MANAGED BY:
RABU
07 DESEMBER
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Senin, 21 November 2022 13:12
Balas Budi

Oleh Daeng Sikra

DUA pesawat besar kini melakukan penerbangan reguler ke bandara Juwata di Tarakan, Kaltara. Melewati udara Berau. Membawa penumpang banyak.

Hari Sabtu (19/11), saya bertemu penumpang pesawat tujuan Tarakan di salah satu kafe di pintu 4 Bandara Balikpapan. Iseng saja bertanya, jenis pesawat apa yang ditumpangi. Dan berapa harga tiketnya?

Dengan santainya, penumpang yang pengusaha tambak itu menyebut maskapai yang baru saja memulai terbang reguler dengan pesawat Airbus. “Sebelumnya naik pesawat baling-baling,” kata dia. Harga tiketnya pun membuat pengusaha ini tersenyum lebar. Tak sampai satu juta rupiah, rute Balikpapan-Tarakan.

Miris juga mendengar. Bukan saja senyum sang pengusaha tambak saya menafsirkan, senyumnya itu akan memudahkan mengantarpulaukan hasil panen tambaknya ke berbagai daerah.

Miris yang kedua, pastilah wisatawan yang akan berlibur ke Pulau Derawan dan Maratua, lebih memilih lewat Tarakan ketimbang Tanjung Redeb, yang harga tiket rute Balikpapan-Berau mendekati angka Rp 2 juta.

Beruntunglah Bandara Juwata Tarakan, yang didarati dua pesawat berbadan lebar. Beruntunglah wisatawan bisa dapat biaya murah, untuk berkunjung ke Derawan lewat Tarakan.

Padahal bila dibanding-bandingkan (jadi ingat lagu Farel), potensi penumpang dari dan ke Berau, lebih besar. Berau punya peruahaan pertambangan dengan jumlah karyawan ribuan. Punya perusahaan perkebunan kelapa sawit juga karyawannya ribuan.

Punya calon penumpang yang tinggal di wilayah Kutai Timur dan Kalimantan Utara. Punya ASN yang setiap harinya banyak yang melakukan perjalanan dinas. Lebih banyak dibanding penumpang yang tujuan Tarakan.

Sayapun bertanya-tanya. Kenapa pesawat berbadan besar yang dulu pernah terbang reguler, sekarang sepertinya enggan untuk terbang kembali ke Kalimarau. “Apa hambatannya,” seperti yang sering diucapkan teman saya.

Herannya lagi, mulai bupati, wakilnya, ketua DPRD juga wakilnya dan Kepala Dinas Perhubungan, sudah memohon berkali-kali tidak juga dipenuhi. Ada apa ya?

Baik, sekarang saya mau bercerita masa lalu. Masa di mana Bandara Kalimarau berstatus sebagai bandara perintis. Bandara yang pernah diterbangi pesawat jenis CASA milik maskapai Asahi.

Saya sampaikan ke Pak Makmur, saat itu menjabat bupati. Percuma kita promosi wisata, sementara kepastian dan jumlah tempat duduk di pesawat sangat terbatas. Untuk apa promosi habis-habisan, sedangkan bandaranya punya terminal berkonstruksi kayu.

Lupapakan promosi wisata. Sebaiknya memulai saja membangun bandara yang besar, agar pesawat besar juga tertarik untuk melakukan penerbangan reguler. Dimulailah semuanya, dari penyediaan lahan hingga terminal yang megah.

Ketika selesai, Pemkab sempat mengelola beberapa lama. Namun ada aturan, daerah tak boleh mengelola. Baik di sisi darat apalagi di sisi udaranya. Maka tak ada pilihan lain. Bangunan terminal dengan semua fasilitasnya, diserahkan ke Kementerian Perhubungan.

Kabupaten Berau, ‘memberikan’ aset yang bernilai lebih dari Rp 500 miliar kepada Kementerian Perhubungan. Selanjutnya, Kementerian Perhubungan yang mengelola hingga saat ini.

Pertanyaan saya sekarang, apa bentuk balas budi kementerian kepada Kabupaten Berau, yang telah memberikan aset yang mahal itu. Masa hanya mengajak agar maskapai melakukan penerbangan reguler sangat susah.

Semua pejabat di daerah sudah melakukan berbagai upaya, namun tak juga membawa hasil. Beginikah caranya balas budi yang diberikan kepada Kabupaten Berau.

Warga Berau seakan sengaja dibuat ‘menderita’ dengan harga tiket yang mahal hanya untuk tujuan Balikpapan. Kalau tujuan ke luar Kaltim, akan lebih mahal lagi.

Kalau hanya karena persoalan alokasi waktu penjadwalan atau jadwal waktu kedatangan (slot time), saya kira bukan di situ persolannya. Toh yang terbang enam kali sehari hanya satu pesawat. Slot time untuk maskapai lainnya masih sangat terbuka.

Lalu di manakan persoalannya? Berbalas budilah pada Berau, yang sudah membangunkan bandara yang megah, lengkap dengan garbaratanya. Walaupun ini persoalan bisnis, hitung-hitungannya kan hanya pada poptensi penumpangnya.

Lalu, apa lagi. Atau, jangan-jangan Tarakan lebih unggul melakukan lobi-lobi ya? @cds_daengsikra. (*/udi)


BACA JUGA

Kamis, 08 Desember 2022 01:49

‘Perang’ Dimulai

SEBENTAR lagi, kita akan menyaksikan sebuah pertunjukan. ‘Perang’ antara dua…

Selasa, 06 Desember 2022 01:27

Nasi Padang

ANTIKLIMAKS, itu yang terjadi pada hari Minggu (4/12) di stadion…

Senin, 05 Desember 2022 12:12

Sampah Malaysia

DATANG lagi. Begitu kalimat singkat yang dikirimkan teman saya dari…

Sabtu, 03 Desember 2022 10:44

Desa Juara Nasional

BERDASARKAN Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, dan Peraturan Pemerintah…

Kamis, 01 Desember 2022 09:51

Rambut Putih

RAMBUT putih sedang naik daun. Ini karena Presiden Jokowi yang…

Rabu, 30 November 2022 14:44

Mi Pangsit

HITUNG, berapa banyak atlet yang berkumpul selama berlangsungnya porprov. Dan…

Selasa, 29 November 2022 12:44

Sarang Burung

PEROLEHAN medali di arena porprov, tidak terlalu menarik bagi warga…

Senin, 28 November 2022 13:46

Desember Awal

TIGA hari setelah hari ini Senin (28/11), diputuskan Jembatan Sambaliung…

Sabtu, 26 November 2022 15:04

Kesiapan Pelaksanaan Porprov

TAK terasa, pembukaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VII Kaltim 2022…

Jumat, 25 November 2022 14:12

Melawan Jin

NAMANYA Bagong. Perantau asal Makassar. Sehari-hari berjualan sayur di Pasar…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers