MANAGED BY:
MINGGU
22 MEI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Sabtu, 15 Januari 2022 20:37
Dramaturugi Menurunkan Kepercayaan
Oleh: Atika Nurin Faridah

BEBERAPA waktu lalu, untuk pertama kalinya saya mendengar istilah dramaturgi, tepatnya di kelas Pengantar Sosiologi. Kami belajar apa itu dramaturgi lengkap dengan contohnya. Dari kelas itulah, kemudian saya memikirkan banyak hal tentang dramaturgi di dalam atau di luar diri saya. Kali ini saya ingin menyampaikan apa saja yang saya rasakan dan temukan.

Dalam pengertian saya, dramaturgi adalah proses ketika individu ingin menyembunyikan beberapa sifat asli dirinya, dan memunculkan sikap-sikap baru untuk menunjang kehidupannya.

Dramaturgi sebenarnya adalah hal yang wajar. Namun menurut saya, tidak semua dramaturgi dapat disebut wajar. Dengan melihat pengertian awal, dramaturgi yang sebenarnya semacam tipuan. Tentu sedikit banyak akan merugikan orang lain. Orang lain akan cenderung kebingungan untuk menilai seseorang yang kemudian akan berpengaruh juga kepada bagaimana mereka menyikapi orang tersebut.

Dramaturgi yang wajar adalah yang cenderung memberi manfaat yang lebih besar daripada kerugian yang ditimbulkannya. Sedangkan yang tidak seperti itu adalah dramaturgi yang kurang atau bahkan tidak wajar.

Dramaturgi memang tak bisa dilepaskan dari kehidupan kita, apalagi di zaman yang penuh dengan teknologi seperti saat ini. Dengan kemajuan teknologi, sebuah informasi dapat menyebar ke berbagai penjuru dunia hanya dengan hitungan detik, dan tanpa peduli apakah itu informasi yang benar ataukah hoaks belaka.

Kebiasaan membaca yang kurang akan membuat individu semakin mudah menelan informasi tadi secara mentah-mentah. Mereka yang cenderung suka hal instan, akan segera memutuskan apakah ia setuju atau tidak, apakah ia akan membagikan ulang informasi yang didapatnya atau tidak, apakah mereka akan memuji atau mencaci, dan keputusan-keputusan lainnya. Meski terlihat kecil, keputusan-keputusan ini sangatlah berpengaruh bagi hal-hal besar selanjutnya.

Mari kita membayangkannya. Seorang individu yang tingkat bacanya rendah memperoleh sebuah informasi. Ia butuh tak kurang dari lima menit untuk merasa paham, kemudian mulai menyimpulkan dan memutuskan apa yang akan dilakukannya. Ia memutuskan untuk membagikannya ke banyak orang melalui akun media sosialnya. Ia berpikir semua orang harus tahu ini.

Nah, jika seandainya informasi itu benar, maka mungkin saja tidak menjadi masalah apapun, namun seandainya informasi itu hoaks atau salah, maka dapat dipastikan bahwa kesalahpahaman akan terjadi di mana-mana. Hasilnya akan sangat berbeda tentunya.

Selain merugikan orang lain, beberapa kasus dramaturgi juga dapat merugikan sang pelaku sendiri. Mereka yang melakukan dramaturgi mengalami saat ketika ia tidak menjadi dirinya sendiri. Terkadang, ia harus rela menunda atau meninggalkan sesuatu yang sebenarnya ia inginkan, atau bahkan melakukan sesuatu yang kurang disukai atau dibenci oleh dirinya.

Hal itu demi sebuah kesan yang akan dilihat orang lain dari dirinya. Meski tak sepenuhnya salah, sikap ini justru menghambat perkembangan dirinya. Contoh sederhana dari hal ini adalah ketika kita dihadapkan kepada suatu pilihan, katakanlah seorang anak kelas 11 SMA yang harus memilih akan masuk jurusan IPA atau IPS. Anak ini memiliki bakat di bidang IPS, namun seperti anggapan orang-orang di sekelilingnya bahwa jurusan IPA adalah yang terbaik dan jurusan IPS hanya tempat orang-orang ‘nakal’. Maka karena ia tidak ingin dicap ‘nakal’, ia memutuskan untuk masuk jurusan IPA tanpa memikirkan kembali segala konsekuensi yang akan dihadapinya. Padahal jika ia mengikuti minat dan bakatnya, yaitu jurusan IPS, sangat mungkin baginya untuk menjadi orang-orang yang sukses dalam bidang tersebut.

Dari uraian serta contoh sederhana tadi, saya rasa Anda mulai paham dramaturgi seperti apa yang saya maksud. Lalu, bagaimana dengan dramaturgi di lingkungan kita saat ini? Entah itu dalam lingkup pertemanan, masyarakat, bahkan negara?

Salah satu yang dapat kita temukan adalah dramaturgi di politik Indonesia. Semakin hari, saya rasa politik di Indonesia semakin kacau-balau. Ini bukan tentang siapa pemimpinnya, saya lebih melihat ke arah bagaimana kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap pemerintahan saat ini sangatlah menurun. Banyak kritik, keluhan dan pernyataan-pernyataan tidak setuju yang tersebar di berbagai media, khususnya media sosial. Dengan menurunnya kepercayaan, maka semakin sulit pemerintah membangun dan mencapai tujuan negara, padahal tercapainya tujuan dapat membuktikan bahwa pemerintahan bekerja dengan baik.

Namun apakah menurunnya kepercayaan masyarakat terjadi tanpa sebab? Tentu tidak, bukan? Ini tak lain dan tak bukan adalah sebuah efek yang ditimbulkan oleh dramaturgi tadi.

Setiap pejabat atau pemegang kekuasaan di negara kita, selalu melontarkan pernyataan kepeduliannya hampir di setiap kesempatan. Seperti kita tahu, bahwa hal tersebut  sangatlah wajar dilakukan. Namun, jika tidak didampingi dan didukung oleh bukti-bukti konkret, pandangan masyarakat tentu akan berubah. Mereka yang semula percaya dan merasa bisa mengandalkan pemerintah, akan kehilangan kepercayaan itu. Ditambah lagi dengan kejadian-kejadian aneh tapi nyata yang sering terjadi belakangan ini. Salah satunya adalah para elite politik sering menggunakan bencana alam sebagai kesempatan untuk menguatkan posisinya. Alih-alih memikirkan solusi ke depannya, terkadang mereka bahkan tanpa ragu memasang baliho atau poster berisikan kampanye masing-masing, demi terlihat peduli akan bencana tersebut.

Hal ini tentu bertolak belakang dengan pernyataan kepedulian yang sebelumnya disampaikan. Dengan kata lain, hal tersebut seolah-olah menjadi sebuah dramaturgi semata. Dan tampaknya termasuk sebuah dramaturgi yang kurang wajar dilakukan.

Terakhir, saya tidak menjamin bahwa semua yang saya tulis adalah sesuai dengan kenyataan di lapangan, mengingat pengetahuan saya yang masih sangat terbatas, namun setidaknya itulah yang saya lihat dan rasakan selama ini. Terima kasih. (*/udi)

*) Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Malang

 


BACA JUGA

Senin, 14 Maret 2022 20:02

IKN, Mau Jadi Kota Apa?

IKN sudah masuk tahap baru. Tahap pembangunan. Setelah sebelumnya melewati…

Minggu, 16 Januari 2022 19:51

Pelayanan Publik saat Pandemi

PANDEMI Covid-19 di Indonesia ditetapkan sebagai bencana nasional yang disampaikan…

Sabtu, 15 Januari 2022 20:37

Dramaturugi Menurunkan Kepercayaan

BEBERAPA waktu lalu, untuk pertama kalinya saya mendengar istilah dramaturgi,…

Sabtu, 15 Januari 2022 20:33

Baik Atau Buruknya Gadget

SEPERTI yang kita ketahui, dunia modern manusia tidak luput dari…

Rabu, 29 Desember 2021 20:13

Penjaminan Bank Garansi untuk Pelaksanaan Anggaran Akhir Tahun

PELAKSANAAN Anggaran akhir tahun tentu sangat berbeda dengan bulan sebelumnya.…

Jumat, 24 Desember 2021 09:20

Penyampaian LPJ Bendahara Harus Tepat Waktu

SUATU siklus anggaran (budget cycle) dimulai sejak Penyusunan Anggaran, Pelaksanaan…

Kamis, 23 Desember 2021 19:51

Penyampaian LPJ Bendahara Harus Tepat Waktu

SUATU siklus anggaran (budget cycle) dimulai sejak Penyusunan Anggaran, Pelaksanaan…

Selasa, 30 November 2021 19:42

Jalani Hidup dengan Mindfulness

DALAM menjalani kehidupan, banyak sekali kegiatan yang mengharuskan seseorang bisa…

Kamis, 25 November 2021 19:41

PENDIDIKAN ISLAM DALAM KELUARGA

PENDIDIKAN adalah usaha sadar untuk mengembangkan akhlak, keterampilan, dan pengetahuan…

Selasa, 23 November 2021 19:52

Semua Bisa Disusupi, Termasuk MUI

DENSUS 88 menangkap Ahmad Zain An-Najah salah satu anggota Komisi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers