MANAGED BY:
MINGGU
02 OKTOBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Selasa, 12 April 2022 20:14
Akhirnya Pulau Maratua Terang 24 Jam
PROSES PANJANG: Mantan Kadistamben dan Kadisbudpar Berau Mappasikra M saat mengunjungi PLTD Maratua beberapa waktu lalu.

MARATUA - Masyarakat Kecamatan Maratua akhirnya akan merasakan listrik 24 jam. Itu dipastikan Manager PLN UP3 Berau, Deny Setiawan, Senin (11/4).

Dikatakannya, listrik di Kecamatan Maratua akan beroperasi 24 jam, mulai hari ini. Realisasi tersebut juga tak terlepas dari dukungan dari semua pihak. Pengoperasian listrik 24 jam itu juga salah satu wujud dalam mendorong pengembangan pariwisata di Pulau Maratua.

"Terwujudnya listrik 24 jam di Kecamatan Maratua, tentu bagian dari sinergi dengan pemerintah dan seluruh stakeholder. Sehingga program ini bisa terlaksana dengan baik," ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya.

Pemenuhan kebutuhan listrik 24 jam bagi masyarakat Maratua, memang menjadi salah satu komitmen PT PLN (Persero). Terlebih hal itu juga sudah menjadi harapan masyarakat di sana sejak lama.

Sebelum bisa terealisasi pelayanan 24 jam, Deny mengakui prosesnya cukup panjang. Secara bertahap, PT PLN mampu melakukan pemenuhan sambungan listrik mulai dari 8 jam hingga akhirnya beroperasi 24 jam di Maratua.

Diungkapkannya, masyarakat Maratua yang awalnya mengandalkan generator set (genset) untuk memenuhi kebutuhan listrik, akhirnya bisa merasakan masuknya pelayanan listrik dari PLN, melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Komunal, beberapa tahun silam. Namun setelah beroperasi, kebutuhan listrik masyarakat ikut meningkat. Keberadaan PLTS Komunal tidak cukup untuk menyalakan perangkat-perangkat elektronik masyarakat, yang jumlahnya semakin banyak.

Dengan meningkatnya penggunaan listrik masyarakat di pulau terluar tersebut, pemerintah melalui PLN serta dukungan Ketua DPRD Kaltim Makmur HAPK, berhasil merealisasikan keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), walau awalnya hanya bisa beroperasi selama 8 jam. Kemudian meningkat menjadi 12 jam, dan mulai hari ini akan beroperasi selama 24 jam.

"Semua itu kan bermula dari rencana pemerintah untuk melistriki seluruh masyarakat secara nasional. Rasio elektrifikasi, khusus daerah-daerah yang masuk 3T (terdepan, terpencil, dan tertinggal). Salah satunya memang adalah Pulau Maratua. Itu butuh effort (upaya) yang besar bagi PLN untuk menyediakan tenaga listrik. Karena ini kepulauan," jelasnya.

"Makanya kebijakan sebelumnya pemerintah melalui ESDM, banyak melakukan pengadaan PLTS yang dikelola secara mandiri. Dibuat jangka pendek pada saat itu," sambung Deny.

Lanjutnya, semakin ke sini, PLTS konsepnya memang belum andal, selain kapasitasnya yang terbatas dan PLTS belum menggunakan teknologi baterai. “Ketika matahari hanya di siang hari, ya di malam hari mati. Dengan kondisi seperti itu sehingga tidak bisa menjangkau seluruh masyarakat. Di sisi lain PLN pun harus mempersiapkan agar bisa melistriki seluruh desa," katanya.

Kemudian pada tahun 2020, kebetulan beberapa kampung di Berau sudah terjangkau jaringan listrik, salah satunya di Maratua. Tetapi saat itu, PLN belum memiliki banyak pembangkit untuk melayani seluruh kampung di Berau.

"Jadi kita itu berproses. Karena biaya operasional juga diperhitungkan. Kalau sebelumnya 12 jam, dengan 24 jam ini operasional kita tambah, dan itu sudah kita persiapkan 3 bulan sebelumnya," jelasnya.

"Memang sejak saya masuk, saya komit, Maratua ini pulau wisata, harus kita dukung listrik 24 jam. Tinggal menunggu ini naiknya konsumsi listrik, kita realisasikan 24 jam,” ujarnya.

Menurut data pihaknya, penggunaan listrik di Maratua rata-rata hanya 320 kW per bulan. “Memang pernah ada penggunaan sampai 380 kW di tahun baru, tapi rata-rata tetap 320 kW,” jelasnya.

Dengan penambahan jam operasional pelayanan, pihaknya memprediksi ada kenaikan penggunaan daya sebesar 20 persen dari sebelumnya.

Secara bisnis, lanjut dia, harganya memang belum masuk harga keekonomian di PT PLN. “Karena biaya operasional masih tinggi, belum profit,” terangnya. Namun demikian, ini salah satu tugas PLN yang berkomitmen melistriki, sekaligus mendorong perekonomian masyarakat, yang akan berujung pada peningkatan pendapatan pemerintah.

"Semoga dengan adanya listrik ini bisa membantu perekonomian warga. Kalau sudah 24 jam, resort sudah beralih ke PLN, otomatis biaya operasional mereka turun. Dengan turunnya operasional mereka, siapa tahu bisa menurunkan harga mereka, supaya makin menarik wisatawan," tuturnya.

Di samping itu, dengan ketersediaan daya listrik tersebut, PLN juga akan memberikan sebanyak 600 unit kompor listrik kepada masyarakat Maratua. Sasarannya, adalah 580 pelanggan rumah tangga. Sisanya, dibagi kepada pelaku UMKM di Maratua. “Sebetulnya itu adalah salah satu bentuk dukungan PT PLN terhadap program pemerintah,” ujarnya.

"Di mana ada program konfensi gas LPG ke kompor listrik. Tujuannya untuk mengurangi impor LPG yang memang sangat membebani APBN. Makanya diharapkan warga bisa beralih menggunakan kompor listrik," tuturnya.

Menurutnya, selain bisa mengurangi penggunaan gas LPG, juga mendukung program pemerintah mengurangi emisi karbon. Makanya dengan mengubah kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar minyak ke listrik, termasuk penggunaan kompor listrik.

Di sisi lain, masyarakat juga akan mendapat manfaat, karena penggunaan kompor listrik bisa menghemat pengeluaran hingga 30 persen, jika dibandingkan harus menggunakan gas LPG.

"Artinya, untuk 1 Kg gas itu setara dengan 7 kWh, sementara per kWh listrik hanya Rp 1.500,” terangnya.

Sehingga jika harga gas LPG 3 Kg sebesar Rp 45 ribu di Maratua, maka dengan menggunakan kompor listrik masyarakat hanya menghabiskan biaya sebesar Rp 31.500. “Itu kalau gas subsidi yang dipakai. Kalau yang non subsidi lebih mahal lagi,” jelasnya.

Untuk itu, pihaknya juga akan mendorong, agar Maratua menjadi contoh sebagai pulau wisata yang ramah lingkungan. “Itu bisa kita jual ke luar. Secara tidak langsung menjadi potensi untuk kebangkitan pariwisata di Berau tentunya," tutupnya.(mar/arp)


BACA JUGA

Sabtu, 01 Oktober 2022 14:08

Gandeng Swasta Benahi Taman

TANJUNG REDEB - Banyaknya fasilitas taman di Berau yang rusak,…

Sabtu, 01 Oktober 2022 14:00

Berdampak pada Kunjungan Wisatawan

TANJUNG REDEB – Bupati Berau Sri Juniarsih mengakui mahalnya harga…

Sabtu, 01 Oktober 2022 13:56

Alokasikan Anggaran Rp 31 M

TANJUNG REDEB - Wakil Bupati Berau Gamalis, turut menyoroti kerusakan…

Sabtu, 01 Oktober 2022 13:52

La Nina Diprediksi hingga Akhir 2022

  TANJUNG REDEB – Kepala Badan Meteorologi, Kimatologi dan Geofisika…

Jumat, 30 September 2022 11:18

Segera Tetapkan HET LPG

TANJUNG REDEB – Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) PSO di…

Jumat, 30 September 2022 11:15

Jembatan Talisayan Bakal Ditututp Total

TANJUNG REDEB – Perbaikan Jembatan Talisayan tengah dikerjakan. Guna menjamin…

Kamis, 29 September 2022 10:59

Lelang Ditarget November

TANJUNG REDEB - Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang…

Kamis, 29 September 2022 10:56

11 Nelayan Malaysia Dipulangkan

TANJUNG REDEB – Sebanyak 11 nelayan asal Pulau Bangau-Bangau dan…

Rabu, 28 September 2022 14:00

“Kalau Tidak Sanggup, Mundur Saja”

TANJUNG REDEB - DPRD Berau kembali menggelar Rapat Dengar Pendapat…

Rabu, 28 September 2022 13:49

Pemberantasan Minol Jadi Atensi

TANJUNG REDEB - Kejaksaan Negeri Berau kembali memusnahkan barang bukti…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers