MANAGED BY:
MINGGU
02 OKTOBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS

UTAMA

Rabu, 01 Juni 2022 19:56
Kembangkan ‘Mahkluk Halus’ Jadi Pupuk Organik

Kolaborasi Buma dan SMKN 6 Mengembangkan Pertanian di Berau

PENGEMBANGAN DAN PENELITIAN: Perwakilan Manajemen PT Buma dan Kepala SMKN 6 Berau serta beberapa siswa, berfoto bersama usai melakukan penelitian.

PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA) berkolaborasi dengan SMKN 6 Berau, membuat pupuk organik. Tujuannya, untuk membantu para petani di Kampung Merancang Ilir dan Merancang Ulu, serta beberapa kampung lingkar tambang Jobsite Lati, dan di seluruh Berau pada umumnya.

///////

Bukan sekadar bereksperimen untuk membuat pupuk organik. Tapi PT Buma serius untuk membantu para petani bisa mengembangkan pupuk organik secara mandiri.

Tak main-main, PT Buma juga mendatangkan ahli yang merupakan dosen dari Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur, Fery Abdul Choliq SP, MP, M.Sc, guna mengembangkan ‘makhluk halus’ atau bakteri yang ada di kampung, untuk dimanfaatkan menjadi pupuk dan pestisida organik.

Menurut Fery, saat ini pertanian di Bumi Batiwakkal – sebutan Kabupaten Berau – menunjukkan eksistensi yang bagus. Terlebih banyak lahan tidur yang bisa dimanfaatkan.

“Saya sudah dua bulan di sini, bersama dengan pelajar SMKN 6 akan mengembangkan pupuk ini,” ujarnya saat diwawancarai media ini, Senin (30/5).

Diungkapkannya, siswa dan guru di SMKN 6 Berau, saat ini sudah memproduksi lima merek pupuk yang siap dipasarkan. Produk yang mereka hasilkan yakni, Accelelator yang berasal dari Mikro Decomposer. Dengan fungsi mempercepat siklus unsur hara, sehingga menyuburkan tanah. Yang kedua, bisa yang dikembangkan melalui Bio-Insektisida, berguna untuk menyuburkan tanaman padi. Kemudian, Bio 6rowth yang dikembangkan dari Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR), guna memacu pertumbuhan dan fisiologi akar, serta mampu mengurangi penyakit atau kerusakan oleh serangga. Fungsi lainnya yaitu sebagai tambahan bagi kompos dan mempercepat proses pengomposan. Kemudian, Bio Best yang berasal dari Bio Fungisida, berfungsi untuk mengendalikan penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi (cendawan). Dan yang terakhir adalah Subur, yakni pupuk organik.

“Nama bakterinya Isolat, diambil dari Merancang, sempat diolah atau diteliti di Malang. Setelah jadi, dikembang di Merancang,” bebernya.

Fery mengatakan, pertanian tidak akan pernah habis. Kendala tentu ditemui, salah satunya adalah regenerasi petani. Hal itu tentu menjadi pekerjaan rumah penting bagi instansi pemerintahan. Namun dirinya yakin, dengan pengembangan yang dilakukan SMKN 6 dan juga Buma, pertanian di Berau dengan terobosan terbaru, tentu menjadi daya tarik tersendiri.

“Mindset sebenarnya. Petani dianggap kumuh, miskin, tapi kenyataannya tidak seperti itu,” tambahnya.

Diakunyai, banyak lahan pertanian produktif kini dialihkan menjadi tidak produktif. Hal itu sangat disayangkannya. Padalah dengan sistem pertanian yang baik, pemupukan yang benar dan tidak mengandung bahan pestisida, tentu akan menyehatkan, baik tanaman maupun orang yang mengonsumsinya.

“Bumi tidak bertambah luas, dengan penambahan jumlah penduduk, lahan yang menyempit. Ini yang menjadi jomplang. Ini menjadi sebuah tantangan,” kata Fery.

Dijelaskan Fery, perubahan iklim berdampak serius pada keanekaragaman ketahanan pangan terhadap hama penyakit. Pengunaan bahan kimia yang tidak bijaksana, tentu berbahaya. Dan jika digunakan oleh petani secara sembarangan, malah resistensinya atau hama semakin tebal, resusjensi atau peledakan hama kembali. Kemudian pesticides on a plate atau bahan baku makanan hasil pestisida dan sayuran yang menggunakan pestisida, akan tetap tertinggal di makanan yang bisa memicu penyakit stroke, jantung, dan darah tinggi, bagi masyarakat yang mengonsumsinya.

“Saya tidak anti dengan pengunaan pestisida. Namun apabila bisa menggunakan organik, kenapa tidak,” tegasnya.

Ia menegaskan, dalam kurun waktu 5 hingga 10 tahun nanti, di Indonesia akan menggaungkan pertanian organik. Yang saat ini tengah dikembangkan di SMKN 6 Berau. “Dari hal kecil yang jarang dilirik, kita bisa membawa perubahan besar,” ujarnya.

Fery melanjutkan, penggunaan bahan pupuk yang dihasilkan oleh SMKN 6 Berau, tentu banyak keuntungan. Salah satunya yakni, tahan terhadap kekeringan dan kebanjiran. Hal ini sesuai dengan kondisi alam di Berau, musim hujan dan panas yang tidak sinkron. Sehingga penguatan jaringan akar untuk menyerap mineral dan protein sangat dibutuhkan.

“Kalau tidak produksi mulai sekarang. Kita tetap jadi pembeli,” katanya.

Meskipun di satu sisi diakuinya, ada tantangan. Yakni patogen serangga (entomopatogen), antagonis, PGPR, dan pupuk hayati yang berpeluang untuk mengisi kebutuhan akan alternatif pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT), masih membutuhkan upgrade potensi, produksi, dan formulasi, kemudian dibutuhkan sosialisasi dan edukasi agar diterima oleh masyarakat.

“Sosisalisasi tentu dibutuhkan, agar masyarakat paham,” katanya.

Sementara itu, Kepala SMKN 6 Berau Ambo Awe menuturkan, kolaborasi antara Buma dan pihaknya, serta dukungan dari dosen Universitas Brawijaya, tentu membawa angin segar bagi sekolah mereka. Terlebih Buma tidak hanya membantu mengembangkan dari sektor pertanian, namun juga program sebelumnya yang masih berjalan, yakni Buma School, juga sangat dirasakan manfaatnya oleh para pelajar di sekolah yang dipimpinnya.

“Tentu sangat besar bantuan Buma kepada sekolah kami. Kami haturkan terima kasih kepada manajemen Buma,” ujarnya.

Dilanjutkan Ambo, nantinya para anak didik yang sudah mendapatkan pelatihan, akan terus dilakukan pemantauan, agar produk ini tidak hanya sekali produksi saja. Namun sistemnya terus berlangsung.

“Target pasar jelas, dan ini terus akan dikembangkan, tidak hanya dengan satu produk ini saja tentunya,” tambahnya.

Ambo menjelaskan, para pelajar dari sekolah lain juga akan diberikan pemahaman, melalui seminar nasional Inovasi Teknologi Pertanian yang dilaksanakan di Berau. Sebab turut dihadiri pelajar SMKN 5, SMKN 4, SMKN 2, dan juga SMKN 7 Berau. Selain itu, seminar tersebut juga dihadiri oleh, Kepala Cabang Pendidikan Wilayah VI, Dinas Pertanian dan Peternakan Berau, serta Pengawas SMK. Ambo mengatakan, tujuannya yakni saling bahu-membahu mengembangkan pertanian di Berau, menggunakan pupuk organik.

“Untuk peserta yakni 44 orang, dengan tema Inovasi Teknologi untuk Mendukung Terwujudnya Sustainable Agriculture,” ujarnya.

Terpisah, Business Support Manager BUMA, SG Rajagukguk, menerangkan Buma mendukung penuh kegiatan tersebut. Terlebih, pertanian merupakan mata rantai pangan teratas. Pihaknya pun mendukung kegiatan-kegiatan penelitian dan pengembangan yang dilakukan SMKN 6, dari berbagai macam bidang. Salah satunya pertanian. “Buma sangat mendukung kegiatan seminar nasional ini,” ujarnya.

Tidak muluk-muluk, ia menyadari, bahwa sektor pertanian merupakan landasan dasar suatu daerah untuk penguatan ekonomi. Tanpa pertanian, tentu daerah tersebut akan selalu impor bahan baku utama makanan dari luar daerah. Tentunya, dengan jumlah pengeluaran yang tidak sedikit dan berdampak pada pembelian masyarakat,” jelasnya.

“Jadi, kita bisa menjadi lumbung padi menggunakan produk yang diciptakan adik-adik di SMKN 6 ini,” pungkasnya. (***/hmd/udi)


BACA JUGA

Sabtu, 01 Oktober 2022 14:08

Gandeng Swasta Benahi Taman

TANJUNG REDEB - Banyaknya fasilitas taman di Berau yang rusak,…

Sabtu, 01 Oktober 2022 14:00

Berdampak pada Kunjungan Wisatawan

TANJUNG REDEB – Bupati Berau Sri Juniarsih mengakui mahalnya harga…

Sabtu, 01 Oktober 2022 13:56

Alokasikan Anggaran Rp 31 M

TANJUNG REDEB - Wakil Bupati Berau Gamalis, turut menyoroti kerusakan…

Sabtu, 01 Oktober 2022 13:52

La Nina Diprediksi hingga Akhir 2022

  TANJUNG REDEB – Kepala Badan Meteorologi, Kimatologi dan Geofisika…

Jumat, 30 September 2022 11:18

Segera Tetapkan HET LPG

TANJUNG REDEB – Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) PSO di…

Jumat, 30 September 2022 11:15

Jembatan Talisayan Bakal Ditututp Total

TANJUNG REDEB – Perbaikan Jembatan Talisayan tengah dikerjakan. Guna menjamin…

Kamis, 29 September 2022 10:59

Lelang Ditarget November

TANJUNG REDEB - Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang…

Kamis, 29 September 2022 10:56

11 Nelayan Malaysia Dipulangkan

TANJUNG REDEB – Sebanyak 11 nelayan asal Pulau Bangau-Bangau dan…

Rabu, 28 September 2022 14:00

“Kalau Tidak Sanggup, Mundur Saja”

TANJUNG REDEB - DPRD Berau kembali menggelar Rapat Dengar Pendapat…

Rabu, 28 September 2022 13:49

Pemberantasan Minol Jadi Atensi

TANJUNG REDEB - Kejaksaan Negeri Berau kembali memusnahkan barang bukti…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers