MANAGED BY:
SABTU
23 JANUARI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

SANGGAM

Kamis, 05 November 2020 10:50
Cara Mencegah Remaja Terpapar Radikal Terorisme
Ilustrasi Foto :Alinea.ID

PROKAL.CO,

Masih lekat di ingatan, ketika seorang remaja melakukan bom bunuh diri di Hotel JW Marriot Jakarta. Remaja itu bernama Dani Dwi Permana, 18 tahun, pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott Jakarta 17 Juli 2009. Meski banyak yang menganggap apa yang ia lakukan adalah kejahatan besar, namun bagi remaja ini, boleh jadi dia merasa sedang melakukan aksi heroik. Baginya melakukan pengeboman adalah sebuah aksi terpuji dengan surga sebagai ganjaran, plus bidadari surga sebagai hadiah terindah.

Ada pula dua remaja, masing-masing Yusuf Fadhil 18 tahun dan Firman Halim (16). Keduanya sebagai pelaku aksi bom bunuh diri ke Gereja Santa Maria Tak Bercela di Surabaya Minggu, 13 Mei 2018. Tak hanya dua remaja kakak beradik ini, ayahnya, ibu, dan kedua adik mereka juga melakukan aksi bom bunuh diri di Surabaya.

Lantas, begitu mudahkah seseorang bisa terpengaruh menjadi pelaku bom bunuh diri? Apa yang menjadikan seorang remaja cerdas dengan mudah melepas genggaman impiannya demi sebuah aksi konyol?

Satu bulan terakhir, media ini berhasil membuat survei singkat yang diikuti 35 responden yakni remaja usia 16 sampai 20 tahun, melalui media sosial. Dari jumlah tersebut, ternyata ada 20 persen remaja yang mengatakan setuju soal jihad demi tegaknya negara Islam. Sementara sisanya tidak setuju. Meski survei yang dilakukan sangat terbatas, namun ini perlu menjadi perhatian serius.

Lebih jelas, Mata Air Foundation dan Alvara Research Center pernah merilis survei tentang persepsi jihad di kalangan mahasiswa dan pelajar. Persentase mahasiswa dan pelajar yang setuju jihad demi tegaknya negara Islam sudah melebihi 20 persen. CEO Alvara Research Center Hasanuddin Ali mengungkapkan, penetrasi ajaran intoleran sudah masuk di kalangan pelajar, kemudian diperkuat saat menjadi mahasiswa melalui kajian-kajian di kampus. Demikian Hasanuddin seperti dilansir JPNN.com.

Saat media ini bertemu Komjen Pol Suhardi Alius, kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) kala itu, sebelum digantikan Komjen Pol Boy Rafli Amar, mengatakan bahwa agama hanya dijadikan 'bungkus' dalam setiap aksi tindakannya. Ini yang membuat gerakan terorisme tidak bisa dianggap enteng.

Halaman:

BACA JUGA

Selasa, 01 Desember 2020 20:11

Sensus Penduduk Berau Selesai, Begini Hasilnya...

TANJUNG REDEB – Badan Pusat Statistik (BPS) Berau telah menyelesaikan…

Selasa, 01 Desember 2020 20:10

Serap Tenaga Kerja lewat UMKM

TANJUNG REDEB – Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Berau…

Selasa, 01 Desember 2020 20:10

Sudah Tahap Pengaspalan

SAMBALIUNG – Ruas Jalan Poros SM Bayanuddin, Kecamatan Sambaliung mulai…

Senin, 30 November 2020 19:24

Jalin Silaturahmi lewat Gotong-Royong

SAMBALIUNG – Tiga RT di Kelurahan Sambaliung yaitu RT 11,…

Minggu, 29 November 2020 19:24

Fokus Penuhi Sarana dan Prasarana Sekolah

TANJUNG REDEB – Kepala Dinas Pendidikan Berau Murjani, pastikan Pemerintah…

Minggu, 29 November 2020 19:23

Dibenahi Agar Terlihat Asri

GUNUNG TABUR – Lingkungan RT 4, Kelurahan Gunung Tabur memiliki…

Minggu, 29 November 2020 19:23

Ubah Batok Kelapa menjadi Barang Bernilai

MARATUA – Tak selamanya limbah menjadi barang yang tak berharga.…

Minggu, 29 November 2020 19:22

Pasar Rakyat Senja Dioperasikan 1 Januari 2021

TANJUNG REDEB – Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Disperindagkop)…

Minggu, 29 November 2020 19:21

Dituding Tidak Adil

GUNUNG TABUR – Ketua RT 4 Kelurahan Gunung Tabur, Endin…

Sabtu, 28 November 2020 20:44

Pelanggaran Prokes Mulai Minim

TANJUNG REDEB – Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 terus ‘memburu’ masyarakat…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers