MANAGED BY:
JUMAT
27 JANUARI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KALTIM | KOMBIS

UTAMA

Selasa, 24 Januari 2023 01:20
Terumbu Karang yang Rusak dan Mencari Ikan Tak Lagi Mudah

Cerita Mereka yang Bergantung dengan Laut Pulau Derawan

KONSERVASI LAUT: Proses rehabilitasi terumbu karang di Pulau Derawan dengan menggunakan metode rock pile.

Bertarung ombak, bertaruh dengan cuaca, tapi hasil tak lagi seberapa. Kadang panas menyengat, lalu badai langsung menerpa. Berharap ikan banyak, tapi kondisi terumbu karang tak bikin gembira. Beruntung semangat masih ada untuk mencari ikan dari pagi hingga disapa senja.

 

NOFIYATUL CHALIMAH, Pulau Derawan

 

DOA dirapal, berharap ikan yang ditangkap bisa memenuhi kapal. Walaupun hasil tak sebanyak dahulu, tapi semangat masih dia kepal. Begini tiap pagi dijalani Riduansyah, nelayan dari Pulau Derawan, Berau. Hampir setengah abad, hidupnya dihabiskan menangkap ikan. Sejak 1975 dia sudah berlayar meraup tuah dari laut di sekitar Kepulauan Derawan.

Dari puluhan tahun itu, Riduansyah paling ingat 1988. Saat itu, disebutnya sebagai masa jaya nelayan di Kepulauan Derawan dan Maratua. Banyak pengepul ikan datang langsung. Juga, saat itu, mencari ikan sangat mudah.

“Cari ikan lebih enak zaman dulu. Cari dari Pulau Sangalaki (pulau di gugusan Kepulauan Derawan) ke karang (spot karang tak jauh dari Sangalaki), bisa 100 kilogram. Kalau sekarang paling 15 kilogram,” cerita lelaki kelahiran 1961 di Maratua tersebut.

Pada dekade itu, ikan putih dan tongkol, dia rasa tak ada habisnya. Lokasinya juga tak jauh dari pulau. Namun sekarang, dia harus memacu perahu lebih jauh dan yang didapat belum tentu banyak.

Tiap pukul tujuh pagi dia berangkat, harus membelah laut hingga dua jam untuk dapat spot terbaik. Maka dari itu, perbekalan tak boleh ketinggalan. Apalagi, kalau panas terik, kepalanya bisa pusing. Obat-obatan pun tak lupa turut dibawa bersama makan siang.

Menjadi nelayan tak mudah. Risikonya besar. Mulai bahaya di laut, kondisi kesehatan, dan cuaca tak menentu. Bersama istrinya, lelaki yang juga Ketua Kelompok Nelayan Boko Lestari ini pun memiliki usaha rumah makan untuk para wisatawan di Derawan. Walau tak banyak, usaha ini yang jadi sandaran ketika laut sedang tak bersahabat.

Cerita Riduansyah yang masih setia melaut meski kerap disapa ketidakpastian, berbeda dengan Muhammad Safar. Hasil laut yang tak sebanyak dua dekade lalu, membuat dia banting setir mencari nafkah. Padahal, kemampuan menyelam mencari hasil laut telah membawanya dari kampung halaman di Nusa Tenggara Barat menuju Pulau Derawan.

Safar mengisahkan, dahulu dari usaha mencari hasil laut, pendapatannya sangat besar. Dalam sehari, dia bisa menjual lobster hingga 5 kilogram dan aneka ikan lainnya. Dengan kemampuannya, Safar bisa mengantongi Rp 5 juta tiap hari. Dia juga memiliki beberapa buah kapal. “Dahulu menyelam tidak jauh sudah dapat banyak,” kenang Safar.

Namun, sejak 2009 Safar memutuskan tak lagi melaut. Sebab hasil menyelam tak sepadan. Dia juga harus berpindah-pindah dan menempuh perjalanan kapal lebih jauh. Energinya sudah terkuras. Sehingga, Safar memilih banting setir dengan modal sisa-sisa kejayaannya dari laut. Dia pun membuka usaha rental sepeda wisata di Pulau Derawan.

Meski begitu, dia menyebut, hidupnya dan warga Derawan lain masih bergantung di laut. Wisatawan penyewa sepedanya, datang ke Derawan karena ingin menikmati kekayaan bahari. Tak hanya keindahan pulau, terumbu karang, atau atraksi satwa, makanan segar dari hasil laut Derawan juga jadi daya tarik.

Namun sedihnya, nafkah warga Pulau Derawan dan sekitarnya bisa terancam jika laut tak lagi menjanjikan. Ketika ikan makin susah didapat dan terumbu karang juga tak lagi indah. Perhatian mesti penuh. Apalagi, dari pemantauan kesehatan ekosistem terumbu karang (Reef Health Monitoring) Yayasan WWF Indonesia di Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K) Kepulauan Derawan dan Perairan sekitarnya pada 2021, hasilnya tutupan karang keras di perairan ini hanya 32,8 persen.

Juga, masih ditemukan indikasi aktivitas yang merusak seperti penggunaan bom, trawl, jangkar kapal dari wisata/nelayan, dan lainnya yang ditunjukkan dengan tingginya persentase pecahan karang (rubble) di lokasi pemantauan, yaitu 36,28 persen.

“Pengambilan data dilakukan di 20 titik pengamatan, 15 titik berada di dalam kawasan konservasi, dan 5 titik di luar kawasan. Metode yang digunakan dalam pengambilan data substrat dasar perairan yaitu dengan point intercept transect (PIT) dengan panjang transek 3x50 meter,” jelas Site Coordinator for Derawan MPA Yayasan WWF Indonesia Irvan Ahmad Fikri.

Di sisi lain, kondisi iklim juga berdampak besar bagi karang. Sebab, meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi akan berdampak besar terhadap terumbu karang. Mereka hidup dengan baik di laut tropis pada kisaran suhu 21–29 derajat celsius. Kenaikan 1–2 derajat celsius di atas suhu normal pada kurun waktu tertentu akan mengakibatkan coral bleaching atau pemutihan terumbu karang.

Coral bleaching merupakan peristiwa keluarnya zooxanthella (algae yang bersimbiosis dengan karang) dari jaringan karang karena stres terhadap perubahan suhu, yang ditandai dengan memudarnya warna seluruh  karang menjadi putih. Fenomena coral bleaching pada kondisi berkepanjangan akan menyebabkan kematian pada karang. Pada tingkat lanjut, efek yang terjadi tidak hanya pada individu karang tetapi juga pada koloni dan ekosistem terumbu karang secara luas.

Sayangnya, kenaikan suhu sudah niscaya di Berau. Inilah yang ditemukan dalam penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Lancet Health. Dalam penelitian ini, turut Ike Anggraini, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Mulawarman. Penyandang gelar doktor dari Universitas Indonesia itu, memaparkan dalam penelitian ini, Berau ditentukan sebagai lokasi. Temuan utama dari riset itu dijelaskan Ike adalah dari 2002–2018, deforestasi mengakibatkan peningkatan suhu hampir 1 derajat celsius, tepatnya 0,95 derajat celsius.

"Padahal, dunia membutuhkan 150 tahun untuk menghangat 0,9 derajat celsius. Sedangkan, Berau hanya membutuhkan waktu 16 tahun," papar dia.

Jika tidak ada mitigasi berarti terhadap kondisi ini, diproyeksi dalam jangka waktu yang sama di masa depan, kenaikan suhu 2 derajat bisa terjadi. Sedangkan, kehidupan masyarakat Kepulauan Derawan dan perairan sekitarnya bergantung besar terhadap keberlangsungan ekosistem terumbu karang. Karena mereka kini hidup pada sektor perikanan dan pariwisata bahari.

Apabila praktik interaksi masyarakat dengan laut dilakukan dengan baik, terumbu karang yang ada akan terjaga kelestariannya. Sebaliknya, apabila praktik livelihood ini tidak dilakukan secara bertanggung jawab, maka laju kerusakan terumbu karang semakin cepat.

Yayasan WWF Indonesia pun tengah melakukan rehabilitasi menggunakan metode rock pile. Metode ini merupakan rehabilitasi terumbu karang dengan cara menstabilkan rubble area (area pecahan terumbu karang) menggunakan batu kapur. Upaya ini diharapkan menyediakan substrat untuk menempelnya anakan (juvenile) terumbu karang secara alami.

Kelebihan metode ini antara lain, sederhana, ketersediaan material (batu kapur) relatif mudah, mencegah introduce species (karena tidak menggunakan transplantasi karang), cocok sebagai media alami terumbu karang, dan dengan sentuhan artistik dapat menjadi destinasi wisata bawah laut dan mendukung ekonomi lokal.

Yayasan WWF Indonesia tidak merekomendasikan rehabilitasi dengan menggunakan patahan karang/transplantasi, karena dikhawatirkan berdampak negatif terhadap ekologi.

Di sisi lain, pemerintah mengaku tak mau angkat tangan dari kondisi ini. Pihaknya berupaya membenahi kondisi di laut dan pariwisata agar makin ramah lingkungan. Kepala Bidang Pengelolaan Ruang Laut Dinas Kelautan dan Perikanan Kaltim Ali Aripe memaparkan, sebenarnya kawasan konservasi di kepulauan Derawan dan sekitarnya, adalah konservasi laut pertama di Indonesia 2016.

Ruang laut di kawasan ini terbagi menjadi zona inti dan zona pemanfaatan terbatas. Zona inti ini besarnya 10 persen dari total luas 285 ribu hektare ekosistem yang tak boleh diutak-atik. Meski begitu, diakuinya memang kondisi terumbu karang terjadi penurunan. Hal ini tak lepas dari aktivitas pelaku ilegal dan destructive fishing. “Dari sektor pariwisata juga ada yang nakal. Dan mulai penertiban,” kata Aripe.

Dia menambahkan, permasalahan sektor pariwisata ini antara lain pembangunan water cottage yang makin ke arah laut dan pengelolaan yang tak ramah lingkungan. Sekarang, pembangunan mulai ditertibkan. Juga, terus disosialisasikan ke masyarakat soal pentingnya wisata ramah lingkungan dan mencari ikan yang tak merusak.

Sedangkan, soal efek kenaikan suhu yang berdampak pada laut, Aripe mengatakan, Kaltim sudah memiliki program penurunan gas rumah kaca. Hal ini pun sudah diganjar dengan kompensasi dana karbon dari Bank Dunia untuk Kaltim. Diharapkan, upaya-upaya ini bisa membuat kondisi laut makin baik. Sehingga, masyarakat bisa hidup dengan alam yang berkelanjutan.  (dwi/k8/kpg/udi)


BACA JUGA

Jumat, 27 Januari 2023 01:41

Bupati Paparkan Potensi Wisata Berau

JAKARTA - Pemerintah Kabupaten Berau tiada henti-hentinya membangun jejaring guna…

Jumat, 27 Januari 2023 01:40

Olah TKP Terkendala Cuaca

TANJUNG REDEB - Hujan yang terjadi sepanjang hari kemarin (26/1)…

Kamis, 26 Januari 2023 16:03

Tidak Ada Kenaikan Iuran

TANJUNG REDEB – Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan…

Kamis, 26 Januari 2023 16:02

Astuti Tiba di Berau

TANJUNG REDEB – Orangutan dari Manado berjenis kelamin betina yang…

Kamis, 26 Januari 2023 16:02

44,05 Gram Sabu Diblender

TANJUNG REDEB – Satuan Reserse Narkoba (Satreskoba) Polres Berau musnahkan…

Kamis, 26 Januari 2023 15:57

Terima Laporan, Polisi Mulai Penyelidikan

TANJUNG REDEB – Penyelenggaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VII Kaltim…

Rabu, 25 Januari 2023 01:33

Tinggalkan Kesan Baik, Terus Tingkatkan Sinergi

Pisah sambut Kepala KUPP Tanjung Redeb dari Hotman Siagian kepada…

Rabu, 25 Januari 2023 01:31

Dua Pelaku Terancam Pidana 15 Tahun

TANJUNG REDEB – Kasus pencabulan kembali diungkap jajaran Polres Berau,…

Rabu, 25 Januari 2023 01:30

Kebut Peningkatan Status Kampung Mapulu

TANJUNG REDEB - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau telah berupaya meningkatkan…

Selasa, 24 Januari 2023 01:20

Terumbu Karang yang Rusak dan Mencari Ikan Tak Lagi Mudah

Bertarung ombak, bertaruh dengan cuaca, tapi hasil tak lagi seberapa.…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers