MANAGED BY:
JUMAT
27 JANUARI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KALTIM | KOMBIS
Senin, 05 Desember 2022 12:12
Sampah Malaysia

Oleh Daeng Sikra

DATANG lagi. Begitu kalimat singkat yang dikirimkan teman saya dari Pulau Maratua. Kalimat yang menyertai foto sampah yang memenuhi tepi pantai pulau wisata itu.

Kenapa ada kata datang lagi? Ya, memang sampah yang luasnya separo lapangan bola itu, seperti tamu yang datang ke Maratua. Datang pada musim tertentu. Sebagian kembali meninggalkan pulau mencari tempat singgah yang baru.

Sebagian lagi tetap tinggal, mengubah wajah tepi pantai Maratua yang indah itu. Yang tinggal itu, menjadi pekerjaan baru bagi mereka yang sering ke pulau melakukan bersih-bersih pantai.

Bagi warga Maratua, hadirnya sampah bukanlah hal baru. Setiap akan terjadinya pergantian musim angin dan memasuki musim angin utara, sampah ini datang jadi pertanda. Siklus yang sudah sejak lama ada.

Asal sampah dari mana, bisa dikenali dari banyaknya sampah plastik yang ikut terbawa. Sampah yang mendamparkan dirinya di pantai Maratua itu, macam-macam. Bahkan ada foto seorang anak memegang kemasan minyak goreng merek USB (usaha bagus) yang masih utuh. Itu salah satu jenis sampah yang terbawa.

Dari kemasan itu bisa dipastikan, asalnya dari wilayah laut Malaysia Timur. Belum lagi, kemasan air mineral maupun sandal jepit yang tidak lengkap, ikut terbawa.

Saya teringat apa yang dikatakan ketua percepatan pembangunan Pulau Maratua, Meiliana, di salah satu media online, yang menyebut pantai Maratua kini bersih dari sampah. Nah, harusnya Bu Meiliana, yang teman kuliah saya itu, datang ke Maratua, khusus mencermati siklus hadirnya sampah dari Malaysia.

Beberapa tahun lalu, ketika siklus hadirnya sampah, saya kebetulan berada di Maratua. Sedang menikmati sarapan pagi di Pratasaba Resor. Tiba-tiba, datang ‘rombongan’ sampah itu. Pengelola resor kalang kabut. Ia tahu, sampah menjadi musuh besar bagi resor juga bagi wisatawan.

Ada upaya, mendorong sampah itu ke laut. Sampahnya memang bergerak, namun sampah itu kembali masuk ke wilayah resor lainnya. Dan begitu seterusnya. Rupanya, sampah itu berputar mengitari pulau yang luas. Mengikuti perputaran arus laut.

Seperti sampah yang datang tiga hari lalu, komposisinya tak jauh beda. Ada botol plastik produksi Malaysia. Dan sampah lainnya yang tidak sama dengan sampah yang ada di pulau.

Dari situlah, timbul ide untuk membangun pagar. Selain untuk membendung masuknya sampah dalam wilayah resor. Juga sekalian, untuk tanggul penahan ombak. Jadi fungsinya ganda. Itu yang dilakukan Pratasaba.

Kita bisa lihat, dibangun dengan kayu ulin. Cukup efektif menjaring sampah. Juga bisa dijadikan tempat parkir speedboat, agar tidak terkena gelombang. “Tempat parkir speedboat,” kata Pak Eeng, manajer Pratasaba Resor.

Bisa saja, sampah kiriman dari wilayah Malaysia itu, merupakan ‘kunjungan’ balasan. Tidak menutup kemungkinan, pada cuaca angin tertentu, di wilayah wisata di kawasan Mayalsia seperti Sipadan dan Ligitan, mungkin pernah juga menerima sampah dari Indonesia. Jadi, gantian saja.

Bukan hanya sampah. Pada cuaca yang ekstrem, nelayan asal Malaysia dan Filipina sering juga terdampar di Maratua. Alasannya, mengalami kendala perahu mereka dan terbawa arus hingga ke Maratua.

Menarik buat mencermati pergerakan sampah. Baik sampah lokal, maupun sampah yang datang dari negara tetangga. Sampah menjadi persoalan besar di pulau wisata itu kelak. Semakin banyak resor, homestay, dan tempat menginap maupun rumah warga, akan semakin banyak pula produksi sampahnya.

Dibawa ke mana? Itu yang perlu dipikirkan oleh tim percepatan pembangunan Pulau Maratua. Pemkab bisa saja membentuk UPT kebersihan, agar ada lembaga yang khusus menangani dan mengelola sampah di pulau.

Entah berapa lama sampah asal Malaysia itu mampir di Maratua. Kita lihat saja perkembangannya. Tidak usah gusar. Kita nikmati saja pergerakan sampah, juga sambil menikmati susu milo yang kebanyakan juga didatangakan dari Tawau, Malaysia Timur. @cds_daengsikra. (*/udi)


BACA JUGA

Jumat, 27 Januari 2023 01:42

Hujan Penutup

TIDAK sedang bermain catur. Tapi sejak pagi, hujan di hari…

Kamis, 26 Januari 2023 15:57

Ketua KONI

BURSA calon ketua KONI Berau mulai diluncurkan. Saatnya bagi yang…

Rabu, 25 Januari 2023 01:31

Baju Baru

DAPAT bingkisan Imlek. Kemasannya kecil saja. Tapi maknanya besar. Setidaknya…

Selasa, 24 Januari 2023 01:20

Ramuan Sarang Burung

ANGKA 9 memang dahsyat. Angka kesuksesan. Dinasti Ming mengakui kehebatan…

Senin, 23 Januari 2023 00:50

Gong Xi Fa Cai

“Xie xie, Pak Daeng,” itu jawaban teman yang tinggal di…

Sabtu, 21 Januari 2023 18:55

Problematika Hybrid Contract Antara Pemasok Ikan dan Nelayan

MASYARAKAT nelayan tergolong kelompok yang relatif tertinggal secara ekonomi apabila…

Jumat, 20 Januari 2023 15:51

Mantan Terindah

BAGAIMANA suasananya, bila para mantan bertemu. Kira-kira, apa yang dibicarakan.…

Kamis, 19 Januari 2023 08:18

Kaltara Lagi

GUBERNUR Kaltara Zainal Arifin Paliwang (ZAP) ke Berau lagi. Bertemu…

Rabu, 18 Januari 2023 14:10

Cokelat Bahagia

KALAU lagi tak nyaman hati, cobalah nikmati cokelat. Itu yang…

Selasa, 17 Januari 2023 07:12

Lele Fang Sheng

HARI Raya Imlek 2023 atau Tahun Baru Cina 2574 tahun…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers