MANAGED BY:
JUMAT
27 JANUARI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KALTIM | KOMBIS
Rabu, 18 Januari 2023 14:10
Cokelat Bahagia

Oleh Daeng Sikra

KALAU lagi tak nyaman hati, cobalah nikmati cokelat. Itu yang sering disarankan teman saya. Apa hubungannya, antara bahagia dan cokelat.

Setidaknya ada empat unsur yang terkandung dalam cokelat. Ada teobromina, kafein, phenylethylamine dan anandamide. Dua unsur dari kandungan itu, bila bekerja sama, bisa membentuk bahagia seseorang.

Apa karena itu, di tempat-tempat hiburan malam. Ada yang tak terlewatkan. Yakni produk cokelat dari mereka dagang terkenal. Apa karena cokelatnya, atau karena suasana hiburan malamnya yang bikin happy.

Saya kadang membuktikan pernyataan itu, bahwa cokelat bisa membuat bahagia. Sambil minum teh tawar, camilannya adalah cokelat yang merek dagang terkenal itu. Yang di dalamnya ada biji mete. Ada suasana bahagia, sambil menikmati cokelat.

Sempat saya pikirkan pula. Di manakah cokelat yang terkenal itu dibuat. Sebab, dari namanya memang kebarat-baratan. Oh, ternyata setelah saya telusuri, rupanya hanya diproduksi di dalam negeri. Di kota garut, bersama-sama terkenalnya produk dodol garut.

Pernah sekali waktu, diajak teman ke Singapura. Di lantai kawasan duty free, banyak sekali jenis cokelat yang ditawarkan. Bingung juga memilih. Yang jenis apa yang nyaman. Setidaknya nyaman buat dijadikan oleh-oleh.

Di Makassar juga begitu, di toko oleh-oleh maupun gerai yang ada di Bandara Hasanuddin, banyak jenis cokelat olahan yang ditawarkan. Bedanya antara Bandara Changi, Singapura, dengan Bandara Hasanuddin, yang ditawarkan adalah cokelat dengan buatan dan merek lokal.

Saya melihat, industri di Makassar sudah jauh melangkah. Mungkin sekali waktu bisa menggeser cokelat yang namanya terkenal itu. Tergantung bagaimana mengolah cita rasa cokelat maupun bahan bakunya sendiri.

Sama dengan di Berau, mereka yang datang dan akan kembali ke daerahnya, ada komoditas cokelat yang tak pernah terlupakan. Apa itu? Tak lain adalah cokelat bubuk bernama Milo. Katanya enak Milo yang dijual di Berau, karena didatangkan dari Tawau, Malaysia.

Padahal ada produk dan mereka yang sama yang diproduksi di dalam negeri. Entah apa yang membedakan. Apakah karena imej barang impor atau memang ada yang membuatnya beda. Setahu saya, kalau sudah di gelas ditambah susu kental sulit membedakan.

Bisa saja, Milo buatan Malaysia itu, bahan bakunya dari Berau? Mungkin saja itu terjadi. Sebab, sejak puluhan tahun lalu, sudah ada hubungan dagang antara pengumpul biji cokelat di Berau dengan pedagang yang ada di Tawau Malaysia.

Pengiriman biji kakao sudah berlangsung sejak lama. Pedagang dengan teknik fermentasinya sendiri, setelah terkumpul banyak, baru dibawa ke Tawau bersama-sama dengan komoditas lain, seperti merica alias sahang.

Karena jumlahnya sedikit, belum bisa secara resmi melakukan ekspor ke luar negeri yang dilengkapi dengan dokumen Pemberitahuan Asal Barang (PEB)-nya. Ada juga ekspor komoditas udang dan ikan segar.

Para pengusaha, mengirimkan komoditas hasil laut mereka ke Tarakan. Dan Tarakan yang melakukan ekspor. Jadi, PEB-nya berasal dari Tarakan, bukan dari Berau yang notabene sebagian komoditasnya dari Berau.

Dua hari lalu, saya membaca berita  soal pengiriman biji cokelat ke Amerika Serikat. Bila tak salah, jumlahnya 15 ton. Sebetulnya, saya mencari-cari logo perusahaan di spanduk yang menempel di bak truk. Tak terlihat logo perusahaan besar yang bergerak dalam penambangan batu bara.

Beberapa tahun lalu, teman saya yang bekerja di perusahaan itu bercerita, kalau ia pernah berkunjung ke Tana Toraja, untuk belajar soal cokelat. Hasil studi itu, akan diterapkan pada petani cokelat yang ada di Berau.

Mungkin hasil belajar itulah yang membuahkan hasil. Dan akhirnya mampu mengirim sebanyak 15 ton biji cokelat hasil fermentasi.

Moga saja, biji cokelat yang diekspor itu, juga membawa nama daerah di mana komoditas itu berasal. Khawatirnya, sama dengan pengiriman komoditas ke Tarakan dan Tarakanlah yang melakukan ekspor.

Saya lupa menanyakan. Padahal saya sempat jumpa dengan teman yang bekerja di perusahaan besar itu. Saat makan mi pangsit di halaman Fresh Mart. Apakah menggunakan PEB dari Berau atau reekspor lagi dengan nama daerah lain.

Tak masalah, soal nama itu. Yang penting petani kakao bisa bahagia. @cds_daengsikra. (*/udi)


BACA JUGA

Jumat, 27 Januari 2023 01:42

Hujan Penutup

TIDAK sedang bermain catur. Tapi sejak pagi, hujan di hari…

Kamis, 26 Januari 2023 15:57

Ketua KONI

BURSA calon ketua KONI Berau mulai diluncurkan. Saatnya bagi yang…

Rabu, 25 Januari 2023 01:31

Baju Baru

DAPAT bingkisan Imlek. Kemasannya kecil saja. Tapi maknanya besar. Setidaknya…

Selasa, 24 Januari 2023 01:20

Ramuan Sarang Burung

ANGKA 9 memang dahsyat. Angka kesuksesan. Dinasti Ming mengakui kehebatan…

Senin, 23 Januari 2023 00:50

Gong Xi Fa Cai

“Xie xie, Pak Daeng,” itu jawaban teman yang tinggal di…

Sabtu, 21 Januari 2023 18:55

Problematika Hybrid Contract Antara Pemasok Ikan dan Nelayan

MASYARAKAT nelayan tergolong kelompok yang relatif tertinggal secara ekonomi apabila…

Jumat, 20 Januari 2023 15:51

Mantan Terindah

BAGAIMANA suasananya, bila para mantan bertemu. Kira-kira, apa yang dibicarakan.…

Kamis, 19 Januari 2023 08:18

Kaltara Lagi

GUBERNUR Kaltara Zainal Arifin Paliwang (ZAP) ke Berau lagi. Bertemu…

Rabu, 18 Januari 2023 14:10

Cokelat Bahagia

KALAU lagi tak nyaman hati, cobalah nikmati cokelat. Itu yang…

Selasa, 17 Januari 2023 07:12

Lele Fang Sheng

HARI Raya Imlek 2023 atau Tahun Baru Cina 2574 tahun…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers