MANAGED BY:
KAMIS
23 SEPTEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Senin, 18 Januari 2021 20:03
11 Bagan Hanyut Dihantam Angin dan Gelombang
HANYUT BERSAMA BAGAN: Syarifuddin, nelayan yang hanyut bersama bagan miliknya, telah kembali ke rumahnya setelah ditemukan terdampar di Pulau Semama sekitar pukul 08.00 Wita kemarin.

SEBANYAK 11 bagan milik nelayan Kampung Tanjung Batu, Kecamatan Pulau Derawan, hanyut akibat hantaman angin kencang dan gelombang besar pada Sabtu (16/1) malam. Kejadian itu juga membuat salah satu nelayan bernama Syarifuddin (57), ikut hanyut.

Kapolres Berau AKBP Edy Setyanto Erning melalui Kapolsek Pulau Derawan, Iptu Zaenuri yang dikonfirmasi Minggu (17/1) menuturkan, pada pukul 22.00 Wita, Sabtu (16/1), Syarifuddin sedang berada di pondok bagan miliknya. Saat berada di bagan, Syarifuddin menyaksikan ketinggian gelombang yang meningkat dari biasanya. Ditambah embusan angin yang sangat kencang, membuat dirinya seperti terombang-ambing di atas bagan.

Walau menyadari kondisi angin dan gelombang yang membahayakan, Syarifuddin tetap bertahan. Karena untuk kembali ke rumahnya di Tanjung Batu, lanjut kapolsek, juga tidak memungkinkan di tengah gelombang dan angin kencang.

Beberapa saat kemudian, kekhawatiran Syarifuddin pun terjadi. Bagan miliknya dan 10 bagan lain di sekitarnya, hanyut dihantam gelombang dan angin kencang. Dirinya pun tak luput dari keganasan gelombang.

“Korban (Syarifuddin) ditemukan dalam keadaan selamat sekitar pukul 08.00 Wita, Minggu (17/1), di Pulau Semama,” ujar kapolsek.

Kapolsek melanjutkan, kejadian hanyutnya bagan tersebut pertama kali diketahui oleh Yunus, yang pada pukul 05.00 Wita, hendak menjemput Syarifuddin di bagannya. Namun saat tiba di lokasi, Yunus sudah tidak menemukan bagan dan korban. Kemudian Yunus menghubungi keluarganya untuk meminta bantuan mencari korban, sekaligus melaporkannya ke polisi.

“Korban saat ditemukan berada di dalam pondok yang ada pada bagan tersebut. Tidak ada luka, hanya trauma saja,” ucap perwira balok dua tersebut.

Ia melanjutkan, akibat kejadian itu, kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Karena bagan tersebut hanyut dan tidak ada yang bisa diselamatkan. “Kerugian hampir Rp 440 juta, untuk 11 bagan. Bagan itu, milik 10 orang, semuanya warga Tanjung Batu,” ucapnya.

Camat Pulau Derawan Tasrif yang dikonfirmasi, mengaku belum mendapatkan informasi terkait bencana tersebut karena sedang tidak berada di Tanjung Batu. “Malam (tadi malam) saya baru sampai ke sana (Tanjung Batu). Saya belum dapat kabar pastinya,” singkatnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau Thamrin menuturkan, pihaknya tidak mengerahkan tim ke Tanjung Batu.

Ia mengungkapkan, kemungkinan pihak kepolisian maupun kecamatan setempat, sudah berhasil mengatasinya, sehingga tidak meminta bantuan dari tim BPBD Berau. “Belum ada permintaan sampai sekarang (kemarin, red),” ujarnya.

Thamrin mengatakan, dirinya sudah menerima informasi tersebut pada pukul 09.00 Wita, Minggu (17/1). Dari informasi yang diterimanya, hanyutnya bagan tersebut dipicu oleh angin kencang dan gelombang besar. “Tapi tidak ada korban jiwa. Memang ada yang hanyut, tapi sudah ditemukan oleh warga dalam keadaan selamat,” ucapnya.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Berau, Tekad Sumardi, menambahkan, saat kejadian tersebut, tinggi gelombang mencapai 1,5 hingga 2 meter, serta kecepatan angin melebih 38 knot.

“Biasanya di kawasan itu tinggi gelombangnya hanya hanya 0,25 hingga 0,50 Cm, dan kecepatan angin tidak melebihi 38 knot,” ujarnya.

Ia menambahkan, kencangnya angin dan juga tingginya gelombang, dipengaruhi oleh awan kumulonimbus. Menurut Tekad, awan tersebut berbentuk awan vertikal menjulang yang sangat tinggi, padat, dan terlibat dalam badai petir dan cuaca dingin lainnya. Munculnya awan tersebut akibat fenomena La Lina.

“Memang saat ini puncak-puncaknya La Nina,” katanya.

Tekad melanjutkan, kemunculan awan kumulonimbus, sangat berpotensi membahayakan bagi dunia kelautan dan juga penerbangan. Karena awan tersebut, merupakan tumpukan awan yang tebal. Menyebabkan percepatan angin bisa berubah sangat cepat dan membuat gelombang meninggi.

“Saya sarankan, jangan dulu melakukan aktivitas di laut, seperti mencari ikan dan lainnya. Karena saat ini statusnya masih berbahaya,” pungkasnya. (hmd/udi)


BACA JUGA

Rabu, 22 September 2021 21:44

2 IRT Bawa Sabu

SATUAN Resort Narkoba (Satresnarkoba) Polres Nunukan menggagalkan upaya penyelundupan 2…

Rabu, 22 September 2021 20:43

Pilkakam Serentak Dipastikan November

TANJUNG REDEB - Pemilihan Kepala Kampung (Pilkakam) Serentak 2021 di…

Rabu, 22 September 2021 20:30

Daerah Terbentur Kewenangan

TANJUNG REDEB - Abrasi di Pulau Derawan perlu menjadi perhatian…

Selasa, 21 September 2021 19:54

Kasus Melandai, Angka Kematian Tinggi

TANJUNG REDEB – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, Iswahyudi mengungkapkan,…

Selasa, 21 September 2021 19:51

Penyelesaian Proyek Stadion di Berau, Butuh Rp 18 M Lagi

TANJUNG REDEB - Pembangunan Stadion Olympic Mini di Kecamatan Teluk…

Selasa, 21 September 2021 19:48

Dorong Lahirnya Perda Pesantren

TANJUNG REDEB – Seluruh Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (F-PPP) mendapat…

Senin, 20 September 2021 20:21

Vaksinasi Sasar Santri Pesantren

TANJUNG REDEB - Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau Iswahyudi, memastikan…

Senin, 20 September 2021 20:20

Manajer PT WHS Jadi Tersangka

TANJUNG REDEB – Manajer PT Wahana Hidup Sejahtera (WHS) Diler…

Senin, 20 September 2021 20:07

Antigen Gratis di Seluruh PKM

TANJUNG REDEB - Tes antigen sebagai salah satu syarat mengikuti…

Minggu, 19 September 2021 19:48

Fokus Vaksinasi Pelajar

TANJUNG REDEB – Pemerataan vaksinasi bagi pelajar di Kabupaten Berau…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers