Paslon Patuhi Protap Kesehatan

TANJUNG REDEB - Kapolres Berau, AKBP Edy Setyanto Erning, tegas…

Kamis, 10 September 2020 19:46

Bupati Berau Terkonfirmasi Covid-19

TANJUNG REDEB - Kabar mengejutkan datang dari Bupati Berau, Muharram.…

Rabu, 09 September 2020 20:17

Tambah 8 Kasus Konfirmasi

TANJUNG REDEB - Kasus terkonfirmasi virus corona (Covid-19) di Bumi…

Rabu, 09 September 2020 18:50

Dinkes Belum Terima Keluhan

TANJUNG REDEB - Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo dikabarkan…

Rabu, 09 September 2020 18:47

Seri - Agus Diperiksa 8 Jam

TANJUNG REDEB - Setelah mendaftarkan diri di Komisi Pemilihan Umum…

Selasa, 08 September 2020 19:35

Satgas RT Perlu Regulasi

TANJUNG REDEB – Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr…

Selasa, 08 September 2020 19:30

Sita 27,93 Gram Sabu dari Seorang Mekanik

TANJUNG REDEB- Seorang mekanik berinisial BAH terpaksa berurusan dengan pihak…

Selasa, 08 September 2020 19:29

Cegah Covid-19, Berlakukan Akses Satu Pintu

TANJUNG REDEB – Kasus terkonfirmasi Covid-19 di Kabupaten Berau terus…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers