MANAGED BY:
MINGGU
22 MEI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Kamis, 20 Januari 2022 20:15
Dipindahkan sebagai Penghargaan

Kadinkes: Jadi Bukan Diberhentikan

Iswahyudi

TANJUNG REDEB – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau menegaskan tak ada pemecatan terhadap dr Alex Vijay. Melainkan hanya melakukan pemindahan lokasi kerja.

Dijelaskannya, dr Alex Vijay telah bertugas selama delapan tahun di Kampung Merapun, Kecamatan Kelay, sehingga perlu dilakukan penyegaran. Pemindahan ini juga merupakan penghargaan terhadap dr Alex dari Dinkes Berau.

“Tidak tepat sih kalau menggunakan kata diberhentikan. Yang tepat itu di-rolling,” ujarnya saat berbincang dengan Berau Post.

Lanjutnya, dr Alex awalnya akan ditempatkan di pusat kesehatan masyarakat (PKM) Gunung Tabur. Supaya bisa bertugas di sekitar wilayah perkotaan. “Sekarang saya tanya, jika ada dokter yang mengabdi selama delapan tahun di Merapun, kemudian saya tempatkan di Gunung Tabur. Apakah punishment (hukuman, red) atau reward?,” imbuhnya.

Menurutnya, pergeseran di dalam instansi merupakan hal wajar. Apalagi melihat masa kerja dr Alex yang telah mencapai delapan tahun di Kampung Merapun. “Jadi bukan diberhentikan. Itu tidak benar. Jangan menggiring opini. Itukan ada penilaian juga, apakah tepat waktu untuk masuk bekerja, pelayanannya kepada masyarakat seperti apa. Kan pimpinan punya penilaian sendiri. Bagaimana kinerjanya,” terang Iswahyudi.

Dalam penilaian itu, laporan dari pimpinan PKM bukan satu-satunya yang menjadi pertimbangan. Melainkan juga ada penilaian dari sesama rekan kerja. Kemudian baru pihaknya mengambil keputusan.

Kemudian, ia juga menerangkan, surat tidak dilanjutkannya masa tugas di Kampung Merapun yang didapat melalui pesan singkat juga tidaklah benar. Sebab, surat tersebut merupakan dari pimpinan PKM (Pimpus) ke Dinkes Berau. “Apakah laporan itu harus kami serahkan ke para dokter. Kan tidak,” bebernya.

Usai menerima laporan kinerja dari para Pimpus, pihaknya lalu mengambil langkah untuk memperpanjang atau tidaknya dokter yang bersangkutan. Hal serupa juga berlaku pada dr Alex Vijay, yang diungkapkan Iswahyudi hingga kemarin, belum menghadap dirinya, apakah tetap ingin bertahan atau pindah tugas.

“Jika ia menghadap saya, dan berkata masih ingin mengabdi di Merapun tentu akan dipertimbangkan. Tetapi tidak ada sampai saat ini menghadap ke Dinkes. Terakhir ketemu Desember lalu saja,” tuturnya.

“Kami juga sampai sampai sekarang saya belum ada mengeluarkan SK (surat keputusan) sama sekali,” sambungnya.

Lebih lanjut, Iswahyudi turut mempertanyakan alasan dr Alex yang ngotot ingin terus bertugas di Kampung Merapun. Padahal pihaknya akan memidahkannya ke tempat yang baru, notabene dekat dengan wilayah perkotaan.

Kemudian, terdapat beberapa poin yang disampaikan Pimpus Merapun perihal kinerja dr Alex. Di antaranya kerja sama dan disiplin. Namun tetap memiliki prestasi berupa pelayanan yang baik. “Mungkin dia jenuh juga, makanya sering terlambat masuk,” katanya.

Disinggung mengenai Bahan Bakar Minya (BBM) untuk operasional, Iswahyudi mempersilahkan dr Alex Vijay, untuk berbicara di depan umum.  “Tanggung jawab itu ada di pimpus, secara organisasi saya tidak pernah mengeluarkan perintah atau kebijakan untuk melakukan penyelewengan. Tapi ingat, hal yang sama bisa terjadi, jika hal itu salah, maka bisa jadi pencemaran nama baik. Dan bisa dilakukan pengaduan yang sama,” pungkas Iswahyudi.

Diwartakan sebelumnya, dokter di Puskesmas Merapun dr Alex Vijay, terpaksa mengadu ke DPRD Berau mengenai nasibnya yang ‘digantung’ pemerintah. Sebab, dokter yang mengaku sudah delapan tahun mengabdi di Puskesmas Merapun itu, tak lagi mendapatkan perpanjangan kontrak per 31 Desember 2021 lalu.

Usai mengikuti hearing tertutup dengan Komisi I DPRD Berau, Senin (17/1) lalu, Alex juga diajak berdiskusi dengan beberapa anggota DPRD Berau lainnya, mengenai persoalan tersebut. Kepada beberapa anggota DPRD, yakni Ketua Komisi II Atilagarnadi, anggota Komisi II dan III, Falentinus dan M Ichsan Rapi, Alex mengaku hingga saat ini belum mengetahui apa kesalahannya, sehingga kontrak kerjanya tidak diperpanjang. 

Padahal, ujar dia, seperti di tahun-tahun sebelumnya, setiap jelang akhir tahun, dirinya selalu diminta untuk mengajukan permohonan perpanjangan kontrak, untuk melanjutkan pengabdian di puskesmas tersebut. Namun tahun ini, dirinya tidak lagi mendapatkan perpanjangan kontrak, malah diberikan surat ‘pemberhentian’ yang ditandatangani pimpinan puskesmas (Pimpus) Merapun.

Alasan pemberhentian yang tertuang dalam surat tersebut, Alex dianggap tidak bisa bekerja sama. Namun yang dipertanyakannya, kerja sama dalam bentuk apa yang dimaksudkan. Sebab selama delapan tahun memberikan pelayanan kesehatan untuk masyarakat lima kampung di pedalaman Kelay tersebut, Alex justru mengaku sudah seperti menemukan keluarga baru dengan masyarakat setempat. “Tidak ada laporan dari masyarakat mengenai pelayanan kesehatan dari saya,” katanya.

“Tidak pernah juga ada masalah yang muncul karena pelayanan kesehatan yang saya berikan ke masyarakat. Dan secara kelembagaan, saya sendiri tidak pernah diberikan SP (Surat Peringatan) 1, SP 2, SP 3,” sambungnya saat berbincang di salah satu rumah makan yang ada di Tanjung Redeb, Senin lalu.

Memang diakui Alex, dirinya cukup vokal dalam menyampaikan pendapatnya terkait beberapa kebijakan puskesmas. Salah satu contoh yang disampaikannya, dirinya tidak sependapat dengan kebijakan mengenai pembelian bahan bakar minyak (BBM) untuk menunjang operasional pelayanan kesehatan di Puskesmas Merapun. “Karena kita (dokter) harus keluar uang sendiri, padahal di operasional ada (dianggarkan). Malah terkadang, pasien juga dibebankan untuk pembelian BBM, karena pelayanan kami sampai ke Muara Lesan, lima kampung yang kami layani,” terang dia.

Persoalan pemberhentian dirinya, sebenarnya tidak akan dipersoalkan. Asal dirinya mendapatkan alasan pemberhentian yang jelas dari Pimpinan Puskesmas maupun Dinas Kesehatan. “Malah surat pemberhentiannya hanya difotokan dan dikirimkan (via) WA. Sampai sekarang saya tidak dapat fisiknya,” akunya.

Mengenai panggilan kerja, dirinya sebenarnya sudah banyak mendapat tawaran dari luar daerah, khususnya di kampung halamannya, Provinsi Papua. Bahkan dengan tawaran gaji yang lebih besar. Tapi, lanjut Alex, bukan itu yang dikejarnya. Dirinya sangat menikmati delapan tahun pengabdiannya kepada masyarakat di pedalaman Kelay tersebut. “Dan yang terpenting, sebenarnya mengapa saya bawa persoalan ini sampai ke Dewan, karena saya ingin tahu apa sebenarnya salah saya. Mengapa saya diberhentikan hanya melalui foto yang dikirim melalui WA,” ungkapnya.

Mendengarkan keluhan tersebut, Atilagarnadi langsung berkoordinasi dengan Kepala Dinas Kesehatan Berau Iswahyudi. Melalui sambungan telepon, pria yang akrab disapa Gatot tersebut, mempertanyakan perihal pemecatan dokter di Puskesmas Merapun. “Kami tidak ingin mencampuri persoalan teknis di dalam. Tapi melihat persoalan ini, kami lebih memandangnya dari sisi kemanusiaan. Karena yang menjadi korban dari persoalan ini adalah masyarakat, karena akan ada kekosongan pelayanan,” ujar Gatot ketika menghubungi Iswahyudi.

Gatot mengaku, sangat miris mendapat kabar tersebut. Sebab diakuinya, sangat sulit mendapatkan seorang dokter yang bersedia mengabdi selama bertahun-tahun di kampung pedalaman seperti Merapun. “Kalau misal diberhentikan, apa semudah itu mencari penggantinya,? tanyanya.

Dirinya pun meminta jaminan kepada Iswahyudi, jika pemberhentian dokter yang dilakukan di Puskesmas Merapun, tidak akan mengganggu pelayanan kesehatan kepada masyarakat di sana. “Saya minta, besok (kemarin) harus sudah ada dokter di sana,” tegasnya. 

Hal senada disampaikan M Ichsan Rapi dan Falentinus. Bahkan menurut pria yang akrab disapa Daeng Iccang itu, pemerintah yang seharusnya memberikan apresiasi atas pengabdian dokter Alex selama delapan tahun di Kelay. “Sekarang ada orang yang mau mengabdi di kampung, malah dibuang. Harusnya diapresiasi, karena sangat sulit untuk mencari dokter yang mau mengabdi di pedalaman. Cari yang mau mengabdi di Berau (perkotaan) saja sulit,” ujarnya.

Ditambahkan Falentinus, jika memang ada persoalan yang membuat dokter Alex harus diberhentikan di puskesmas tersebut, dirinya meminta kepada pemerintah untuk melakukan audit menyeluruh di Puskesmas Merapun. “Supaya ada kejelasan, sebenarnya apa permasalahannya,” katanya. (hmd/arp)


BACA JUGA

Sabtu, 21 Mei 2022 19:06

Penumpang di Kalimarau Mulai Meningkat

TANJUNG REDEB – Sejalan dengan perkembangan kasus Covid-19 yang terus…

Sabtu, 21 Mei 2022 19:00

Sinergitas di Satu Dasawarsa Berau Post

Sabtu (21/5) hari ini, sedasawarsa sudah usia Berau Post. Harian…

Sabtu, 21 Mei 2022 07:23

Nah Kasus Apa...?? Kejati Geledah UPTD PPRD Kaltim di Berau

TANJUNG REDEB – Tim penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kaltim, melakukan…

Jumat, 20 Mei 2022 20:06

PH Siapkan Saksi Meringankan

TANJUNG REDEB - Penasihat Hukum tiga terdakwa perkara dugaan tindak…

Jumat, 20 Mei 2022 20:06

Lebih Sulit dan Mahal

TANJUNG REDEB - Pemerintah telah menghapus syarat mendirikan bangunan dengan…

Kamis, 19 Mei 2022 20:18

Akses Permukiman Terputus akibat Banjir, 43 KK Terisolasi

TELUK BAYUR – Intensitas hujan yang tinggi sejak beberapa hari…

Kamis, 19 Mei 2022 20:17

Kenalkan Batik Maluang, Tetap Utamakan Pendidikan

Resti Noveliani masih berusia tujuh tahun. Namun putri dari pasangan…

Kamis, 19 Mei 2022 20:15

Pengunjung Bazar Ramaikan Vaksinasi

TANJUNG REDEB – Masih dalam rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT)…

Rabu, 18 Mei 2022 20:48
BREAKING NEWS

Mendag Kumpulkan Menteri Ekonomi ASEAN Guna Perkuat Perekonomian

JIMBARAN, 17 Mei 2022 –  Usai menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi…

Rabu, 18 Mei 2022 20:39

Bebas Murni Hanya Istilah

TANJUNG REDEB - Jaksa Penuntut Umum perkara pembebasan lahan lapangan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers