MANAGED BY:
RABU
22 JANUARI
UTAMA | SANGGAM | PEMERINTAHAN | PARLEMENTARIA | EKONOMI | ALL SPORT | KOMBIS
Selasa, 14 Januari 2020 15:33
Bahaya Nyata Pariwisata Magnet Penarik Devisa
Rahmi Surainah, M.Pd

PROKAL.CO, SEKTOR pariwisata di Indonesia dianggap sangat potensial untuk menjadi kunci dan solusi dalam menghadapi dampak ekonomi akibat perang dagang yang memanas antara Amerika Serikat dan China.

Hal ini dikemukakan oleh Staf Ahli Menteri PPN Bidang Sinergi Ekonomi dan Pembiayaan Amalia Adininggar Widya. Dia mengatakan di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu, sektor pariwisata dapat menjadi kunci pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Amelia menjelaskan kalau salah satu jalan pintas yang bisa digunakan untuk menyelamatkan devisa negara adalah lewat sektor pariwisata. Namun yang mesti mendapat perhatian pemerintah dan para stakeholder adalah bukan tentang seberapa banyak jumlah wisatawan yang berkunjung ke Indonesia, tapi seberapa besar uang yang masuk dari sektor ini. (http://www.monitorday.com/melalui-sektor-pariwisata-indonesia-mampu-hadapi-dampak-perang-dagang-as-china)

Di sisi lain adanya pariwisata yang diharapkan menghibur justru menimbulkan bahaya. Seperti yang terjadi di Kabupaten Sumedang, puluhan penari dari 5.555 peserta pada event Tari Umbul Kolosal di Waduk Jatigede jatuh pingsan dan beberapa di antaranya mengalami kesurupan pada akhir tahun lalu. (31/12/2019). (https://kabar-priangan.com/puluhan-penari-pingsan-dan-kesurupan-saat-even-tari-umbul-kolosal-di-waduk-jatigede/)

Di daerah lain, Tanjung Redeb tradisi sekaligus ajang pariwisata yakni Buang Nahas membuat warga berpolemik dengan camat. Camat berkeyakinan Tradisi Buang Nahas dianggap tak sesuai dengan akidah dalam Islam. Camat tidak memberikan restu dan tidak bersedia menghadiri acara adat masyarakat pesisir Berau tersebut. Namun, walau tanpa dukungan dari camat dan Dinas Kebudayaan Pariwisata Berau, masyarakat tetap melaksanakan acara adat tersebut. (https://berau.prokal.co/read/news/62298-camat-tinggalkan-warga-talisayan.html)

Demikian sedikit fakta yang terjadi tentang pariwisata. Pariwisata memang sering diwarnai dengan berbagai kejadian aneh dan unik. Seperti tarian Umbul Kolosal yang berjumlah 5.555 peserta, banyaknya peserta membuat tarian tersebut unik. Belum lagi ada kesurupan tentu ini membuat aneh dan mistis.

Selain itu, pariwisata tidak sedikit menimbulkan bahaya berupa kemaksiatan, syirik, dan kematian. Adat, budaya dan kearifan lokal perannya pun sudah bertambah menjadi objek wisata penghasil devisa.

Sulit dipisahkan adat dari masyarakat itu sendiri jika terjadi pertentangan, kecuali ada sikap tegas dari tokoh dan pemuka agama bahwa adat harus tunduk dengan syariat bukan menarik manfaat. Karena masyarakat menilai adat sebagai turun temurun dari satu generasi ke generasi, ditambah ada nilai Islamnya sehingga dianggap tidak bertentangan dengan agama.

Selain adat dijadikan objek pariwisata, ada lagi yang berpendapat pariwisata menjadi kunci dan solusi dalam menghadapi dampak ekonomi akibat perang dagang AS dan China.

Ungkapan tersebut berlebihan karena bisa menyesatkan publik karena akan menjadikan Indonesia fokus dengan pembangunan non strategis lupa dengan Indonesia punya kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang strategis.

Jika SDA dikelola termasuk bidang lain yang strategis seperti pertanian, perkebunan, perikanan, kehutanan, dan lain-lain tentu lebih berdaya dari pada sektor pariwisata.

Indonesia dan berbagai daerah disibukkan menggenjot pariwisata dengan terus berupaya melibatkan semua sektor untuk menunjang aspek pariwisata. Padahal, sibuknya pemerintah menggenjot pemasukan devisa lewat pariwisata melupakan eksploitasi SDA oleh pihak lain. Andai diambil alih atau dikelola sendiri tentu lebih strategis dalam menambah devisa.

Dengan demikian, di balik pariwisata yang kini dijadikan sebagai magnet penarik devisa sebenarnya menimbulkan bahaya nyata dilihat dari beberapa hal. Pertama, merusak aqidah melalui pelestarian adat mistik dan syirik. Kedua, kebijakan menyesatkan yang mengelabui rakyat bahwa mereka harus mengambil receh-receh pemasukan dari pariwisata untuk ekonomi mereka, padahal untuk usaha-usaha besar tetap dikuasai para kapitalis. Ketiga, jalan mulus liberalisasi budaya dan agama. Keempat, penjajah asing dibiarkan bebas menguasai SDA strategis yang melimpah di negeri ini. 

Dari analisis tersebut, sungguh sesuatu yang absurd rakyat akan sejahtera dengan berharap pariwisata sebagai jawaban lemahnya perekonomian di Indonesia. Hal ini karena lebih banyaknya bahaya nyata akibat pariwisata dibanding manfaat yang di dapat dari devisa. Terutama bahaya liberalisme yang akan semakin bablas seiring digalakkannya sektor pariwisata.

Liberalisme akan semakin merasuk parah karena Indonesia tidak mempunyai benteng negara yang melindungi umatnya. Sudut pandang materialis sekulerisme telah menjadikan materi, yakni devisa sebagai tujuan utama digalakkannya pariwisata. Terlepas sudut pandang Islam menilai dan menempatkan adat dan pariwisata tersebut.

Pariwisata dan Sumber Devisa dalam Islam

Pariwisata seharusnya diatur dan terikat dengan hukum Islam. Pariwisata yang mengandung mudarat atau bahaya, unsur mistis, dan syirik akan dilarang. Tujuan pariwisata dalam Islam bukan untuk meraih materi berupa manfaat, pendapatan dan kesenangan semata. Tetapi, pariwisata dalam Islam dijadikan ajang silaturahmi, tadabbur, dan menumbuhkan serta menambah keimanan. 

Pariwisata meski bisa menjadi salah satu sumber devisa, namun dalam Islam tidak akan dijadikan sebagai sumber perekonomian negara. Tujuan utama dipertahankan pariwisata hanya sebagai sarana dakwah. Negara tidak akan mengeksploitasi pariwisata untuk kepentingan ekonomi dan bisnis. 

Sektor pariwisata tentu tidak lepas dari sektor yang lainnya, semuanya berakar pada asas yang sama, yakni akidah dan ideologi yang diemban oleh negara. 

Hanya, negara yang menerapkan Islam yang mampu melawan setiap upaya penjajahan dan liberalisasi. Pariwisata jika taat aturan Islam akan berbuah pahala dan indah seperti surga dunia sekaligus membawa ke surga akhirat. 

Ada empat sumber tetap bagi perekonomian dalam negara Islam, yaitu pertanian, perdagangan, industri dan jasa. Keempat sumber inilah yang menjadi tulang punggung bagi negara dalam membiayai perekonomiannya. Negara juga mempunyai sumber lain, baik melalui pintu zakat, jizyah, kharaj, fai’, ghanimah hingga dharibah. Semuanya ini mempunyai kontribusi yang tidak kecil dalam membiayai  perekonomian negara.

Dengan demikian hanya Islam sebagai negara (Khilafah) yang mampu menyejahterakan rakyat. Negara Islam tidak akan berharap pada pariwisata sebagai penambah devisa. Negara Islam akan membuat potensi SDA yang sudah ada dikelola dengan benar sesuai hukum Islam sehingga membuat masyarakat sejahtera tanpa berharap pada sektor pariwisata magnet penarik devisa.

Wallahu'alam...

 

*) Warga Kutai Barat Kaltim


BACA JUGA

Selasa, 21 Januari 2020 10:18

Imlek Meihua

HUJAN lebat berlangsung lama, Sabtu (18/1) lalu. Debitnya juga lumayan…

Rabu, 15 Januari 2020 11:47

Pulang Kosong

MASIH ingat KM Tanjung Perkasa? Kapal ini punya sejarah panjang…

Selasa, 14 Januari 2020 15:33

Bahaya Nyata Pariwisata Magnet Penarik Devisa

SEKTOR pariwisata di Indonesia dianggap sangat potensial untuk menjadi kunci…

Selasa, 14 Januari 2020 15:28

Mori dan Maratua

PUTRA Mahkota Abu Dhabi, Sheikh Mohamed Bin Zayed, mengungkapkan keinginannya…

Senin, 13 Januari 2020 15:13

Landmark Pak Edi

BAGI saya dan para kerabat, waktu 2 tahun dan 3…

Sabtu, 11 Januari 2020 11:43

Kapurung Harmoni

BANYAK teman saya asal Palopo, Sulawesi Selatan, yang sudah lama…

Senin, 06 Januari 2020 15:31

Permintaan Pak Camat

SAYA hampir lupa. Harian pagi Kaltim Post ternyata sedang merayakan…

Sabtu, 04 Januari 2020 12:12

Salto Ubur-Ubur

SESEORANG dengan gaya salto di Danau Pulau Kakaban tiba-tiba menjadi viral…

Kamis, 02 Januari 2020 11:06

Samarinda – Berau, dari 24 Jam Kini 12 Jam

PEKAN tadi, saya sengaja melakukan perjalanan darat dari Berau ke…

Kamis, 02 Januari 2020 10:49

Tikus Logam

ALHAMDULILLAH, hari pertama tahun 2020 diawali hujan, setelah hingar-bingar di…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers